14 December 2009

++ Biarlah ++

Biarlah senja pergi dan malam menemani,
Membawakan kegelapan yang menyelimuti;
Setidaknya dapat kulihat dengan seksama,
Indahnya kerlingan bintang nun jauh di sana.

Biarlah dunia diam ‘tak berucap kata,
Mengisyaratkan kesunyian ke mata jiwa;
Setidaknya dapat kudengar walau perlahan,
Denyut urat leherku penanda kehidupan.

Biarlah angin Barat dan Timur bertiupan,
Menusukkan belati bermata kedinginan;
Setidaknya dapat kurasa lembut membuai,
Kehangatan sapaan mereka yang berdamai.

Biarlah berlayar bahtera kesendirian,
Melawan arus manusia menenggelamkan.
Setidaknya dapat kugerakkan dengan bebas,
Nahkoda hidupku, ke alam yang ‘tak berbatas.

Biarlah.
Tidak apa-apa mereka seperti apa,
Bagiku sudah cukup di sini aku ada.
Dan dengan rasa ini aku pun bahagia.

Sydney Ashburner Street, 14 Desember 2009 00.59

11 December 2009

++ Percaturan hidup ++

Bagai papan catur hitam dan putih, itulah kehidupan,
Terdapat jalur yang lurus, adapula yang menyimpangkan.
Sering terhenti langkahmu oleh musuh yang menahan,
Kadang harus rela berkorban, agar ajang itu ‘kau menangkan.

Akan kah ‘kau sangka bahwa yang paling kecil nampaknya,
Bisa jauh lebih berharga daripada yang paling besar bentuknya?
Tahu kah ‘kau setiap langkah yang ‘kau ambil adalah sebuah taruhan,
Yan ‘kan tentukan hidupmu ‘kan berbuah kekalahan atau kemenangan?

Namun ingatlah, tidaklah bisa ‘kau anggap hidup sebagai permainan,
Yang bisa ‘kau menangkan dengan sekedar membaca buku panduan.
Dan janganlah ‘kau ikuti, walau mereka terkenal ahli dalam bidangnya,
Karena setiap manusia menjalani hidup yang berbeda.

Ingin ‘ku berseru kepadamu, hai kawan, pergunakanlah akalmu,
Pikirkanlah baik-baik, ke arah mana ‘kau inginkan hidupmu ‘tuk menuju!
Gerakkan bidak-bidak hidupmu sendiri dengan mengikuti kata hati,
Pada akhirnya, semua ‘kan ‘kau pertanggungjawabkan sendiri.

‘Tak ‘kan ada mereka di sampingmu, ‘tak kan mereka menolongmu,
Jika pada [analisa] akhir, ‘kau dapati dirimu kalah dan tumbang semua bidakmu.
Maka percayalah pada dirimu sendiri, dan raihlah kemenangan yang nyata,
Dengan bidak hidupmu yang berdiri, berat jika ditimbangnya.

Sydney Ashburner Street, 9 Desember 2009 00.53

01 December 2009

++ Emas ++

Bagaikan butiran-butiran logam mulia,
Bertebaran di seluruh pelosok dunia,
Terbenam dalam lumpur yang bertimbun, tanpa daya,
Tidaklah berharga bila hanya dipandang sebelah mata.

Itulah mereka, individu-individu kesendirian,
Menempuh dalam sunyi jalan kebenaran,
Di alur hidup yang penuh akan pencemaran,
Terasingkan, namun tetap mereka bertahan.

Biarlah… sudah damai hati melihat mereka ada,
Mengabdi dengan hati tenang dan bersahaja,
Mempersembahkan kepada dunia yang hampir ‘tak berwarna,
Setitik keindahan sejati yang [kini] sangatlah langka.

Tahukah, bila butiran-butiran ini dikumpulkan dan dileburkan,
‘Kan menjadi sebongkah emas yang indah berkilauan?
Dan dalam kemurnian, ‘tak ‘kan pernah mereka tunjukkan,
Setitik noda pun karat, hingga bersua kita dengan penutup jaman.

Karena itu, ingin hatiku 'tuk berkata,
Bersabarlah dan teruslah pantulkan cahayaNya,
Di manapun kalian berada...


30 November 2009, Sydney Ashburner Street 13.12

29 November 2009

++ Domba Berbintik Merah ++

Di suatu malam yang telah sunyi, terusik tidur seekor domba berbulu putih. Telinga mungilnya menangkap samar-samar suara, yang terdengar tidak biasa namun begitu memikat hatinya. Dengan mata setengah terbuka, dia melihat sekelilingnya; segerombolan domba yang berbulu putih lebat tertidur dengan pulasnya, seakan tidak ada resah maupun bahaya meliputi diri mereka. Rasa kantuk merayunya untuk membenamkan kepalanya ke dalam alam tidur sekali lagi, namun rasa penasarannya seolah menarik sekujur tubuhnya untuk mencari tahu, dari mana kah suara itu berasal. Perlahan dia beranjak dari peristirahatannya dan dengan satu hentakan kaki, dia melompati pagar kandangnya; meninggalkan tempat yang telah menjadi rumahnya [dan kaumnya] selama sekian lama.

Si domba putih terus berjalan, hingga lelah serasa mematahkan tulang kakinya dan berhentilah dia untuk beristirahat. Dia merebahkan tubuhnya di atas hamparan padang rumput, dan berselimutkan langit Subuh yang mulai menyingsing fajarnya. Selama hitungan beberapa hembusan angin, dia terdiam, memandangi alam terbuka yang teramat asing baginya. Sungguh, padang rumput terlihat sangat hijau tanpa batas dan pepohonan menjulang tinggi seakan menggapai langit. Semua adalah pemandangan yang tidak pernah dia lihat di dalam kandang sempit penghuniannya [dahulu].

Tersentak si domba putih dari lamunannya ketika seekor kijang muncul di belakangnya? Hai domba putih, dari mana asalmu dan mengapa kau sendirian? Si kijang menyapa dengan suara yang lembut. Si domba terdiam, tidak sepatah kata pun keluar dari tenggorokannya dan rasa takut terpancar dari sepasang bola matanya. Si kijang merasakan ketakutan si domba dan dia tersenyum kecil sembari berkata. Janganlah takut, hai domba putih, lihatlah, aku dan kamu adalah sama. Kita adalah binatang alam ciptaan Tuhan, tidak ada yang perlu ditakuti. Si domba menatap dalam-dalam si kijang dan setelah beberapa saat, dia menjawab. Tapi kamu adalah kijang, dan aku adalah domba! Aku mendengar dari domba-domba lainnya, bahwa kijang adalah binatang yang liar! Yang liar dan jahil, yang berkeliaran ke sana kemari tanpa kendali, tanpa tujuan!

Bukannya tersinggung, si kijang justru tertawa kecil. Oh domba putih, tahu dari manakah kalian, hidup kami para kijang? Kalian hanya mendengar kabar angin mengenai kami, tidak pernah kalian lihat sendiri dengan mata kalian seperti apa kami ini. Memang kami hidup bebas, dan itu tidak ada salahnya, karena kami tahu ke mana kami ingin pergi. Sedangkan kalian? Pagi, siang dan malam, kalian digiring oleh penggembala kalian; mengikuti saja dan tidak memahami makna dari setiap langkah kalian. Hidup kalian habiskan di balik kandang tanpa melihat hal-hal yang ada di alam terbuka! Apalah arti hidup, jika tidak bisa kamu tentukan sendiri ke mana arahmu pergi?

Si domba putih terdiam dan menundukkan kepalanya, seakan membenarkan perkataan si kijang yang pedas dan tajam. Dengan sedikit terbata-bata, dia membalas. Aku… aku tidak seperti yang kamu katakan! Aku di sini, karena aku mengikuti suara, suara yang memanggil-manggilku. Dan aku tahu itu jalanku!

Si kijang melompat-lompat kecil, memutari si domba yang masih terlihat sedikit takut dan bingung. Ho, jadi kamu juga mendengar suara itu? Aku tahu di mana berasalnya suara itu. Akan kuberitahu di mana kamu bisa menjumpanya, jika kamu berani! Kata si kijang, seolah menantang. Si domba, kini merasa tertantang, melompat dan menghentakkan kakinya dan berseru. Bawa aku ke tempat itu! Aku tidak takut sama sekali.

Tersenyumlah si kijang dan dia memutar badannya, membelakangi si domba dan berkata. Ikutilah aku, hai domba! Suara itu berasal dari bukit itu. Si domba tertegun dan dia menyahut. Hai kijang. Aku berasal dari penggembalaan barat dan aku merasa suara itu berasal dari timur. Dan arahmu sekarang bukan timur. Tentunya dirimu salah? Si kijang menjawab. Hai domba, suara itu tidak mengenal mana yang timur mana yang barat. Yang kutahu, mendekati suara itu sangatlah sulit, harus menempuh jalan yang mendaki dan sukar, tetapi bersabarlah!

Entah mengapa, keraguan dan ketakutan si domba hilang seketika. Yang ada di dirinya hanyalah keinginan untuk menapaki jalur yang akan menuntunnya ke arah suara itu. Dan bersebelahan dengan si kijang dia berjalan, menuju tempat suara itu berada, walau semakin jauh dia meninggalkan kampung halamannya.

Sungguh perjalanan ini tidaklah mudah bagi si domba, yang terbiasa hidup di balik kandang. Hidup bermalas-malasan dan hanya bergerombol menikmati sedapnya rerumputan hijau segar. Medan yang dia tempuh bersama si kijang penuh akan bebatuan dan sering dia tersungkur jatuh, sehingga tubuhnya memar oleh luka. Langit pun, yang semula bersahabat, mendadak menjadi angkuh dan mengguyurkan hujan ke seluruh tubuh dua binatang ini. Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya si domba merasa bahagia dalam kesukaran. Setiap tetes air hujan menyejukkan hati si domba; mungkin, karena dia tahu setiap tetes hujan adalah salah satu pewarna hidup yang dia lukis sendiri.

Di setiap langkah yang dia ambil, dia bersua dengan banyak hewan, yang berbeda bentuk namun serupa. Ada kala, dia bertemu kambing kecil yang tersesat kelaparan dan berbagi rumput untuk dimakan. Ada kala, dia bertemu kuda yang terbelit tali di lehernya, dan membantu melepaskannya. Dan si kuda pun akan bercerita tentang kisahnya, yang dikekang oleh manusia-manusia ‘tak berperasaan. Si domba pun hanya bisa terdiam, merenungi semua yang telah terjadi dalam hidupnya.

Setelah sekian lama, tibalah si domba di balik bukit tujuannya. Terkesima dia, melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Dan di sanalah dia mendapatkan suara yang dia dengar di kandang penghuniannya dulu; suara itu berbisik mesra, dalam hatinya, yang mengatakan bahwa dia merasakan kedamaian. Dia palingkan wajahnya untuk berterima kasih kepada si kijang yang menemaninya ke bukit kedamaian dan si kijang hanya bisa tersenyum lembut, sembari berkata. Adalah keniscayaan bagiku, untuk mengabarkanmu jalan menuju bukit ini. Dan kini mungkin adalah giliranmu, untuk mengajak kawan-kawanmu, agar mereka merasakan kedamaian yang kamu rasakan ketika kamu menapakkan kakimu di sini.

Si domba mengangguk dan dia pun berlari, menuju tempat dia berhuni dulu, untuk bertemu teman-temannya dan mengajak mereka untuk jalan bukit mendaki. Namun sesampainya di sana, hanyalah sedih menyelimuti hatinya, karena teman-teman lamanya menolaknya, bahkan mengolok-olok dirinya, yang sudah berubah banyak. Si domba, yang tubuhnya kini berhiaskan bintik-bintik merah bekas luka, hanya bisa berdiri di depan segerombolan domba putih yang tiada henti menghujatnya.

Satu domba menyeru. Hai kawan, lihatlah dia, berani sekali dia mengajak kita keluar dari sini. Tidak tahu kah dia bahwa di sini adalah tempat yang terbaik?

Satu domba lagi menyeru. Lihatlah dia! Bulunya kusut dan tubuhnya penuh akan bintik-bintik merah. Dia sudah tidak seperti kita! Dia sudah bukan anggota kita, domba putih berbulu lebat! Usir dia!

Satu domba lagi menyeru. Aku setuju! Jangan ikuti dia! Dia menyuruh kita meninggalkan tempat yang telah menjadi rumah kita selama sepanjang masa! Dia ingin kita tinggalkan rumah bapak ibu kita! Dia ingin kita berjalan susah mendaki bukit dan meninggalkan nyamannya hidup di sini!

Satu domba lagi menyeru. Hai, domba tercela! Enyah kamu dari sini! Kamu hanya ingin menyesatkan kami! Enyah! Enyah! Enyah!

Dan segerombalan domba tersebut berpaling dari arah si domba putih berbintik merah, dan berjalan meninggalkannya, mengikuti arah suara ketukan tongkat penggembala yang berdiri di kejauhan. Si domba berbintik merah hanya bisa mengucapkan kalimat perpisahan, semoga bahagia menyertai mereka.

Dengan kelapangan dada, kembalilah dia ke bukit mendaki; biarlah, dia menggumam. Walau hanya sendiri dan dengan status terbuang, setidaknya dia bebas menghentakkan kakinya, memilih sendiri jalan untuk hidupnya. Dan di setiap langkah kembalinya, dia berharap di bukit kedamaian di atas sana, akan bersua dia dengan mereka yang bernasib dengannya. Domba-domba dan mereka kaum yang terbuang, yang menemukan jalan mereka ke bukit kedamaian, dengan mendengarkan suara… suara hati mereka.

Sydney Ashburner Street, 27 November 2009 01:24

Note: gotta love my bro for giving me a link to this hilarious and somehow-connected-to-the-moral-of-this-story photo.

++ Kedamaian ++

Seandainya bisa, sesederhana,
Mengulum buah manis bergula,
Saat menyaksikan hari ditutup, lagi dibuka,
Seraya memilih: satu, tiga atau lima.

Seandainya bisa, sesederhana,
Berdiam pisahkan diri dari hiruk pikuk dunia,
Membuai jiwa dengan alunan sajak bernada,
Sembari memandang bulan terbelah tiga.

Seandainya bisa, sesederhana,
Menahan diri dari semua,
Setelah bulan terpenuhi bilangannya,
Dan menyempurnakannya tiga kali dua.

Seandainya bisa, sesederhana,
Mensucikan diri dari cinta dunia,
Setelah bumi sekali mengitari surya,
Dengan hitungan setengah dari tiga,

Seandainya bisa, sesederhana
Menghabiskan waktu bersama-sama,
Mengelilingi dunia jumlahnya empat dan tiga,
Di perawalan bulan penutup masa.

Seandainya bisa, sesederhana,
Membasuh gurun bernama dahaga
Dengan meneguk air penyejuk jiwa,
Dan menyelesaikannya dalam hitungan tiga.

Sesungguhnya semua terdengar sederhana,
Tapi aku tak bisa, aku tak bisa,
Menikmati Kedamaian seperti mereka,
Dan [mungkin] ‘kau katakan aku ‘tak ‘kan bahagia.

Ah biarlah kurangkul dengan cara yang berbeda,
Mungkin ‘kau akan berkata, tidak sewajarnya
Tahukah, aku tidak ingin menjadi apa-apa,
Hanyalah sederhana, namun lebih dari biasa…

Menerangi gelap hidup dengan setitik cahaya,
Membuat belengu-belenggu itu tiada,
Membuat tangisan lapar ‘tak lagi bersuara,
Dan tersenyum menyampaikan kabar benar apa adanya.

Beginilah aku, sekian dari jutaan manusia,
Menjalani hal-hal secara ‘tak biasa,
Yang mungkin bagimu tidaklah sempurna,
Tapi ini cukup bagiku ‘tuk bahagia.


Sydney Ashburner Street, 3 November 2009 21:48

++ Hanyalah Sebuah Cerita ++

Izinkan aku tuturkan sebuah cerita,
Tentangnya, yang termahsyur di seluruh dunia,
Terkagum semua, baik lelaki mau pun wanita,
Karena sesungguhnya, tiada yang lebih mempesona.

Pagi, siang dan malam berelu-elulah mereka,
Di antaranya melantunkan tembang-tembang cinta,
Dan di antaranya menuliskan sajak-sajak tiada habisnya,
Tentang keindahannya yang ‘tak terungkap oleh kata,


Namun tahukah ‘kau, apa yang dia rasa?
Tidaklah dia bahagia, hanyalah merana,
Karena sendiri walau dipuja oleh semua,
‘Tak satu pun mengerti yang ada di dirinya.

Ada kala, satu dua mencoba mendekatinya,
Hanya berbekal ketulusan, dan sedikit harta,
Untuk mengenalnya, sebagaimana dia apa adanya,
Sayang hanyalah terasingkan mereka, dan tercela…

Dan hilang lah pecinta-pecinta sejati dari hidupnya,
Kini terduduk dia, merasa sendiri saja,
Walau dikelilingi oleh beribu-ribu manusia,
Yang tiada henti memuja-mujanya.

Sembari meneteskan air mata, dia berkata:

‘Tak perlu ‘kau tuliskan sajak beribu-ribu jumlahnya,
‘Tak perlu pula ‘kau nyanyikan tembang-tembang ‘tak bermakna,
Yang aku inginkan hanyalah sentuhan ‘tuk benar-benar dibuka,
Dan dimengerti sehingga menembus jantung dan jiwa.

Namun tiada di antara mereka yang mendengar rintihannya,
Dan dalam kesendirian dia habiskan hidupnya,
Menunggu dan menunggu, agar kelak berubah nasibnya,
Mungkin ‘tak kan terjadi hingga tiba penutup masa.

Sydney, 18 November 2009 23:08

++Orang Mulia ++

Katakan padaku, apakah definisimu akan orang mulia?

Apakah Mereka yang bersembunyi di balik jas putih,
Berselimutkan aroma obat-obat yang menusuk hidung,
Dan menidurkan jemari Mereka di atas urat nadimu?

Kudengar nyanyian indah bahwa Mereka adalah penyelamat nyawa manusia;
Sebagian dari ilmu Mereka sembuhkan sakit yang tiada tara, katanya.
Namun mengapa rintihan sumbang realita tunjukkan hal yang berbeda?

Kulihat banyak yang tergelatak ‘tak berdaya,
Bahkan ‘tak sedikit yang tragis menemui ajalnya!
Menantikan pertolongan yang ‘tak kunjung tiba…

Tahukah kamu apa yang kulihat?
Banyak dari Mereka yang enggan mengulurkan tangannya,
‘tuk melayani para rakyat jelata yang ‘tak berharga!
Dan tertera harga tinggi ‘tuk membayar jasa ‘kemanusiaan’ Mereka,
Sehingga kesehatan menjadi komoditas eksklusif bagi mereka yang berharta!

Orang mulia… Apakah Mereka yang terduduk di kursi-kursi konstitusi,
Membenamkan kepala di balik tumpukan buku Undang-undang,
Dan tentukan aturan-aturan yang melandasi hidupmu?

Dijunjung tinggi sebagai pendiri sistem keadilan,
Berjuang menegakkan kebenaran dan memberantas kezaliman.
Namun mengapa yang berserakan sampah-sampah kebusukan?

Kulihat banyak yang tidur beralaskan aspal, berselimutkan polusi perkotaan,
Sebagian [besar] dari mereka tersungkur, tertusuk belati kelaparan,
Dan bertanya lah mereka, adakah yang memperjuangkan untuk kami keadilan?

Tahukah engkau apa yang kulihat?
Terbungkam mulut Mereka dengan segepok uang kertas,
‘tuk membisukan penindasan terhadap kalangan bawah yang terampas hak-haknya.
Dan Mereka panjangkan tangan Mereka ke kantong pembangunan masyarakat,
Sehingga pilar-pilar keadilan pun rapuh dan hancur bersatu bersama puing-puing kemanusiaan!

Orang mulia, tetap kucari… apakah Mereka yang terdiam di pojok bangunan Illahi,
Menggenggam untaian bulir-bulir sembari gerakkan bibir tiada henti,
Dan membaca lagu-lagu surgawi di ujung dan pertengahan hari?

Tertunduk kepala kita dan elu-elukan Mereka kaum yang suci,
Perantara antara dunia ini dan dunia nanti yang patut diikuti,
Namun ah, sayang, Mereka ‘tak berikan kedamaian hati yang sejati.

Kulihat banyak manusia mengungsikan diri dan hidup dalam ngeri,
Akibat dari kelompok-kelompok yang menghunus pedang dan belati,
'Tuk membasmi perbedaan pemahaman dan ideologi.

Tahukah engkau apa yang kulilhat?
Tirai demi tirai yang berlapis-lapis tutupi pandangan dan hati Mereka,
Bersibuk diri dalam pengasingan duniawi kala banyak yang membutuhkan pencerahan jiwa.
Dan sering Mereka memalingkan pandangan kepada anak-anak jalang dan wanita tanpa susila,
‘Tak bukakan hati, namun katakan mereka 'kan menjadi bahan bakar api di alam sana.

Ah, siapakah Mereka yang memberi harga kepada nyawa manusia?
Siapakah Mereka yang menerima bayaran untuk menghancurkan keadilan?
Siapakah Mereka yang menakar nilai dan menentukan nasib manusia di alam sana?

Kawan, mengapa yang ada hanyalah gelumbung-gelembung fana,
Berterbangan di dalam dunia yang ‘tak lebih dari bualan belaka?
Beritahulah aku, dapatkah engkau pertemukanku dengan orang mulia?


Sydney (UTS Computer Lab Building 2 Level 6), 2 November 2009 16.21

++ Abdi ++

Tahukah engkau [jalan] peng-abdi-an?

Bukanlah bertekad mati ‘mulia’ di bawah bendera pembelaan,
yang sebenarnya pemerangan terhadap mereka yang ‘tak sama;
Bukanlah lantang nyanyikan lagu pengobar semangat,
yang maknanya ‘tak sedikit pun engkau serapi dalam hati;
Bukanlah berapi-api ikrarkan rasa banggamu,
yang ‘tak kunjung terwujud dalam serpihan pun tindakan;
Bukanlah menempuh perjalanan ‘tuk berkumpul dengan kaummu,
yang ‘tak dibekali oleh ilmu dan tujuan yang pasti;
Dan bukanlah berbalut seragam penunjuk identitasmu,
yang sebenarnya adalah warisan nenek moyang pendahulumu.

Tahukah engkau [jalan] peng-abdi-an?

Adalah kerelaan untuk tapaki Jalan Hidup penuh liku dan pengorbanan:
Kebulatan tekadmu ‘tuk berbasuhkan keringat dalam segala upaya,
‘tuk membebaskan mereka yang tercekik rantai perbudakan;
Keikhlasanmu ‘tuk membagi hasil kebunmu ketika ranum berbuah,
‘tuk diberikan kepada mereka yang menjerit-jerit kelaparan di luar sana;
Kedermawananmu ‘tuk selalu tersenyum dan membuka pintu hatimu,
‘tuk memberikan kenyamanan kepada mereka yang ‘tak mengenal kasih sayang orang tua;
Kesediaanmu ‘tuk telusuri jalur sunyi nan gelam dengan lilin di tanganmu,
‘tuk terangi jalan bagi kaum terbuang yang hampir terputus harapan;
Dan tekad ‘tuk ‘tak tumbang dan senantiasa berteduh dalam naungan kesabaran,
ketika badai kesangsian dan gemuruh hujan hujatan menghadang jalanmu.

Itulah peng-abdi-an.
‘Tak membeda-bedakan antara warna, negara, maupun kepercayaan;
Namun dipersembahkan kepada seluruh umat manusia,
Dan semua makhluk yang diciptakan olehNya.


Sydney (UTS Computer Lab Building 2 Level 6), 2 November 13.32

30 October 2009

++ Puppets ++

Puppets...
Tied by the strings of old traditions,
Controlled by shadows of the past,
Dancing along some foreign tunes,
Moving endlessly and unaware of,
The meanings of their existence...

And puppets are just puppets,
Such are slaves to their [unknown] masters,
Living not a world of their own,
But a play filled with irony and hypocrisy,
Where silence and blindness are the themes...

When the strings are cut, tell me,
What will become of these puppets?
Will they move on their own,
or will they be without power,
For none will determine for them?

So tell me, what will become of us?
The puppets... in a play we call -life-.

Sydney, 30 Oktober, 22:18 pm

++ Their Tale and Mine ++

It began when the wanderers of the desert,
Heard from the cold whispering wind,
A great tale distorted, of a noble prince,
Who once reigned over an ancient land.

Thus it was out of their [selfish] desire that,
It was eternalised by ink on paper,
To entertain the mind of the unlearned ones,
and be hailed the men of honor and knowledge.

Truly their pens defied them not,
For the written fascinated not just one or two,
But the whole kingdom and its neighbour,
And it became life for those who purchased it.

Ah, can they not see! They live by the tale,
Unaware that their present is just the past revisited?
And the future remains an empty canvas,
For the same colour to be repainted over.

Ah, can they not see the mirage from the oasis?
They wish to become the beloved prince alike,
But the tale they live is [truly] one of the fallen warriors,
From an enemy kingdom, disguised as the noble prince.

Woe, what then becomes of me?
I desire to paint over my life a thousand other colour,
To write my own tale with my heart as its ink,
My reason its paper and my belief its binder.

You see, I'm different from them - and perhaps, you,
Will you then brand rebel upon my forehead?
Will you severe my hands so I write not my own life?
Will you blind my vision so I find not my own path?

Do you know? I just wish to be me.
Leave me be.

Sydney, 22 Oktober 2009, 11.34

15 October 2009

++ My Way ++

You may frown and be bewildered by my ignorance,
For I deny -your- version of truth and reality!
You may condemn me and brand me a rebel,
For I object to be shackled by the traditions of our forefathers.
You may belittle me and say that I’m an untutored youth,
For I seek not the knowledge from the elitists.
You may spit on my face and shun me for my difference,
For I would rather be an outcast than living in a world of hypocrisy!
You may ridicule and laugh at the sealing of my lips,
For I wish not to utter what you utter; nay, unless with an understanding!
You may laugh and disregard me for my deafness,
For I choose to not listen to the idle tales of the past.
You may disgrace me and treat me like a criminal,
For I refuse to be confined behind a barrier you have imposed upon me.

Nay, nothing you do will ever change my way.
I have discovered what it is that adds to my life.
It’s not about having my existence painted in black and white,
It’s not about facing towards the East or the West,
And surely it’s not about being uniform from head to toe.
It is about striving for what I truly believe in,
And walking the path I have chosen for myself.
By the passage of time, to you I shall declare:
I am who I am and never will I be like you!
Nor will I submit to your criterion of life,
To you be your Way, and to me Mine.

Sydney, 14 Oktober 2009 (01:23)

19 August 2009

++ ... ++

++ Putus ++

Selama masa berjalan bersama,
‘Kutahu irama kita terdengar berbeda,
Namun aku mencoba mengingkari semua,
Yakinkan diri bahwa engkau dan aku adalah sama,
Walau hati kecilku samar berkata… hari ini akan tiba.

Kini di depan persimpangan kita berdiri,
Kugenggam tanganmu, mengira jalan yang sama ‘kan kita tapaki
Tapi perlahan, tanganku engkau lepaskan,
Berkata t’lah engkau tetapkan hati ‘tuk ‘tak mengikuti,
Takdirmu ‘kan engkau ciptakan sendiri.

Dan engkau pun langkahkan kaki ke jalan itu,
Hasrat hatiku ‘tuk meraih tanganmu, menghentikanmu,
Karena ‘kulihat jalanmu berawan kelabu,
Tapi ‘ku ‘tak kuasa, kala kulihat senyum di bibirmu,
Seolah katakan semua adalah yang terbaik, untukmu…

Ah, satu tali terputus sudah,
Dan aku ‘tak berdaya untuk merubah,
Dunia kita yang menjadi dua, terbelah…
Terjadi begitu saja, kala semua terasa begitu indah,
Dan ‘ku kira kita ‘tak ‘kan pernah berpisah.

Kini engkau pun beranjak pergi,
Namun percayalah, aku ‘kan tetap di sini,
Penuh harap, aku ‘kan s’lalu menanti,
Saatnya engkau datang kemari,
Dan menyambung tali yang t’lah engkau putuskan kembali.

Dan apa pun jalanmu, keputusanmu,
Aku ingin engkau tahu, ‘tak ‘kan berubah rasaku padamu,
Karena engkau adalah bagian dari hidupku,
Dan kuyakin masih tersisa tali pengikat kita, walau hanya satu,
Yang ‘tak ‘kan pernah terputuskan oleh waktu.

Sydney (UTS Market Building 5 C1.27) 19 Agustus 2009 11:23

PS: Tidaaak, aku tidak putus dengan siapa-siapa kok hahaha

18 August 2009

++ Postingan Lagiii ++

Semoga tidak bosan dengan jumlah sajak yang kuterbitkan bulan ini haha... benar-benar bulan yang penuh akan inspirasi :D

++ Si Kembang Kota ++

Pernah ‘kau ungkapkan dengan penuh asa,
Hasratmu tersirat kepada sekuntum kembang desa,
‘Tak terjamah oleh tangan telanjang mereka,
Bersih, tanpa setitikpun noda,
Tumbuh berkawan dengan alam yang mesra,
Jauh dari dunia –yang ‘kau nyatakan-, penuh akan cela,
Ah, dia begitu sederhana nan bersahaja,
Hanyalah kelembutan terpancar olehnya,
Semua bagimu, sangatlah mempesona.

Sedangkan, ‘tak terlontar darimu sepatah kata pujian,
Teruntuk si kembang kota yang tumbuh di pinggir jalan.

Si kembang kota, tidaklah ia biasa:
Kepulan asap dan debu adalah udaranya,
Limbah hitam pekat adalah mata airnya,
Lampu-lamu gegap pempita adalah cahayanya,
Kebisingan jalanan adalah musiknya,
Semua… meresap ke serat-serat tubuhnya,
Cemari tangkai, daun, serta kelopaknya,
Dan di matamu tiada pesona dalam diri si kembang kota,
Merekah pun, -‘kau katakan-, dini dan bukan oleh cinta…

Namun, pernahkah ‘kau perhatikan,
Hidup si kembang kota yang penuh akan perjuangan?
Menggigil kedinginan, terhempas angin malam yang bertiupan,
Basah seluruh badan, terguyur deras air hujan,
Kering kepanasan, terbakar terik mentari 'tak berselimutkan awan,
Getir kelaparan, terpuaskan hanya oleh sampah-sampah busuk yang berserakan,
Sesak kelemasan, tercekik debu-debu yang berterbangan,
Remuk kelelahan, melawan banjir yang sarat akan kotoran.
Semua dia jalani, tanpa berteduh di bawah rindangnya pepohonan…

Dan pernahkah maknanya ‘kau renungkan,
Setengah patah tandannya, namun tetap ia bertahan,
‘Tak hijau daun-daunnya, namun warna tetap ia lukiskan,
Seakan layu kelopaknya, namun harum tetap ia tebarkan,
Rapuh tangkainya, namun tetap ia menyangga ‘tak tergoyahkan,
Semua adalah bukti keteguhan dan ketabahan,
Si kembang kota yang dalam kesendirian, kesepian..
Terus hidupi dunia yang bergelimangan akan kekerasan.

Ah, biarlah sekuntum kembang desa memikat semua…
Pancarkan pesonanya, yang sebenarnya, biasa-biasa saja.
Si kembang kota bukanlah ‘tuk keindahan semata,
Yang ‘kan ‘kau petik ‘tuk manis bersandar dalam vas kaca,
Takdir si kembang kota t’lah berkata,
Hidupnya ‘kan sarat akan derita, tapi bukan tanpa makna,
‘Kan ia berikan, setidaknya, setidaknya…
Setitik keindahan di alamnya yang hampir ‘tak berwarna,
Itu cukup, untuk membuatnya bahagia.

Sydney (Ashburner Street), 18 Agustus 2009 15:12



++ Siapa, Dirimu? ++


Siapakah sosok, yang berdiri di hadapanku?
Wajah yang ‘tak asing, namun seperti baru bertemu,
Semakin ‘ku mencoba ‘tuk mencari tahu,
Semakin ‘ku ‘tak mengerti siapa dirimu,
Apa inginmu, apa mimpimu, apa tujuan hidupmu…
Apakah semua tentang dirimu,
Yang [kukira] ‘kutahu, tertulis dalam kisah masa lalu,
‘Tak lebih dari bayang-bayang semu?
Dan kutemui, sosokmu yang begitu kukagumi dahulu,
Hancur menjadi serpihan debu, hilang tersapu oleh waktu.

Ah siapakah… Dirimu?

Sydney (Ashburner Street), 18 Agustus 2009 20:45

14 August 2009

++ Pertengahan Agustus ++

Hewf, bulan ini ternyata diriku lumayan produktif dalam menulis sajak. Baru minggu yang lalu menerbitkan beberapa sajak, kini hadir lagi dengan beberapa yang baru. Entah apa yang menjadi inspirasiku, mungkin karena menjelang hari kemerdekaan Indonesia (haha). Ah entahlah, yang penting diriku senang ^_^. Catatan: aku tidak mengaku sajak 'Bukan Sahabat' sebagai karyaku. Aku sertakan di sini karena sajak 'Hidup' merupakan tanggapanku yang kuberikan kepada sang penulis tentang sajak 'Bukan Sahabat'-nya :D.

++ Sonata Yang Terlupakan ++

Ingatkah ‘kau,

Dahulu sering teralun sebuah sonata?
Terpatah-patah ‘tak berirama,
Nada-nada sumbang terselip dalam langkahnya,
Menyiratkan hati yang hampa,
Kala rembulan sendiri bercahaya.

Di sana ‘kau, berdiri dekat menemani,
Walau ‘kutahu ‘ku jauh dari hati…
Tersenyum lembut bibirmu, seolah menikmati
Setiap dentingan tercipta oleh gerak jemari,
Namun sayang, makna yang ada ‘tak pernah ‘kau mengerti.

Pernahkan ‘kau tahu, sonata itu,
Ungkapkan suara hati yang membisu?
Rinduku jika tiada ‘kau di sisiku,
Laraku ‘tak kuasa ‘tuk menggenggam tanganmu,
Hasratku ‘tuk jadikan hatimu dan hatiku, satu.

Tiada henti sonata itu ‘kualunkan,
Berharap ‘kau ‘kan tangkap makna yang tersimpan,
Dan kita pun duduk berdampingan, di depan piano kenangan,
Bersama nada-nada indah kita mainkan,
Tertulis dalam sebuah sonata cinta yang ‘tak terlupakan.

Namun musim demi musim berganti,
‘Tak lagi bersemi, atau hangat bersinar sang mentari,
‘Kau pun beranjak pergi, walau tetap di sini
Dan walau ‘tak ingin, dalam sendiri ‘kusadari,
Semua ‘tak ‘kan menjadi lebih dari sekedar mimpi…

Perlahan sonata itu ‘kutinggalkan,
Tersamar tenggelam oleh arus waktu yang terus berjalan,
Kini ‘kutemui piano tercinta terduduk di sudut kesunyian,
Seolah lirih merintih dalam kesendirian,
Memintaku ‘tuk sekali saja alunkan sonata kenangan.

Hanya tertegun, jemariku terdiam membeku,
Karena sonata tentang kita, t’lah terlupa olehku,
Hilang terkubur dalam puing-puing masa lalu,
‘Akhirnya ‘kutahu, dan ‘ku ingin ‘kau pun tahu,
Terkikis habis sudah rasaku padamu…

Dan kepada piano aku berbisik merayu,
“Izinkan jemariku telanjang menyentuhmu,
‘Tuk alunkan untaian nada-nada baru”
Bukan, bukanlah sonata tentang rasaku padamu,
Namun untuknya, yang kini penuh mengisi penuh hatiku.

Dan semoga, semoga…
‘Takkan menjadi sonata yang terlupakan.

Sydney (Ashburner Street), 14 Agustus 22:07


* Terima kasih kuucapkan untuk Janice, karena sajaknya 'Memory Sonata' telah menginspirasiku untuk menulis sajak di atas. Bukan menjiplak lho...

++ Luka ++


‘Kau ukir dirimu di sekujur tubuhku,
Perlahan berdenyut iringi semilir masa lalu,
Ingatkan saat-saat ‘ku terjerembab dulu.

Meski terbasuh dirimu oleh aliran sang waktu,
Tetap, ‘tak ada di dirimu malu atau secuil ragu,
‘Tuk ‘tak beranjak, ‘kau tetapkan di sinilah hadirmu.

Terdiam bisa, ‘kau buat kata ‘tak manis kembali terngiang,
‘Tak bergeming, ‘kau getarkan nada kepedihan yang sumbang,
Tersamar rupamu, ‘kau ‘tampakkan saat terlalu pahit ‘tuk dikenang.

Dari semua, dalam ‘kau gali lubang di hati,
Yang ‘ku yakin, bukan sakit yang ‘kan terberi,
Namun ruang ‘tuk menampung kebahagiaan kala esok menanti.

Sydney (Stasiun Central, Bus 437), 11 Agustus 2009, 08:57


++ Suara ++

Terima kasih, Suara
Meski hadirmu ‘tak teraba,
Namun tetap lah ada dan nyata,
Berdengung berirama dalam telinga,
Sesaat tiadakan sakit yang menyiksa,
Walau kemudian tersapu desis ombak ‘kau kan sirna,
Dan sunyi kembali hembuskan nafasnya,
Tetap lembutmu tersisa, tenangkan jiwa,
Hingga esok pagi pancarkan cahaya,
Dan sakit ‘tak lagi terasa…

Sydney (UTS CB02.4.10), 10 Agustus 2009, 20:32


++ Bukan Sahabat ++

Hidup, bukanlah sahabat..
Tahukah kau, terlahir dengan sendirian?
Tertatih kau terjatuh terjerembab dan mulai berjalan,
Kelu lidahmu ungkapkan kata-kata yang tidak biasa.

Saat kau harus mengenal orang-orang di luar sana,
Tidak semua tersenyum padamu,
Bibir pahit dan kernyit dahi tak luput sebelah mata memandangmu..

Terlebih kau yang lemah,
Ketika kau dipaksa mengatakan ya, dan inginmu adalah tidak!
Sistem busuk kau masuki, dengan harapan kau kan merubahnya,
Prinsip-prinsipmu harus kau pertaruhkan demi -yang kau katakan- masa depanmu
Yang lain, berarti bagimu, namun bukan segalanya..

Tak berbeda, cuaca dingin memaksamu mengenakan mantel itu,
Panas yang membuatmu telanjang dada,
Dan hangat yang membujukmu tuk tidur dalam peluknya,
Semua dengan kejamnya memaksamu..
Berbuat, seperti kehendak mereka..
Masihkah kau menganggapnya hidup adalah sahabat?

Fajar Rochadi, Makassar, 5 Agustus 2009 22:28 WITA


++ Hidup ++

Hidup seorang manusia,
Berawal dari perpaduan kasih antara lelaki dan wanita...

Tidaklah 'kau sendiri kala pertama membuka mata,
Karena terbaring di sampingmu adalah Ibunda,
Yang t'lah berjuang menahan sakit tiada tara,
'Tuk memperkenalkanmu kepada dunia,
Walau berbasuh keringat, tetap bahagia terlukis di wajahnya,
Dia tumpukan 'kepada masa depanmu sejuta asa,
Kelak, semoga hidupmu 'kan membuat semua takjub dan bangga.

Tertatih kala 'kau pertama berjalan.
Tetapi semua hanyalah sebuah perawalan,
Seperti merpati yang terus terjatuh, namun bertahan,
Kala tiba sayap terkepakkan, tinggi ia membelah awan,
Esok hari 'kau dapati dirimu berlari 'tak terhempaskan,
Mengejar harapan yang berkilauan, dengan senyuman.

Lidahmu kelu ungkap kata jarang berkawan dengan telinga,
Namun tidakkah 'kau merasa bermakna,
Dengan lidah 'kau bisa ungkapkan semua yang tersimpan dalam dada,
Lirih, lembut, mesra dapat 'kau ucapkan kata-kata,
Dan juga senandungkan indahnya nada-nada,
Yang dapat membuat seseorang, tersenyum bahagia?

Dan beranjak ‘kau tumbuh dan mengenal mereka,
Ya, beberapa kernyitkan dahi dan pandangmu sebelah mata,
Bukan karena ‘kau ‘tak berharga, hanya berbeda,
Dan hati mereka belum bisa terima hal yang ‘tak sama,
Namun berbeda, bukanlah hal yang tercela...
Kepada mereka yang seragam ‘kau berikan setitik warna,
Karena ‘kau memiliki pesona yang ‘tak biasa,
Bertahanlah, tataplah mereka dengan tulusnya cahaya,
Hingga esok ‘kan tiba saatnya,
Warnamu ‘kan lukiskan pelangi di kanvas wajah mereka.

Terik mentari ‘tak memaksamu telanjang dada,
Tidakkah terpikir bahwa panas izinkan kita ‘tuk mencerna,
Diri kita seperti kala terlahir apa adanya,
Tanpa kain penutup yangs sering berdusta,
Seakan berkata ‘kau hanya bisa indah dengannya?
Sejenak dapat ‘kau lihat tang dahulu ‘tak kasat mata,
Bahwa tiada dalam dirimu ketidakindahan raga,
Dan olehNya ‘kau diciptakan sempurna.

‘Kau nyatakan ‘kau berbalutkan mantel karena dingin memaksa,
Ah, pernahkah terbesit olehmu sekali saja,
Seseorang yang entah di mana beradanya,
Menjahit benang demi benang ‘tuk mencipta,
Mantel yang ‘kan menemanimu kala dingin menyiksa?
Hangat yang ‘kau rasa, lebih dari kain penutup raga,
Namun hangatnya jerih payah seseorang yang nun jauh di sana…

Sistem-sistem busuk bergelimangan, berserakan,
‘Kau lihat materi kalahkan kejujuran,
Karena itu lah, hidup memberimu sebuah peran,
Peran, bukan tanpa makna, namun penuh akan kehormatan,
Untuk menata dunia yang penuh ketidakadilan,
Merubah agar masa depan lebih berkilauan.

Namun ‘tak hanya sendiri ‘kau berjalan,
Bersama banyak orang dengan berbeda keinginan,
‘Kan ‘kau temui hatimu menolak kala setuju satu-satunya jawaban,
Tidaklah gampang, dan penuh akan pengorbanan,
Terkadang keingingan pribadi harus diikhlaskan,
Bukan, bukanlah kelemahan, namun hati berbekal kekuatan,
Dan di situlah ‘kan ‘kau dapatkan makna kehidupan...

Aku hanya bisa menjawab dengan beberapa patah kata:
Hidup bawakan hal-hal yang sangat berharga,
Semua yang sering kita lewatkan begitu saja,
Karena kita terlalu bertumpu pada pedih dan luka yang terasa…

Bukan, bukan, hidup bukan sahabat semata,
Karena kita dan sahabat, dua hal yang ‘tak sama,
Berjalan sendiri dalam raga yang berbeda,
Namun hidup, ‘tak terlepas dari kita,
Karena tanpa hidup, kita tiada.

Sydney (Ashburner Street), 6 Agustus 2009, 5:05pm

04 August 2009

++ Pembuka Bulan Agustus ++

Hanyalah sajak-sajak yang tertulis bulan ini di Sydney yang 'tak kunjung menghangat...

++ Senandungnya ++


Angin malam bisikkan samar suaranya,
Sang biduan di pulau nun jauh di sana,
Senandungkan lagu, curahkan isi hatinya,
Kisahkan cintanya yang bergelimang duka dan lara...

Ah, indah namun sedih yang terdengar oleh telinga
Bait-bait yang terangkai tunjukkan ketabahan hadapi semua,
Namun tetap, bergetar dengan nada sumbang suaranya,
Tandai rasa putus asa dan hausnya akan cahaya...

Aku hanya bisa terdiam tanpa kata
Ah, rasa apa ini yang menusuk dada?
Apa kah 'ku teringat akan pedihnya luka lama?
Entahlah, sakit rasanya, namun tetap 'ku terkesima

Dan menahan tangis 'ku 'tak kuasa,
Wahai biduan yang 'tak nampak oleh mata,
Apakah masih perih dalam dada,
Luka yang dalam tertoreh olehnya?

'Tak berdaya diriku 'tuk melakukan apa-apa,
Hanyalah membisikkan kepada angin malam sebuah nada,
'Tidaklah merdu, namun 'ku berharap cukup 'tuk melipur lara,
Untukmu, biduan yang jauh di sana...

Semoga 'kau dapatkan yang 'kau rindu, cinta
Penuhi hatimu, sehingga 'tak lagi hampa,
Sehingga untukmu langit 'tak lagi senja,
Dan akhirnya 'kau temui dirimu bahagia...

Sydney, 5 Agustus 2009, 14: 05pm


++ Bilik Kedamaian ++

Kutemukan diam bersembunyi,
Oleh mata acuh memandang, hampir terlewati…
Bagian kecil dari bangunan yang angkuh menjulang tinggi
Namun tetap 'tak bergeming, setia ia berdiri
Seakan tersenyum, memanggilku yang berjalan sendiri
Dan perlahan, namun 'tak ragu ‘ku menghampiri

Berderik lirih, seakan merintih dalam sepi
Kala kubuka pintu penghubung dunia kini dan nanti
Nyaris sunyi, 'tak banyak yang mengunjungi
Yang terlihat dapat dihitung oleh jemari:
Mereka yang berbalutkan gaun putih suci
Atau yang lelap terbuai dalam alam mimpi

Namun bilik kecil itu bukanlah tanpa arti
Di sana lah tenang dan damai menyelimuti
Sejenak 'ku dapat memisahkan diri
Dari kebisingan yang memekakkan sanubari
Dan bersenandung, meski hanya dalam hati
'Tuk syukuri semua indah yang t'lah terberi

Di sana jua 'ku menjumpa mereka
Walau berbeda dalam warna dan rupa
Namun berjalan menuju arah yang sama
Saling sejukkan hati sesama
Dengan suara yang lembut tulus menyapa
“Semoga engkau damai dan sejahtera”

Dan diam 'ku terduduk dalam alamku bahagia
Cermati makna yang ada, nikmati semua cinta
Sembari mendengar pelan namun jelas nan merdu suara
Kaum pemimpin, di balik tirai pemisah beradanya
'Tak tergapai oleh tangan, 'tak nampak oleh mata.
Namun alunan surgawi mereka hangat menyentuh jiwa

Ah, semoga hangat ini 'tak kan sirna dari hati
Meski 'ku harus melangkahkan kaki
Beranjak pergi dan sedikit berberat hati kembali
Ke dunia yang terus melaju tiada henti
Dan menemani, sehingga 'tak merasa diriku sepi
Kini, esok dan hari-hari yang tengah menanti…

Sydney, 4 Agustus 23:49

***

Hmmm sembari mengetik-ngetik sajak di atas, aku menemukan beberapa sajak yang tertulis duluuuuu dan belum sempat diterbitkan di blog ini.

++ Untuk Alam ++

Suatu pagi aku berlari
Untuk lepaskan gundah di hati
Walau dingin aku ‘tak peduli

Dan terhenti aku di pesisiran
Disana kurasa ‘kan dapat jawaban
Kepada sang alam aku serukan

Wahai ombak yang ‘tak lelah berdebur,
Dapatkah engkau bantu ‘tuk menggempur
dinding tempat sanubari terkubur?

Wahai karang yang kokoh berdiri
Dapatkah engkau lindungi dari,
badai yang menerpa lubuk hati?

Wahai angin yang berhembus pelan
Dapatkah engkau tiup-sirnakan,
kabut yang kelabungi pikiran?

Wahai burung yang berkicau merdu
Dapatkan engkau nyanyikan aku,
sebuah tembang pelipur rindu?

Wahai pinus yang elegan melambai
Dapatkah hati ini engkau belai,
‘tuk obati lara kasih tak sampai?

Wahai langit yang berselimut biru
Dapatkan engkau gunakan kuasmu,
‘tuk mewarnai hidup yang kelabu?

Wahai laut yang indah berkilauan
Dapatkah cermin airmu pantulkan,
apa yang tersurat di masa depan?

Dalam gelisah aku berdiri
Namun mereka terdiam sunyi
‘Tak berikan jawab yang ‘kunanti

Dan lirih aku tangisi
Diriku yang kini sendiri

Sydney, 12 February 2009

++ The Two Voices ++

Listen to the voice deep within
once said a dear friend of mine
But when two are fighting to win
I know life will not be kind

One voice I hear, a devil’s whisper
He utters words as cold as snow
with his tongue that stabs like a dagger
It makes my heart bleed in sorrow

Into my soul he breathes cold despair
It suffocates me, I’m left with no air
No one loves you, that I often hear
I lament as I feel the end is near

Then I hear a voice of a saviour,
that forever I have longed for
He tells me I am a warrior
whose life is worth fighting for

He praises me when I grow smaller
and give me the love I often lack
He paints my heart with a thousand color
as soon as it is turning black

This I always wonder, who should I listen?
The devil who drowns me in the darkness
or He who lifts me to the highest mountain?
The answer is for me to find within

Today I lost a great battle
The devil trapped me in a world of despair
There I will forever settle
Then again, I don’t think anyone will care

As I begin to fall apart
I hear one singing a song of love
so beautiful it warms my heart
and I feel I can fly high above

I may only hear the song faintly
but I know, he sings it for me
With a smile I can now say
Tomorrow will be a good day

Sydney, 2007 (lupa kapan nulisnya @.@)

01 July 2009

++ K ++

++ Kata ++


Indonesian (Original)

Adalah sebuah kata
Yang lama t'lah berkawan dengan telinga
Sering kali tertukar artinya, bahkan terlupa
Namun bagiku, pemberi hidup sebuah makna

Kala terucap, indah terdengar bagai alunan biola
Tandai diriku 'tak sendiri saja
Walau begitu, tetaplah menyayat jiwa
Karena 'kutahu ada -satu- yang tiada...

Kata, yang semasa waktu mentari berpijar
Hingga rembulan lelah bersinar
Hanya dapat terlontar
Dengan dia dan mereka di sekitar

'Tak pernah tertutur, kala ada engkau dan aku
Di sini hanyalah aku bersama diriku
Dan di sana engkau pun begitu
Tiada masa 'tuk 'kau dan aku bertemu

Namun tetap sepenuh hati 'kuberharap
Tiba suatu saat untuk 'ku mengucap
Kata, dengan penuh rasa, cita dan makna
Kala 'kau dan aku memandang titik yang sama, bersama

Kita.



English (Translation) : W

Such is one word,
That is no stranger to any man’s ears,
Often, its essence is confused, even forgotten,
But for me, a new meaning it gives to life.

When uttered, beautiful it sounds,
It tells me, alone I am not,
But still, despair it breathes into my soul ,
For I know, -one- is missing…

A word, from the time the sun lightly beams,
‘Til the moon exhausts and retires,
Can only be uttered,
When he and they are around.

It can never be, when here, you and I are,
Here, exist only myself and I,
And there, it shall be the same with you,
The time will never intertwine, your path and mine.

But I still hope with sincerity,
That the time will indeed come, for me to say,
A word, with all my passion and hope,
When you and I look towards the same direction, together.

We.

Yogyakarta, 1 Juli 2009 00:50

++ Kertas ++

Tiada cahaya 'kau berikan dalam gelap
Tiada teduh 'kau berikan kala terik menyengat
Tiada hangat 'kau berikan kala malam mencekam

Rapuh, tanpa daya, itulah 'kau
Namun begitu, 'kau tetap di sini
Dan dalam diam temani aku kala diri sendiri

'Tak bergeming atau lirih 'kau ucapkan
Kala 'ku torehkan pada serat-serat tubuhmu
Luka dengan pena yang teramat tajam

'Tak juga 'kau mengeluh atau melawan
Kala 'kunodai kulit putihmu
Dengan hitamnya tinta yang 'tak 'kan pernah hilang

Tetap 'kau mendampingiku, entah 'ku bahagia atau sendu
Saksi dalam bisu 'tuk semua yang tersimpan di hatiku
Dan abadi terpatri di dirimu semua rasa tentangku dan dirinya...

Yogyakarta, 1 Juli 2009 1:07am

28 June 2009

++ Semua Yang Tertuangkan Bulan Ini ++

Phewww... akhirnya aku terbitkan juga sekumpulan sajak yang tertulis bulan ini. Senang sekali bisa kembali menulis, setelah bertahun-tahun meninggalkannya ^^. Karena menurutku sajak-sajak yang tertulis cukup banyak, paka terbitannya aku pisah berdasarkan 'klasifikasinya', disertai dengan komentar untuk beberapa (yang dapat dilihat di terbitan sebelumnya). Ya begitulah... semoga aku bisa terus berkarya dan menuangkan isi hatiku =).



++ Mungkin ++

Mungkin hanyalah angan-angan belaka,
‘kan sirna tiada berbekas kala realita menyapa.
Mungkin hanyalah penantian dalam jemu,
‘tak ‘kan pernah sosoknya kubertemu.
Mungkin hanyalah gelembung-gelembung semu,
‘kan sekejap terpecahkan oleh tiupan waktu.

Tetapi setidaknya dari segala, entah fana atau tiada,
terbentuk suatu rasa yang begitu nyata,
Dan rasa adalah anugrah Sang Maha Pencipta.
Itu saja sudah cukup bagiku ‘tuk percaya,
akan semua tentang dirinya,
dan membuat hidupku kini bahagia.

Yogyakarta, 25 Juni 2009 23.59

++ ArtiNya Bagiku ++

Berawal dari tantangan. Aku menantang seorang kawan untuk menuliskan sesuatu untukku, dan dia bisa memintaku untuk menulis tentang tema yang dia pilih. Aku tertegun ketika dia menyebut, "Tuhan". Hmmm tema yang sukar (bahkan hampir tidak mungkin) untuk diungkapkan dengan kata-kata. Namun aku coba semampuku... melembur semalaman dan diitemani oleh secangkir dua cangkir kopi susu. Mungkin di lain kesempatan akan kurevisi. Entahlah.

++ ArtiNya Bagiku ++

Ada mereka, yang menolak keberadaanNya;
Nyatakan dari benang-benang imajinasi manusia Dia tercipta,
Dan dariNya, bersumber kebencian antar manusia.

Ada mereka, yang tergetar bibir kala mengucap namaNya,
Takuti azab ‘bencana ‘kan menimpa, bila ‘tak menyembahNya.
Azab, yang ‘kan menyiksa di dunia sini dan di alam sana

Ada mereka, yang bersimpuh menangis kala berbincang denganNya,
Haturkan rasa terima kasih yang tiada ada taranya,
Walau hidup mereka sebenarnya jauh dari sempurna.

Ada mereka, yang hanya dalam duka dan lara mengingatNya,
Berbondong-bondong memohon agar hidup lebih berwarna,
Dan sekejap terlupa mereka tentangNya kala bahagia.

Ada mereka, yang terbakar semangat kala terserukan namaNya
Rela korbankan nyawa dalam peperangan yang membara,
Hunus dan ayunkan pedang ‘tuk tegakkan kekuasaanNya.

Beda manusia,
beda makna,
beda perilaku yang tercipta…

Bagiku, walaupun Dia ‘tak nampak oleh mata,
Walaupun Dia ‘tak dapat tersentuh oleh indra rasa,
‘Kupercaya Dia tidaklah tiada.

Bagiku, Dia kuasa lakukan segalanya,
Ciptakan dunia dan menghancurkannya dalam sekejap saja,
Pun begitu, kiranya ‘ku ‘tak “menakutiNya”, tapi kagumi keagunganNya.

Dalam hidupku, yang kurasa akan bentuk keberadaanNya,
Bukanlah pencipta bencana, atau pemantik semangat yang membara.
Dia adalah mata air cinta.

Dia adalah cinta bagi umatNya,
Walau sering cintaku kepadaNya terlupa,
Kala ‘kukejar hal-hal fana tiada berguna.

Dia adalah cinta bagi umatNya,
Walau sering cintaku pada diriku nyaris sirna,
Kala ‘ku terperosok dalam jurang putus asa.

Walau kuasa Dia ‘tuk murka, Dia tetaplah Maha pencinta,
Untukku dia ciptakan jalur untukku ‘tuk bertemu dengannya,
Seseorang yang begitu dalam cintanya kepadaNy

Terbuka pintu hatiku oleh dia yang dikirim untukku olehNya,
Terbangun dari mati suri cintaku kepadaNya,
Dan kini kurasa indahnya hidup dengan mencintaiNya.

Dan karena cintaku kepadaNya kulihat cahaya,
Yang dahulu tertutupi oleh putus asa yang membuatku buta,
Perlahan aku belajar ‘tuk mencintai diri yang dahulu kuanggap hina.

Tanpa menerima keberadaanNya, mungkin aku bisa tertawa,
Walau begitu ‘kuyakin hidupku ‘kan hampa,
Karena ketiadaan cinta.

Dan karenaNya, aku mengenal cinta,
CintaNya kepadaku, salah satu hambaNya,
Cintanya kepadaNya yang memberikan secercah cahaya,
Cintaku kepadaNya yang mengisi hati yang hampa,
Cintaku kepada umatNya yang membuatku bahagia,
Dan semua cinta yang bersumber dariNya t’lah membuat hidup lebih bermakna.

Yogyakarta, 26 Juni 2009 2:22

++ Dia ++

Satu lagi sajak yang merupakan perubahan format tulisan. Versi yang asli adalah naskah drama berjudul 'Ana', yang merupakan tugas akhir mata kuliah Dramaturgi. Aku mengambil tema masalah remaja, dengan menekankan tema 'ketidakpercayaan diri', karena aku merasa tema itu mendunia, dan hampir semua remaja melalui tahapan tersebut dalam hidup mereka.

Aku senang bisa menyelesaikan tulisan ini karena naskah drama yang asli belum (dan kelihatannya tidak akan) terselesaikan. Akhirnya aku bisa memberikan akhir yang bahagia untuk tokoh utama dan semoga kebahagiaan juga didapatkan oleh mereka yang sedang mengalami krisis kepercayaan diri ^_^

++ Dia ++

Aku teringat ‘kan suatu senja,
Kala pertama ‘Dia’ datang dalam hidupku
Badai perubahan ‘Dia’ bawa bersamanya
Kacaukan pikiranku yang tiada berilmu



“Wahai cermin, cermin di dinding
Apakah diriku terlihat menawan?”
Suara yang terdengar membuatku ‘tak bergeming
‘Dia’ berkata, “Jauh dirimu dari keindahan!”

Mulai ‘Dia’ senandungkan nada-nada sumbang
“ Tiada terlukis di wajahmu kecantikan,
Tiada terpancar darimu cahaya gemilang,
Yang kulihat hanyalah ketidaksempurnaan.”

Terus ‘Dia’ nyanyikan tembang penyayat hati
“Lihatlah mereka yang cantik jelita,
Peragawati putih kurus nan semampai!
Tiada lelaki yang ‘tak mencinta.”

Aku menangis, namun ‘Dia’ ‘tak kunjung berhenti
“ Dan lihatlah dirimu, hai wanita tanpa pesona!
‘Tak sadarkah bahwa tubuhmu begitu berisi?
Betapa engkau ‘tak sedap dipandang mata!”

Ah, dalam sekejap ‘Dia’ mendorongku
Ke dalam penjara bernama ‘Tidak Percaya Diri’
Di sana hatiku mulai membeku
Dan semua tentang parasku mulai kubenci

‘Dia’ mulai ucapkan aku sebuah janji
“Kutawarkan kepadamu sebuah dunia,
Yang ‘tak menjual hal-hal palsu bernama mimpi,
Atau untaian kata manis ‘tak bermakna.”

Terus, terus, tiada henti ‘Dia’ merayu
“Dunia sek’lilingmu bertaburkan dusta,
Mereka berucap cantik kepadamu,
Walau dalam hati mereka mencela.”

Lalu ‘Dia’ tawarkan persahabatan semu
“Hanya padaku dirimu bisa percaya,
Walau sekarang dunia menolakmu,
Di sampingmu ‘ku ‘kan selalu ada.”

Dan dalam kebodohanku aku percaya
Kuizinkan ‘Dia’ masuk dalam hidupku
‘Tak terasa aku menjadi boneka tanpa daya
Ucapannya mengendalikanku s’lalu

Dia tetapkan aturan-aturan:
Kekurusan adalah kesempurnaan
Tiada makanan yang menjadi kawan
Rasa lapar adalah tanda kemenangan

Hari-hari sengsara aku lewati
Ucapan kawan tiada aku dengarkan
Aku tahan lapar yang menusuk bagai belati
Mengharap ‘ku ‘kan capai keindahan yang ‘Dia’ janjikan

Kala aku mengeluh, ‘Dia’ menyeru sengit
“ Berjuanglah untuk sebuah impian,
Berkorbanlah walau hanya sedikit,
Derita ini pasti dapat kau tahan!”
Aku turuti ‘Dia’ walau perlahan aku mengecil
‘Tak kunjung jua aku dengar sebuah pujian
Yang ‘Dia’ ucapkan hanya membuatku terkucil
Dan aku jalani hidup dalam celaan

Aku meredup, aku meredup, aku meredup…
Gelap gulita, gelap gulita, gelap gulita…
Apa pun yang kulakukan ‘tak pernah cukup
Apa pun yang kulakukan aku ‘tak pernah bahagia



Dan aku teringat ‘kan suatu pagi
Pertama kali set’lah sekian lama
Samar kudengar suara langkah kaki
Memasuki hidupku yang t’lah hampa

Tiba seorang ksatria ‘tak bernama
Yang Tuhan kirimkan kepadaku
Dia berikan secercah cahaya
Keluar dari jurang lara Dia menuntunku

Dia mengajarkanku membuka mata
‘Tuk melihat hidup yang penuh keagungan
Yang membuatku merasa besar karenanya
Dan bukan cacat diri yang mengucilkan

Dia mengajarkanku membuka telinga,
‘Tuk dengarkan senandung alam
Yang merdu menyejukkan jiwa
Dan bukan celaan yang kejam menerkam

Dia mengajarkanku membuka ind’ra rasa
‘Tuk merasakan kelembutan tingkah laku
Yang menyelaraskan hidup antar sesama
Dan bukan kekerasan yang menggelisahkanku

Dia mengajarkanku membuka bibir
‘Tuk bisikkan syair syukur kepadaNya
Yang membuatku bahagia t’lah terlahir
Dan bukan keluhan yang membawa sengsara

Karenanya aku t’lah berubah:
Aku ‘tak lagi seorang gadis yang lemah!
Aku ‘tak lagi seorang gadis yang resah!
Aku ‘tak lagi seorang gadis yang merasa rendah!

Karenanya, aku dapat berseru
“Keindahan semu, lepaskan aku dari belenggu,
Aku rebut kembali kebebasanku,
‘Takkan lagi aku menjadi budakmu!”

‘Dia’ melawan, namun kugunakan sebuah senjata
Yang t’lah Dia berikan dan ajarkan
Senjata bernama Syukur dan Cinta
Cinta kepada diri dan yang t’lah Tuhan berikan

Berkat Dia, ‘Dia’ aku tebas
Dan kini aku terlepas
Menjadi manusia bebas
Dalam hidup yang indahnya ‘tak terbatas.

Yogyakarta, 11 November 2008 (original)
Yogyakarta, 11 Juni 2009 2:37 am (revisi)

++ Rahasia ‘Tuk Bulan Purnama ++

++ Rahasia ‘Tuk Bulan Purnama ++

Duhai bulan purnama,

Sudikah dikau membuka telinga
‘Tuk dengarkanku tuturkan suatu rahasia
Yang t’lah lama tersimpan di dada?

Ada seorang lelaki yang ingin mesra kusapa
Namun kala aku dan dia bertukar kata
Hati dan bibir ucapkan hal yang berbeda

Terdiam, kunikmati yang ada dalam darinya
Semua yang ‘tak sempurna dan sempurna
Bagiku, sangatlah mempesona

Duhai bulan purnama,

Sepanjang waktu engkau bercahaya
Tiada kala aku ‘tak bermimpi tentangnya
Dan hampa kurasa kala diam aku terjaga

Senantiasa kurajut benang-benang cinta
Yang hanya berada dalam alam fana
Dan kubayangkan indahnya yang ‘kan tercipta

Ah, angan-angan ini membuatku gila, tersiksa
Aku ingin terbebas dari bayang-bayangnya
Tapi ada daya, rasa ini ‘tak kunjung sirna





Duhai bulan purnama,

Pantaskah aku berharap kasih dan cinta
Dari lelaki yang begitu bercahaya
Sedangkan diriku hanyalah wanita biasa?

Bagaimana bisa aku katakan padanya
Karenanya aku tenggelam dalam sebuah telaga
Menyesakkanku dengan sengsara, lara, dan… bahagia?

Atau haruskah aku kubur semua rasa
Tanpa dia pernah melihat bara asmara yang pernah ada
Dan dalam hatinya diriku kan s’lalu tiada?

Duhai bulan purnama,

Dengarkanlah nada-nada cinta tertulis untuknya
Bisikkan kepadanya yang kini jauh di mata,
Agar terlelap dia hingga mentari menyapa

Kini temanilah aku yang memanjatkan doa:
Jikalau tiada pernah hati kami bersua
Di jalur hidup yang t’lah ditentukan olehNya

Kuharap suatu kala aku ‘kan menjadi sahabatnya
Tempat berteduhnya kala hujan emosi menerpa
Pelipur lara. Itu saja.

Yogyakarta, 10 Juni 2009 2:14

++ Sajak-Sajak Mimpi ++

Dua sajak dengan penafsiran yang berbeda tentang mimpi.

++ Sajak Mimpi (Indah) ++

Mimpi.
Engkau berikan naungan dan kedamaian,
‘Tuk mereka yang diterpa badai kehidupan.

Mimpi.
Engkau lukiskan hasrat terpendam,
‘Tuk mereka yang berkanvaskan cita ‘tak berwarna, buram.

Mimpi.
Engkau ciptakan jalur pertemuan,
‘Tuk mereka yang terpisah oleh lautan.

Mimpi.
Engkau kisahkan roman berakhir bahagia,
‘Tuk mereka yang dimabuk asmara.

Mimpi.
Engkau bangkitkan inspirasi
‘Tuk mereka seniman yang sedang mati suri

Ah Mimpi,
Engkau sumber kehidupan.
Engkau sumber kebahagiaan.
Engkau sumber inspirasi.
Bagi mereka…

Namuh tidak bagiku,
Yang s’lalu luluh lantak karenamu…

Engkau berikan keindahan ‘tak terhingga
Yang hanyalah buih-buih fana nan ‘tak nyata
‘Kan hilang ‘tak berbekas kala mata terbuka
Dan membuatku hampa karenanya.

Engkau pertemukan aku dengan lelaki yang kurindu
Namun kala rasa antara aku dan dia ‘kan bersatu,
Sekejap engkau hancurkan semua itu
Tinggalkan aku yang terjaga ‘tuk menangis pilu

Ah Mimpi, engkau bagaikan candu
Engkau suntikkan ke nadi hidupku kebahagiaan semu,
Engkau membuatku gila kala semua berlalu,
Engkau memenjaraku, membelengguku…
Dan selamanya ‘ku ‘kan menjadi budakmu.

Jember, 16 Juni 2009 23.44

++ Sajak Mimpi (Buruk) ++

Mimpi,
Engkau adalah musuh abadi,
Yang s’lalu mencoba ‘tuk membunuhku berkali-kali,
Dengan cara yang teramat keji:

Engkau tenggelamkan diriku ke samud’ra ‘tak bertepi
Engkau bakar diriku dalam kobaran api,
Engkau bekukan diriku dalam gunung es yang menjulang tinggi
Engkau penjarakan diriku tanpa kawan di gua sunyi
Engkau menikamku dengan seribu belati
Engkau kisahkan mereka yang kucinta dengan tragedi
Engkau bawa masa lalu kelam ‘tuk menghantui
Engkau coba yakinkan masa depan ‘ku kan mati

Mimpi, senantiasa engkau mencoba
‘Tuk membuat hidupku sengsara
Namun kegagalan ‘kan s’lalu egkau sua
Karena aku tahu engkau ‘tak nyata!
Kegelapanmu ‘kan ‘tak berbekas, sirna
Kala mataku terbuka dan mentari pagi kusapa

Ah mimpi, musuh abadiku,
Walau ‘tak ‘kan pernah aku lepas darimu
Walau engkau kejam kepadaku s’lalu
Terima kasih ‘kan aku ucapkan,
Karenamu aku bisa melihat keindahan
Yang tersirat dalam nyatanya kehidupan.

Jember, Juni 17 2009 00:24



++ Sajak-Sajak Perjalanan ++

Sekumpulan sajak yang tertulis ketika aku berada dalam perjalanan.

++ Yang Kusyukuri ++

Bukan intan berlian yang begitu berharga
Namun hamparan luas padang padi di luar sana
Bermandikan cahaya mentari senja
Emas berkilauan takjubkan mata

Bukan tarian wanita molek yang mempesona
Namun pohon pisang yang melambai malu-malu
Dengarkan bisikan angin sore mesra nan merdu
Indahnya begitu menyejukkan kalbu

Bukan petikan-petikan harpa yang meresap di hati
Namun suara panggilan doa di penutup hari
Iringi nyanyian burung camar yang berterbangan tinggi
Menyeru-nyeru bangkitkan jiwa yang mati

Bukan uang materi yang aku syukuri
Namun bisa hidup satu hari lagi
Saksikan beralih tahtanya sang mentari
Bersama seseorang yang aku sayangi

Madiun, 18 Juni 2009 17.23 (original)
Yogyakarta, 19 Juni 2009 23.34 (revisi)


++ Terlelaplah ++

Tertidur lelap di sampingku
Gadis kecil manis nan lugu
Tergerai rambut panjangnya
Hitam tebal nan bercahaya

Lelah tersirat di wajah mungilnya
Namun ‘tak pupuskan pesona yang ada
Raungan kereta bisingkan telinga
Namun senandung lirih tidurnya hangatkan jiwa

Ah gadis kecilku, adik sepupuku
Biarlah angin malam membelaimu
Antarkan dirimu ke alam kedamaian
Hingga kita tiba di tempat tujuan

Klaten, 18 Juni 2009 20.15

++ Senja Perjalanan ++


Kulihat terbentang di luar jendela,
langit berhiaskan nada-nada nila dan jingga.
Kudengar mesin bergemuruh perkasa,
meredam senandung alam di luar sana.

Walau tiada terdengar olehku,
kubayangkan burung-burung berkicau merdu,
tandai waktu ‘tuk sang maha surya,
kembali ke peristirahatannya.

Walau tubuh terduduk penat,
kurasakan bahagia yang teramat sangat,
karena kala rembulan bercahaya,
‘ku ‘kan bertemu mereka yang tercinta.

Dan kupanjatkan syukur kepada Tuhan,
yang t'lah melimpahkan hidupku dengan cinta dan kebahagiaan.

Nganjuk, 12 Juni 2009 17.30

++ Sajak-Sajak Kolaborasi ++

Berikut sekumpulan sajak yang tercipta dari dari keisenganku, yang menantang pesajak lain untuk merampungkan sajak-sajak yang udah dimulai :D

++ Ilalang ++

Terkisah hidup sang ilalang,
Kepada langit ia s’lalu memandang.

Tiada lelah ia melambai-lambai,
Kasih langit coba ‘tuk ia gapai.

Namun Ilalang hanya makhluk biasa,
Langit ‘tak pernah menyambut cintanya.

Ilalang hanya bisa terdiam tanpa kata,
Kala langit menitikkan air mata.

Ilalang hanya bisa terbakar cemburu,
Kala bersama awan, langit bercumbu.

Ilalang hanya bisa menatap tanpa daya,
Kala buih air melukis wajah langit dengan pelangi tujuh warna. **

Walau pedih akan kasih ‘tak tersampaikan,
Tetap kasih Ilalang ‘tak tergoyahkan.

Ilalang tetap menanti setia,
‘Tak terbuai oleh belaian angin mesra.

Ilalang tetap menatap ke atas den terus tumbuh,
‘Tak hancur oleh injakan-injakan mereka yang angkuh.

Ilalang sang pecinta tetap bahagia,
Karena setidaknya, di mata langit, ia ada.

Laksmi Tjahjono; Madiun, 12 Juni 2009 16.25 (original)
Yogyakarta, 20 Juni 2009 00.25 (revisi)**


***

Ilalang, ilalangku kesepian...
Kering dirimu bak hadapi kematian.

Tidakkah kau dengar makna alam?
Kasih sayang Tuhan melalui langit,awan, dan hujan atas ilalang:

Tiupan angin lembut sepoi belai dirimu perlahan,
Sampaikan pesan dari seberang lautan,
Rintik hujan kecil sejukkan kehidupan,
Langit biru tawarkan dirimu terang,
Awan kecil rangkulimu dari teriknya rona sonar sang surya,
Pelangi indah pun percaya ‘tuk jejakkan kedua pucuknya di bahu lemahmu.

Ilalang, hidupmu di atas bukit kebahagiaan,
Hijaukan padang, damaikan hati, terangkan soca.
Ilalang, meski kau tetaplah ilalang...
Pun begitu, kau berikan warna bagi langit dan kehidupan.

FR; Makassar, 12 Juni 2009 23.37


++ Cahaya ++

Tertegun aku dalam kegelapan
Tiada cahaya menerangi jalanku
Tertidur lelap sang rembulan
Berselimutkan awan kelam nan kelabu

***
Terangi, hangatkan hatiku yang beku,
Bukanlah sekedar fajar merah merekah,
Pun senja merah merona.
Adalah hati bening putih kekilauan,
Tuntunku dalam damai, biru kedamaian.

Baris 1 – 4, Laksmi Tjahjono, Yogyakarta 8 Juni 2009, 21:22
Baris 5 – 9, FR, Makassar 8 Juni 2009, 22:35

27 June 2009

++ Sajak-sajak Mimpi ++

Dua sajak dengan penafsiran yang berbeda tentang mimpi.
++ Sajak Mimpi (Indah) ++

Mimpi.
Engkau berikan naungan dan kedamaian,
‘Tuk mereka yang diterpa badai kehidupan.

Mimpi.
Engkau lukiskan hasrat terpendam,
‘Tuk mereka yang berkanvaskan cita ‘tak berwarna, buram.

Mimpi.
Engkau ciptakan jalur pertemuan,
‘Tuk mereka yang terpisah oleh lautan.

Mimpi.
Engkau kisahkan roman berakhir bahagia,
‘Tuk mereka yang dimabuk asmara.

Mimpi.
Engkau bangkitkan inspirasi
‘Tuk mereka seniman yang sedang mati suri

Ah Mimpi,
Engkau sumber kehidupan.
Engkau sumber kebahagiaan.
Engkau sumber inspirasi.
Bagi mereka…

Namuh tidak bagiku,
Yang s’lalu luluh lantak karenamu…

Engkau berikan keindahan ‘tak terhingga
Yang hanyalah buih-buih fana nan ‘tak nyata
‘Kan hilang ‘tak berbekas kala mata terbuka
Dan membuatku hampa karenanya.

Engkau pertemukan aku dengan lelaki yang kurindu
Namun kala rasa antara aku dan dia ‘kan bersatu,
Sekejap engkau hancurkan semua itu
Tinggalkan aku yang terjaga ‘tuk menangis pilu

Ah Mimpi, engkau bagaikan candu
Engkau suntikkan ke nadi hidupku kebahagiaan semu,
Engkau membuatku gila kala semua berlalu,
Engkau memenjaraku, membelengguku…
Dan selamanya ‘ku ‘kan menjadi budakmu.

Jember, 16 Juni 2009 23.44

++ Sajak Mimpi (Buruk) ++

Mimpi,
Engkau adalah musuh abadi,
Yang s’lalu mencoba ‘tuk membunuhku berkali-kali,
Dengan cara yang teramat keji:

Engkau tenggelamkan diriku ke samud’ra ‘tak bertepi
Engkau bakar diriku dalam kobaran api,
Engkau bekukan diriku dalam gunung es yang menjulang tinggi
Engkau penjarakan diriku tanpa kawan di gua sunyi
Engkau menikamku dengan seribu belati
Engkau kisahkan mereka yang kucinta dengan tragedi
Engkau bawa masa lalu kelam ‘tuk menghantui
Engkau coba yakinkan masa depan ‘ku kan mati

Mimpi, senantiasa engkau mencoba
‘Tuk membuat hidupku sengsara
Namun kegagalan ‘kan s’lalu egkau sua
Karena aku tahu engkau ‘tak nyata!
Kegelapanmu ‘kan ‘tak berbekas, sirna
Kala mataku terbuka dan mentari pagi kusapa

Ah mimpi, musuh abadiku,
Walau ‘tak ‘kan pernah aku lepas darimu
Walau engkau kejam kepadaku s’lalu
Terima kasih ‘kan aku ucapkan,
Karenamu aku bisa melihat keindahan
Yang tersirat dalam nyatanya kehidupan.

Jember, Juni 17 2009 00:24

09 June 2009

++ Kisah Kasih Sang Gadis Buta ++

Terbesit inspirasi (lagi-lagi!) ketika aku membaca komik ‘Blue Tears’ karangan Yukari Kawachi yang mengisahkan seorang gadis buta yang jatuh cinta kepada seorang lelaki yang pernah menolongnya. Aku kemudian berpikir mengenai cinta sang gadis buta; betapa tulus dan dalam dia mencintai seseorang karena dia jatuh cinta bukan karena penampilan, namun kepribadian. Sebenarnya aku juga bertanya-tanya mengenai perasaan dan pemikiran orang-orang buta yang jatuh cinta. Apa yang mereka bayangkan mengenai Yang Terkasih? Terciptalah sajak ini untuk mendalami karakter gadis buta di komik yang kusebutkan di atas. Sebenarnya ceritanya berakhir bahagia, tetapi berhubung aku pecinta kisah-kisah sendu mengharu biru, aku ubah kisah gadis buta di akhir sajak ini *menghindar dari lemparan sepatu dan tomat dari pembaca*. Selamat menikmati.


++ Kisah Kasih Sang Gadis Buta ++

Tiada pernah kulihat sepanjang hidupku
Langit senja yang merah tersipu malu,
Samud'ra yang berkilauan gemilang biru
Atau padang hijau yang menyejukkan kalbu

Yang s’lalu terbentang di depan mata;
Kabut hitam tiada bertepi
Karena takdir t’lah berucap kata
Dalam gelap hidup ‘kan kujalani

Namun mata hatiku ‘kan s’lalu terbuka
Kulihat kemilau cahaya
Kala dengan sosoknya ‘ku berjumpa
Lukiskan hidup dengan sejuta warna

Pertama bersua dia ulurkan tangan P
adaku yang tersandung di lintas kehidupan
Sentuhannya membawa kelembutan
Membuat hati terasa tentram dan nyaman

Sekejap jadikan dia bagian dari hidupku
Ketulusannya terasa manis di kalbu
Dan kini tiada malam datang dan berlalu
Tanpa diriku yang merindu ‘tuk bertemu

Ah, terucap mesra dari bibirnya
Munculkan percikan-percikan rasa
Yang memantik gelora di dada
Dan membakar jiwa dengan api asmara

---

Duhai pemilik suara yang terdengar merdu
Walau hanya bisa ‘ku menerka raut wajahmu
Dan lukiskan sosokmu di atas kanvas anganku
Yakinlah, rasa ini bukanlah bayang-bayang semu

Aku tahu aku bukanlah untukmu
Karena t’lah tersurat takdir, satu:
Di bawah gelap bersemayam diriku,
Dan kau ‘kan bermandikan cahaya s’lalu

Tapi izinkan aku yang ‘tak berteman dengan cahaya
‘Tuk s’lalu menggengam rasa yang begitu indahnya
Dan lirih aku ‘kan memohon kepadaNya
‘Kan dipertemukanmu dengan wanita yang sempurna.

Yogyakarta, 9 Juni 2009 12:05am

PS: Lama-lama blogku jadi tempat penampungan sajak-sajak yang kutulis. Entahlah akhir-akhir ini aku senang sekali menulis sajak ^^.

*Menulis sajak lagi aaahhh*

08 June 2009

++ Beberapa Puisi Picisan ++

Seorang sahabat dahulu menganjurkanku untuk menulis puisi jikalau hati sedang dipenuhi sedih, gundah, gelisah atau segala perasaan lain yang tidak mengenakkan. Berhubung akhir-akhir ini aku dilanda kebimbangan yang menyesakkan dada, akhirnya iseng-iseng aku menulis puisi. Berhubung aku hanyalah mahasiswa yang jurusannya tidak berbau sastra sama sekali, puisi-puisi di bawah ini jangan ditertawakan dan dihina secara ekstrim. Aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata *lagu Base Jam melatarbelakangi*.

++ Di persimpangan ++

Tertambat raga di persimpangan
Bersua ia, sang kebimbangan
Tersayat jiwa ‘tuk memutuskan
Antara dua yang berlawanan

Satu jalan, berselimut langit biru
Tanpa badai, satu itu aku tahu
Di yang lain, kelabu nan mara bahaya N
amun tetap, kulihat sepercik cahaya

Jauh ke depan aku memandang
Dua pilihan kutimang-timang
Saat sebuah hendak kujelang
Hati sebelah lirih meradang

Andai dapat kupilih semua
Hati ‘takkan diterpa dilemma
Namun takdir telah bertitah
Dengan satu, harus berpisah

Sekarang tiba penentu hidup itu
Selamat tinggal terucap pada satu
Kupilih jalan yang berawan kelabu
Di sana ‘ku yakin mentari menunggu

Kepada hati aku berjanji
Jikalau nanti lara menanti
Saat langkah satu terjagal
‘Takkan pernah aku menyesal

Ke belakang, ‘takkan pernah aku kembali
Masa lalu, satu yang tak aku ratapi
Ke depanlah, aku akan terus berlari D
i sanalah, sang mentari ‘kan kutemui

++ Elegi Hari Ini ++

Aku ingin memutar roda waktu,
dan bersua dengan sang masa lalu
Sekali lagi ingin ‘ku telusuri
Hijaunya hidup yang dulu ‘ku lewati

Rasa hangat masih melekat di dada
Saat ada aku, dia dan mereka
Betapa ingin ‘ku terbuai kembali
Di dalam indah yang t’lah kami lalui

Badai juga menerpa sanubari
Menyesali yang belum kujalani
Ke belakang ingin ‘ku berjalan
‘tuk merengkuh yang t’lah terlewatkan

Ah, betapa hatiku sedih melolong
Yang berlalu ‘tak mungkin lagi kusongsong
Kini menangis aku di persimpangan
Sangat kutakut menuju masa depan

Namun apa guna diri ratapi?
Masa itu takkan pernah kembali
Yang tersisa hanya pahit nan manisnya
Dan abadi ia terpatri di sukma

Jika ‘tak segera ‘ku ambil langkahku
Diri ‘kan menua di lajur sang waktu K
arena ia ‘tak menungguku berpikir
Sendiri ia kan terus deras mengalir

Aku lepas segala dengan mendesah
Masa lalu, ‘kau memang begitu indah
Namun satu ini aku ‘kan serukan
Masa depan akan lebih berkilauan!

++ Syair Rindu ++

Okay, akhirnya aku selesaikan puisi yang telah memakan jiwaku akhir-akhir ini dan terima kasih untuk Rad yang telah *memaksaku* untuk menerbitkan puisi ini hahaha. Jangan tertawakan diriku yang terlalu mendayu-dayu yaaa. Puisi-puisi lainnya bisa dilihat di terbitan
blogku sebelumnya.


++ Syair Rindu ++


Sahabat,
Pesonamu, dulu sering ‘kucemburu
Namun s’lalu, engkaulah inspirasiku

Kudengar bisik lembut sang nostalgia
Kisahkan kita lugu mengejar cinta
Yang s’lalu tersipu dan memerah merona
Kala bercerita tentang sebuah nama

Namun sayang, semua ‘tak lagi sama
Yang dulu satu, kini menjadi dua
Persimpangan waktu t’lah pisahkan kita
Entah di mana engkau kini berada

Betapa rindu aku dengan segala
Hangat pelukmu kala lara menyapa
Nakal godamu tentang aku dan dia
Anggun senyummu yang menawan semua

Sahabat, ‘takkan pernah aku berhenti
Jejakmu akan s’lalu aku cari

Kakanda,
Sejak pertama engkau ucap namaku
Hingga sekarang kusandang nama itu

Indahnya masa kita jelajah bersama
Mencari harta karun yang ‘tak pernah ada
Petak umpet kita mainkan dalam tawa
Di rumah yang dulu terasa oh, luasnya!

Kini kita telah beranjak dewasa,
Keabkraban kita perlahan tiada.
Kehangatan menjadi kedinginan
Satu itu sangat aku sesalkan

Aduh, hati melara merindu kepada
Nyali kita di kala beradu sepeda
Tari kita di bawah guyuran sang hujan
Tugas rumah yang bersama kita kerjakan

Kakanda, bisakah satu aku meminta,
‘Tuk kita kembali seperti dulu kala?

Ayahanda,
Aku tumbuh ‘tak melihat punggungmu
Namun sayang kutujukan padamu

Kecilku melihatmu keras bagai karang
Laksana halilintar suaramu lantang
Namun kala Ayahanda pulang kembali
‘Tak dapat kututupi wajah yang berseri

Ah, begitu kini kita bersama
Jurang usia memisahkan kita
Keangkuhanmu mencoba membentukku
Namun aku ingin bebas ‘tuk melaju

Betapa hati ini merindu,
Kala aku lugu menunggu
Ayahanda berdiri di balik pintu
Dan aku berlari ke dalam pelukmu

Ayahanda, walau jarang terucap kata
Sadarilah, hormatku ‘takkan pernah sirna

Ibunda,
Jika engkau tanya, ‘apakah yang indah?’
Akan kujawab, ‘senyummu yang merekah’

Kenangan lukiskan engkau bagai bidadari
Nyayian merdumu memelukku dalam mimpi
Lembut terasa belai jemarimu
Tenangkan aku yang menangis pilu

Kerasnya hidup t’lah kejam merubahmu
Melemparkanmu ke dalam jurang sendu
Padamkan ambisi yang berkobar dulu
Jadikan ceria kisah masa lalu

Mendesah aku yang begitu merindukan
Senyummu yang ‘tak melukiskan kesedihan
Matamu yang ‘tak menyiratkan kesepian
Langkahmu yang ‘tak meragakan kelelahan

Ibunda, harapku menjadi matahari
Agar hidupmu dapat s’lalu kusinari

Guru,
Bagaimana dapat kuucapkan dalam kata?
Rasa terima kasih yang tiada tara

Dalam senyuman engkau t’lah ajarkan
Makna yang ada dalam hidup yang berharga
Dengan perlahan engkau t’lah bukakan
Mata yang buta akan luasnya dunia

‘Tak lama waktu itu datang menyapa
Di mana aku meninggalkan remaja
Dan aku melangkah menuju dewasa
Menandai akhir perjumpaan kita

Dalam iringan nostalgia aku merindu
Ruang yang menggema oleh berat suaramu
Pengabdiamu yang meresap ke dalam kalbu
Nasehatmu yang menjadi pegangan hidupku

Guru, karenamu suatu saat nanti
‘ku kan menjadi seseorang yang berarti

Yogyakarta,
Lahirku terselimuti langit malammu
Dan kenanganmu ‘kan s’lalu mengiringiku

Bersamamu banyak yang t’lah aku alami
Di kotamu, aku mengenal patah hati
Namun engkau ijinkan aku cinta kembali
Dan engkau buat hidupku lebih berseri

Dari seberang lautan ‘kurindukan
Merdu dan sumbangnya nyanyian jalanan
Cahaya lampu malam yang berkilauan
Kawan-kawan yang t'lah engkau perkenalkan

Yogyakarta,
‘tak begitu panjang waktu kita bersama
Namun benang hidupku yang terajut betapa indahnya!

Yang Terkasih,
S’lama ini apakah dirimu tahu,
Pandanganku tertuju padamu s’lalu?

Awal kesanku, dirimu bagai elang
Membelah langit, sekejap dia terbang
Tak ada waktu, untuk dia 'kupegang

Lalu datang dirimu kala ‘kusendiri
Semenjak itu, aku ‘tak mengenal sang sepi
Dan mulai singgah dirimu di lubuk hati

Bukan, indah yang ‘kurasa bukan hanya mimpi
Kala bersamamu, langit s’lalu berpelangi,
Dan angin hembuskan harum semerbak melati

Namun waktu menyeretku dalam pusarannya
Tak terasa, harus kuucapkan sayonara
Ah, mengapa indah ‘tak bisa berlangsung lama?

Kunyanyikan syair ‘tuk ungkapkan rindu
Pada kisah tertutur dari bibirmu
Sindiranmu terhadap kebodohanku

Sejuknya pagi kala diri sabar menanti
Hangatnya siang kala dirimu menemani
Gerimis hujan yang kuharap ‘takkan berhenti

Ah, kini hati sedih meratap
Dari semua yang t’lah terucap A
da sebuah yang ‘tak terungkap

Yang Terkasih, betapa besar aku harapkan
Tiba saat kita kembali dipertemukan
Dan aku 'kan menjadi lebih dari kenangan

---

Semua Yang 'Kurindu,

Apakah kalian juga merasa
Sesuatu yang menyesakkan dada,
Namun juga membawa bahagia?
Jawabanya 'kan s'lalu aku terka.

++ Sajak-Sajak Tempo Doeloe ++

Akhir-akhir ini aku mulai menulis puisi, dan terasa begitu menyenangkan. Ketika asyik-asyik menumpahkan isi hati ke laptop (bukan secarik kertas lagi), aku menemukan beberapa puisi lama; puisi-puisi ketika aku sedang mengalami krisis. Terdengar berlebihan mungkin, tetapi itulah yang aku rasa saat itu. Mengingatkanku akan masa lalu dan masa-masa yang t'lah aku lalui.


++ Esok Hari ++

Masa lampau sarat akan perjuangan
Yang tersisa malam ini, sebongkah penyesalan
Salahkan diriku, tak kuasa bertahan
Melawan bisikan kegelapan


Aku terdiam, perih ini tak terungkapkan oleh kata-kata
Aku yang terseret dan terpuruk dalam jurang putus asa
Kumenengadah dan kulihat para iblis tertawa-tawa
Mencemooh diriku yang begitu hina dan nista


Ah, akankah hidupku berakhir seperti ini?
Tiada kawan, ratapi hidup sendiri
Tinggalkan dunia dengan luka yang tak terperi,
Apakah diriku sebegitu tak berarti?


Tidak, tidak! Takkan kubiarkan hidupku mereka hancurkan!
Takkan kubiarkan diriku menjadi kegagalan!
Akan kukumpulkan kembali puing-puing harapan yang berserakan
Dan membangun hidup yang lebih berkilauan.


Apa pun yang terjadi.
Esok aku akan berjuang lagi!
Itu pasti.


++ Hang On ++



Hang on there, everything will be alright!
Ah, how many times have you heard that saying?
Yet in the tunnel we’re at, I see no light
And I know not what the future will bring


The first time I hurt you,
I said, “my friend, it will not happen again.”
The second time came out of the blue
You growled; but still, you endure all the pain


The third, the fourth, the fifth time came
It wasn’t long ‘til it became an endless chain
For I cannot stop this bertrayal game
And all your faith in me has proven in vain


Yes, I can hear it all the time
The sound of your screaming in agony
Yes, I do know my crime
For me to mention, far too many


Oh Lord, I don’t know what darkness traps me in
It pains me to hear you cry and whimper
Yet I cannot stop, the devil that kills me within
When a day goes by, it grows bigger


Hang on there, everything will soon be over
Yes, those words I keep telling you
But do you still believe me, I wonder?
After all the things I’ve done to you?


Someday, someday, someday…
Will you see my empty promises?
Will you lose faith in me?
Will you give up on me?


I refuse to believe, even though I have the answers
I close my eyes, even though I see the signs coming…
I close my ears, even though I hear you crying


Selfish as I am, grant me another chance
For me to fight for both of us.
I won’t hurt you.
I promise.

++ Sajak-Sajak Teruntuk Mereka Yang Pernah Singgah di Hati ++

Indahnya jatuh cinta, membawa sejuta inspirasi. Berikut adalah sajak yang dulu kutulis untuk kaum Adam yang pernah singgah di hati. Mengingat-ingat masa lalu, begitu indah namun tak terlepas dari kepahitan ketika rasa itu tak tersampaikan. Tetapi setidaknya, aku bersyukur karena proses jatuh cinta dan patah hati telah mendewasakanku sebagai wanita.

++ Belenggu ++

Aku ingin bertemu
Walau hanya sekali saja
‘tuk lepaskan belenggu
Yang lama menyesakkan dada

Seribu senja telah berlalu
Tapi rasa ini tak kunjung padam
Bayang-bayangmu menghantuiku
Menyiksaku kala malam mencekam

Tanpa sepenggal ucapan perpisahan
Engkau menghilang dari hidupku
Yang menemaniku kini penyesalan
Lukiskan kisahku dengan warna kelabu

Kasih tak terungkap,
Aku ingin sampaikan sesuatu…
Kasih tak terucap,
Betapa aku mencintaimu.

Selalu.

++ Terima Kasih Atas Harapan ++

Terima kasih aku ucapkan
Tak kau belai aku dalam pelukan
Tak juga cinta ini kau campakkan
Kau izinkan aku hidup dalam harapan

Waktu berdua, terasa menyesakkan
Aku tak tahu apa yang kau rasakan
Aku tenggelam dalam kebimbangan
Yang terasa begitu menyesakkan

Namun dalam kebersamaan
Membawa kebahagiaan
Darimu kudapatkan segenggam kenangan
Yang tak kan pernah terlupakan

Kini aku mundur perlahan-lahan
Karena tak jua kutemukan jawaban
Dan aku takut terhenti di depan,
Oleh dinding ketidakpastian

Seiring langkahku, aku katakan
Walau rasa ini tak terungkapkan
Setidaknya aku pernah hidup dalam harapan
Harapan, kau dan aku disatukan

++ Inspirasi ++

++ Inspirasi ++

Inspirasi.
Terkadang ia datang sendiri.
Terkadang pula tak kutemui,
walaupun lelah ia kucari

Insipirasi.
Menghidupkan kembali jiwa yang mati
Memberi hidup beribu-ribu arti
Menemani kala ‘ku sedang sendiri

Inspirasi.
Kini mengetuk pintu lubuk hati
Dan mengalir deras tiada henti,
Membentuk telaga tak bertepi

Inspirasi.
Kan menyapa dan getarkan sanubari
Saat kudengar bisikan mesra seorang lelaki
Walau dia pematik inspirasi takkan pernah menyadari

Ah, kuingin dia nyanyikan syair untukku,
Agar meresap abadi dalam kalbu
Buat inspirasi ini kekal s’lalu
Dan tak terkikis oleh waktu.

++ Sajak Kepalsuan ++

Pernahkah kamu merasa, kamu tidak pernah bisa mengungkapkan isi hati? Tidak bisa mengekspresikan diri sendiri? Dan yang bisa kmu lakukan hanyalah menulis puisi, tempat satu-satunya kamu bisa menjadi diri sendiri

++ Seni ++

Kebohongan adalah sebuah seni,
Dan aku adalah pelaku seni sejati,
Yang jalani hidup ini sendiri
Tanpa ada seorang pun yang mengerti.

Suatu pagi, di atas panggung ku berdiri
Berhiaskan topeng sejuta ekspresi
Yang setiap saat dapat kuganti
Agar raut wajah asli ini tertutupi

Suatu siang, aku adalah biduan
Nyanyikan lagu teruntuk mereka yang kasmaran
Terdengar indah dan menyejukkan
Tenggelamkan rintihan hati yang kesepian

Suatu senja, aku berjalan melenggak-lenggok menggoda
Berbalutkan busana indah dipandang mata
Lembut bagai sutra jika disentuh, dirasa
Sembunyikan luka yang perih menganga

Ya, aku adalah pelaku seni sejati,
Yang bertujuan bukan untuk mengkspresikan diri
Namun untuk melukiskan dusta atas nama mimpi
Yang selama ini dirindukan oleh hati.

Dan mereka penikmat seni,
Mengganggap mimpi ini refleksi diri
Tak sadar bahwa mereka t’lah dibohongi
Dan aku, ketidakjujuranku hanya bisa kuratapi

Sebenarnya aku begitu berharap,
Suatu saat akan datang dia;
Yang dapat melihat,
Air mata yang mengalir di balik topeng senyumku

Yang dapat mendengar,
Tangisan hatiku yang teredam oleh tawa palsuku

Yang dapat merasakan,
Kerasnya hidupku yang tersembunyi di balik kelembutan gerakku

Namun dia tak kunjung tiba.
Dan kutapaki hidup seperti hari-hari yang t’lah terlalui
Seorang diri.

++ Wanita ++

Wanita adalah ahli bersandiwara,
Hiasi hidupnya dengan seribu dusta.

Wanita bisa berkata, “Aku baik-baik saja.”,
Walau hidupnya bergelimang duka dan lara

Wanita bisa tersenyum dan lebar tertawa,
Walau hatinya sesak dan tenggelam oleh air mata

Wanita bisa nampak mandiri dan bercahaya,
Walau kabut kesepian menyelimuti sanubarinya

Wanita bisa terlihat tegar laksana baja
Walau dia rapuh bagai kaca

Wanita bisa diam ‘tak berucap kata
Walau amarah membakar jiwanya

Wanita bisa duduk tenang bersahaja
Walau jantuknya berdetak kencang, bergelora

Dan aku adalah seorang wanita
Jika aku berkata, “aku baik-baik saja.”,
Akankah dirimu percaya?

++ Sajak Kolaborasi ++

Sajak tentang rembulan, yang terinspirasi oleh seorang kawan yang nun jauh di sana. Dua baris pertamanya ditulis olehnya +dan sisanya diriku yang meneruskan. Silakan yang memiliki hak cipta kepada dua baris pertama mengaku di sini hehehe

++ Rembulan ++

Tidakkah kau lihat rembulan tampak anggun malam ini?
Telanjang tanpa selembar awanpun menyelimuti dari langit malam?
Terlukis warna merah merona di wajahnya yang tersipu malu
Kalahkan cahaya ribuan bintang yang meredup karenanya

Namun dapatkah kau rasakan kesepian yang mencekam?
Teruntuk mentari, rembulan setia menanti
Bertahan dalam kesendirian, tiada yang menemani

Tahukah kau, aku jalani hidup sang rembulan?
Anggun bersahaja, berikan secercah cahaya di kegelapan malam
Namun tetap saja, rembulan tetap sendiri, rindukan mentari…

Dan tanpamu, mentariku, semua cahayaku akan hilang.
Aku akan meredup mati.
Tak berarti.

++ Sajak Teruntuk Lelaki ++

Wahai engkau lelaki,
Diturunkan aku wanita ‘tuk membuatmu sempurna,
Dan sebagai pemimpinku engkau tercipta.
Walau ‘tak sama, kita ‘kan selalu setara
Kala kita menghatur sembah di hadapanNya,

Tercipta dua, karena satu tiada berarti;
Engkau, dan aku, tak ‘kan bisa berdiri sendiri
Tanpa satu yang mengisi lubang di hati
Marilah kita saling mendampingi

Wahai lelaki,
Engkau pagar yang tegar melindungiku
Tetapi janganlah pernah engkau ragu,
‘Tuk menjadikanku penopang hidupmu
Kala gemuruh badai menggempur kalbu

Jika terlukis di wajahku sejuta lara
janganlah engkau terdiam seribu bahasa;
Bukalah hati, jadilah sebuah telaga
Yang tak lelah menumpang tumpahan air mata

Wahai lelaki,
Sinarilah aku dengan hangatnya cinta
Bak surya yang s’lalu menyinari, setia
Karenanya walau kegelapan menyapa,
Rembulan ‘kan s’lalu indah nan bercahaya.

Buatlah aku begitu menyayangimu
Sehingga untukmu bisa aku lakukan satu:
Aku ingin bisa tulus menangis untukmu,
Dan bukan karenamu.

Wahai lelaki,
Jika bagai karang aku angkuh berdiri
Jadilah ombak, yang setia menemani
Tiada pernah tinggalkan karang sendiri
Walau senja dan fajar silih berganti

Jadilah ombak yang terkadang menderu-deru
Terkadang pula mendesis bisikkan syair merdu
Perlahan karang pun ‘kan terkikis jadi debu,
Menyatu menjadi bagian dari dirimu

Wahai lelaki,
Janganlah engkau mengekangku,
Dalam sangkar ideologimu;
Izinkanlah aku mengepakkan sayapku,
dan terbang membelah langit biru.

Di atas, aku ‘kan melihat indahnya dunia,
dan nyanyikan lagu syukur kepadaNya,
t’lah menganugrahkanku sebuah cinta,
‘Tuk lelaki yang ah, begitu sempurna!

(Juni 7 2009, 2:11 AM)

++ Sajak Patah Hati ++

Lagi-lagi inspirasi mendatangi. Kali ini karena membaca cerita yang aku tulis ketika aku patah hati (baca: diputusin). Berhubung akhir-akhir ini aku suka menulis sajak, maka cerita itu kuubah strukturnya menjadi sajak. Lumayan sulit, tetapi tercapai akhirnya ^^.


++ Hari ke Enam Belas Daun-Daun Mulai Berguguran ++

Terdengar suara tetesan air mata terakhir langit kelam,
Disambut oleh makhluk-makhluk kecil yang mengerik ceria
Berdansa ikuti lambaian dedaunan yang lembut dibelai angin malam
Dan rembulan tanggalkan selimut awan yang membalutnya

Beberapa orang ‘kan berseru,
“Ah remang rembulan, nyanyian alam yang merdu”
“Buat malam ini begitu syahdu!”
Tapi tidak bagiku, yang menanti, jemu

Tersentakku dari alam mimpi
Saat terpecah malam yang sunyi
Oleh jam yang berdentang kencang sepuluh kali,
Empat puluh lima, adalah hitungan dentang semenjak aku menanti

Bergetar dan menyala benda kecil di genggamanku,
Mainkan alunan ‘Lonceng Kecil’ yang lama t’lah kutunggu
Dan dengan satu ‘klik’, kudengar sebuah suara
Suara dari pulau nun jauh di sana

Perbincangan hati berlangsung sekejap saja
Akhiri penantianku yang begitu menyiksa
Mengiringinya, rasa yang menyesakkan dada
Dan hati yang tertorehkan oleh luka

Aku tahu ini ‘kan terjadi;
Aku t’lah mempersiapkan diri
Segala yang terucap dari seorang laki-laki
Kan membawa tragedi yang ditutup-tutupi

Dia sempaikan kenyataan berbungkuskan gulali
Agar nampak lebih manis dipandang mata hati
Namun walau begitu indah ia tersaji
Kenyataan tetap lah pahit tak terperi

Ah, apakah ini yang sedang kurasa?
Amarah yang membara?
Bukan, bukan dia…
Tetapi hampa.

Terasa belati menikam dada
Merobek-robek jantung di dalamnya
Membuatku tak berdaya
Mati rasa.

Dalam gelap aku mencari pemantik jiwa
Namun ke mana? Karena aku dan mereka yang tercinta,
Jauhkan terpisahkan oleh sang samudera
Dan hembusan angin pagi ‘kan buai tidur mereka

Kucoba keras ‘tuk yakinkan diri
Badai ini sendiri dapat kuhadapi!
Namun kala hati kecil meronta-ronta
Kusadar ku hanyalah gadis kecil yang tak berdaya


Kenangan berhembus bagai angin malam
Membelaiku mesra, namun berhembus dingin
Mengingatkanku ‘kan semua masa indah yang kujalani
Yang kini t’lah menjadi monumen masa lampau.

Ah , dua puluh satu musim panas aku lalui
Lewati masa muda yang berbalutkan cinta dan mimpi
Dan kini kurasakan ‘tuk pertama kali
Pedihnya kedewasaan bernama patah hati

Betapa anehnya,
Walau langit tak lagi bermuram durja,
Dan rembulan begitu bercahaya, bersahaja
Mengapa tak bisa kuhentikan air mata?

Ah, sangat menyakitkan!
Namun tak ‘kan aku ucapkan penyesalan
Walau akhir membawa kepedihan,
Tetap saja, awal memberikan keindahan yang takkan terlupakan

Di pembaringanku kucari kenyamanan
Mata yang lelah oleh tangis kupejamkan
Dan sebuah janji bisu aku ucapkan
Rasa antara aku dan dia ‘kan kulepaskan

Selamat malam, selamat malam.
Waktu ‘kan sembuhkan luka tertoreh di hati
Esok, mentari ‘kan menyambut pagi
Tentunya kisah baru ‘kan menanti

Yogyakarta, 16 Maret 2008 (original); 8 Juni 2009 6:48 pm (revisi)