29 November 2009

++ Domba Berbintik Merah ++

Di suatu malam yang telah sunyi, terusik tidur seekor domba berbulu putih. Telinga mungilnya menangkap samar-samar suara, yang terdengar tidak biasa namun begitu memikat hatinya. Dengan mata setengah terbuka, dia melihat sekelilingnya; segerombolan domba yang berbulu putih lebat tertidur dengan pulasnya, seakan tidak ada resah maupun bahaya meliputi diri mereka. Rasa kantuk merayunya untuk membenamkan kepalanya ke dalam alam tidur sekali lagi, namun rasa penasarannya seolah menarik sekujur tubuhnya untuk mencari tahu, dari mana kah suara itu berasal. Perlahan dia beranjak dari peristirahatannya dan dengan satu hentakan kaki, dia melompati pagar kandangnya; meninggalkan tempat yang telah menjadi rumahnya [dan kaumnya] selama sekian lama.

Si domba putih terus berjalan, hingga lelah serasa mematahkan tulang kakinya dan berhentilah dia untuk beristirahat. Dia merebahkan tubuhnya di atas hamparan padang rumput, dan berselimutkan langit Subuh yang mulai menyingsing fajarnya. Selama hitungan beberapa hembusan angin, dia terdiam, memandangi alam terbuka yang teramat asing baginya. Sungguh, padang rumput terlihat sangat hijau tanpa batas dan pepohonan menjulang tinggi seakan menggapai langit. Semua adalah pemandangan yang tidak pernah dia lihat di dalam kandang sempit penghuniannya [dahulu].

Tersentak si domba putih dari lamunannya ketika seekor kijang muncul di belakangnya? Hai domba putih, dari mana asalmu dan mengapa kau sendirian? Si kijang menyapa dengan suara yang lembut. Si domba terdiam, tidak sepatah kata pun keluar dari tenggorokannya dan rasa takut terpancar dari sepasang bola matanya. Si kijang merasakan ketakutan si domba dan dia tersenyum kecil sembari berkata. Janganlah takut, hai domba putih, lihatlah, aku dan kamu adalah sama. Kita adalah binatang alam ciptaan Tuhan, tidak ada yang perlu ditakuti. Si domba menatap dalam-dalam si kijang dan setelah beberapa saat, dia menjawab. Tapi kamu adalah kijang, dan aku adalah domba! Aku mendengar dari domba-domba lainnya, bahwa kijang adalah binatang yang liar! Yang liar dan jahil, yang berkeliaran ke sana kemari tanpa kendali, tanpa tujuan!

Bukannya tersinggung, si kijang justru tertawa kecil. Oh domba putih, tahu dari manakah kalian, hidup kami para kijang? Kalian hanya mendengar kabar angin mengenai kami, tidak pernah kalian lihat sendiri dengan mata kalian seperti apa kami ini. Memang kami hidup bebas, dan itu tidak ada salahnya, karena kami tahu ke mana kami ingin pergi. Sedangkan kalian? Pagi, siang dan malam, kalian digiring oleh penggembala kalian; mengikuti saja dan tidak memahami makna dari setiap langkah kalian. Hidup kalian habiskan di balik kandang tanpa melihat hal-hal yang ada di alam terbuka! Apalah arti hidup, jika tidak bisa kamu tentukan sendiri ke mana arahmu pergi?

Si domba putih terdiam dan menundukkan kepalanya, seakan membenarkan perkataan si kijang yang pedas dan tajam. Dengan sedikit terbata-bata, dia membalas. Aku… aku tidak seperti yang kamu katakan! Aku di sini, karena aku mengikuti suara, suara yang memanggil-manggilku. Dan aku tahu itu jalanku!

Si kijang melompat-lompat kecil, memutari si domba yang masih terlihat sedikit takut dan bingung. Ho, jadi kamu juga mendengar suara itu? Aku tahu di mana berasalnya suara itu. Akan kuberitahu di mana kamu bisa menjumpanya, jika kamu berani! Kata si kijang, seolah menantang. Si domba, kini merasa tertantang, melompat dan menghentakkan kakinya dan berseru. Bawa aku ke tempat itu! Aku tidak takut sama sekali.

Tersenyumlah si kijang dan dia memutar badannya, membelakangi si domba dan berkata. Ikutilah aku, hai domba! Suara itu berasal dari bukit itu. Si domba tertegun dan dia menyahut. Hai kijang. Aku berasal dari penggembalaan barat dan aku merasa suara itu berasal dari timur. Dan arahmu sekarang bukan timur. Tentunya dirimu salah? Si kijang menjawab. Hai domba, suara itu tidak mengenal mana yang timur mana yang barat. Yang kutahu, mendekati suara itu sangatlah sulit, harus menempuh jalan yang mendaki dan sukar, tetapi bersabarlah!

Entah mengapa, keraguan dan ketakutan si domba hilang seketika. Yang ada di dirinya hanyalah keinginan untuk menapaki jalur yang akan menuntunnya ke arah suara itu. Dan bersebelahan dengan si kijang dia berjalan, menuju tempat suara itu berada, walau semakin jauh dia meninggalkan kampung halamannya.

Sungguh perjalanan ini tidaklah mudah bagi si domba, yang terbiasa hidup di balik kandang. Hidup bermalas-malasan dan hanya bergerombol menikmati sedapnya rerumputan hijau segar. Medan yang dia tempuh bersama si kijang penuh akan bebatuan dan sering dia tersungkur jatuh, sehingga tubuhnya memar oleh luka. Langit pun, yang semula bersahabat, mendadak menjadi angkuh dan mengguyurkan hujan ke seluruh tubuh dua binatang ini. Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya si domba merasa bahagia dalam kesukaran. Setiap tetes air hujan menyejukkan hati si domba; mungkin, karena dia tahu setiap tetes hujan adalah salah satu pewarna hidup yang dia lukis sendiri.

Di setiap langkah yang dia ambil, dia bersua dengan banyak hewan, yang berbeda bentuk namun serupa. Ada kala, dia bertemu kambing kecil yang tersesat kelaparan dan berbagi rumput untuk dimakan. Ada kala, dia bertemu kuda yang terbelit tali di lehernya, dan membantu melepaskannya. Dan si kuda pun akan bercerita tentang kisahnya, yang dikekang oleh manusia-manusia ‘tak berperasaan. Si domba pun hanya bisa terdiam, merenungi semua yang telah terjadi dalam hidupnya.

Setelah sekian lama, tibalah si domba di balik bukit tujuannya. Terkesima dia, melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Dan di sanalah dia mendapatkan suara yang dia dengar di kandang penghuniannya dulu; suara itu berbisik mesra, dalam hatinya, yang mengatakan bahwa dia merasakan kedamaian. Dia palingkan wajahnya untuk berterima kasih kepada si kijang yang menemaninya ke bukit kedamaian dan si kijang hanya bisa tersenyum lembut, sembari berkata. Adalah keniscayaan bagiku, untuk mengabarkanmu jalan menuju bukit ini. Dan kini mungkin adalah giliranmu, untuk mengajak kawan-kawanmu, agar mereka merasakan kedamaian yang kamu rasakan ketika kamu menapakkan kakimu di sini.

Si domba mengangguk dan dia pun berlari, menuju tempat dia berhuni dulu, untuk bertemu teman-temannya dan mengajak mereka untuk jalan bukit mendaki. Namun sesampainya di sana, hanyalah sedih menyelimuti hatinya, karena teman-teman lamanya menolaknya, bahkan mengolok-olok dirinya, yang sudah berubah banyak. Si domba, yang tubuhnya kini berhiaskan bintik-bintik merah bekas luka, hanya bisa berdiri di depan segerombolan domba putih yang tiada henti menghujatnya.

Satu domba menyeru. Hai kawan, lihatlah dia, berani sekali dia mengajak kita keluar dari sini. Tidak tahu kah dia bahwa di sini adalah tempat yang terbaik?

Satu domba lagi menyeru. Lihatlah dia! Bulunya kusut dan tubuhnya penuh akan bintik-bintik merah. Dia sudah tidak seperti kita! Dia sudah bukan anggota kita, domba putih berbulu lebat! Usir dia!

Satu domba lagi menyeru. Aku setuju! Jangan ikuti dia! Dia menyuruh kita meninggalkan tempat yang telah menjadi rumah kita selama sepanjang masa! Dia ingin kita tinggalkan rumah bapak ibu kita! Dia ingin kita berjalan susah mendaki bukit dan meninggalkan nyamannya hidup di sini!

Satu domba lagi menyeru. Hai, domba tercela! Enyah kamu dari sini! Kamu hanya ingin menyesatkan kami! Enyah! Enyah! Enyah!

Dan segerombalan domba tersebut berpaling dari arah si domba putih berbintik merah, dan berjalan meninggalkannya, mengikuti arah suara ketukan tongkat penggembala yang berdiri di kejauhan. Si domba berbintik merah hanya bisa mengucapkan kalimat perpisahan, semoga bahagia menyertai mereka.

Dengan kelapangan dada, kembalilah dia ke bukit mendaki; biarlah, dia menggumam. Walau hanya sendiri dan dengan status terbuang, setidaknya dia bebas menghentakkan kakinya, memilih sendiri jalan untuk hidupnya. Dan di setiap langkah kembalinya, dia berharap di bukit kedamaian di atas sana, akan bersua dia dengan mereka yang bernasib dengannya. Domba-domba dan mereka kaum yang terbuang, yang menemukan jalan mereka ke bukit kedamaian, dengan mendengarkan suara… suara hati mereka.

Sydney Ashburner Street, 27 November 2009 01:24

Note: gotta love my bro for giving me a link to this hilarious and somehow-connected-to-the-moral-of-this-story photo.

++ Kedamaian ++

Seandainya bisa, sesederhana,
Mengulum buah manis bergula,
Saat menyaksikan hari ditutup, lagi dibuka,
Seraya memilih: satu, tiga atau lima.

Seandainya bisa, sesederhana,
Berdiam pisahkan diri dari hiruk pikuk dunia,
Membuai jiwa dengan alunan sajak bernada,
Sembari memandang bulan terbelah tiga.

Seandainya bisa, sesederhana,
Menahan diri dari semua,
Setelah bulan terpenuhi bilangannya,
Dan menyempurnakannya tiga kali dua.

Seandainya bisa, sesederhana,
Mensucikan diri dari cinta dunia,
Setelah bumi sekali mengitari surya,
Dengan hitungan setengah dari tiga,

Seandainya bisa, sesederhana
Menghabiskan waktu bersama-sama,
Mengelilingi dunia jumlahnya empat dan tiga,
Di perawalan bulan penutup masa.

Seandainya bisa, sesederhana,
Membasuh gurun bernama dahaga
Dengan meneguk air penyejuk jiwa,
Dan menyelesaikannya dalam hitungan tiga.

Sesungguhnya semua terdengar sederhana,
Tapi aku tak bisa, aku tak bisa,
Menikmati Kedamaian seperti mereka,
Dan [mungkin] ‘kau katakan aku ‘tak ‘kan bahagia.

Ah biarlah kurangkul dengan cara yang berbeda,
Mungkin ‘kau akan berkata, tidak sewajarnya
Tahukah, aku tidak ingin menjadi apa-apa,
Hanyalah sederhana, namun lebih dari biasa…

Menerangi gelap hidup dengan setitik cahaya,
Membuat belengu-belenggu itu tiada,
Membuat tangisan lapar ‘tak lagi bersuara,
Dan tersenyum menyampaikan kabar benar apa adanya.

Beginilah aku, sekian dari jutaan manusia,
Menjalani hal-hal secara ‘tak biasa,
Yang mungkin bagimu tidaklah sempurna,
Tapi ini cukup bagiku ‘tuk bahagia.


Sydney Ashburner Street, 3 November 2009 21:48

++ Hanyalah Sebuah Cerita ++

Izinkan aku tuturkan sebuah cerita,
Tentangnya, yang termahsyur di seluruh dunia,
Terkagum semua, baik lelaki mau pun wanita,
Karena sesungguhnya, tiada yang lebih mempesona.

Pagi, siang dan malam berelu-elulah mereka,
Di antaranya melantunkan tembang-tembang cinta,
Dan di antaranya menuliskan sajak-sajak tiada habisnya,
Tentang keindahannya yang ‘tak terungkap oleh kata,


Namun tahukah ‘kau, apa yang dia rasa?
Tidaklah dia bahagia, hanyalah merana,
Karena sendiri walau dipuja oleh semua,
‘Tak satu pun mengerti yang ada di dirinya.

Ada kala, satu dua mencoba mendekatinya,
Hanya berbekal ketulusan, dan sedikit harta,
Untuk mengenalnya, sebagaimana dia apa adanya,
Sayang hanyalah terasingkan mereka, dan tercela…

Dan hilang lah pecinta-pecinta sejati dari hidupnya,
Kini terduduk dia, merasa sendiri saja,
Walau dikelilingi oleh beribu-ribu manusia,
Yang tiada henti memuja-mujanya.

Sembari meneteskan air mata, dia berkata:

‘Tak perlu ‘kau tuliskan sajak beribu-ribu jumlahnya,
‘Tak perlu pula ‘kau nyanyikan tembang-tembang ‘tak bermakna,
Yang aku inginkan hanyalah sentuhan ‘tuk benar-benar dibuka,
Dan dimengerti sehingga menembus jantung dan jiwa.

Namun tiada di antara mereka yang mendengar rintihannya,
Dan dalam kesendirian dia habiskan hidupnya,
Menunggu dan menunggu, agar kelak berubah nasibnya,
Mungkin ‘tak kan terjadi hingga tiba penutup masa.

Sydney, 18 November 2009 23:08

++Orang Mulia ++

Katakan padaku, apakah definisimu akan orang mulia?

Apakah Mereka yang bersembunyi di balik jas putih,
Berselimutkan aroma obat-obat yang menusuk hidung,
Dan menidurkan jemari Mereka di atas urat nadimu?

Kudengar nyanyian indah bahwa Mereka adalah penyelamat nyawa manusia;
Sebagian dari ilmu Mereka sembuhkan sakit yang tiada tara, katanya.
Namun mengapa rintihan sumbang realita tunjukkan hal yang berbeda?

Kulihat banyak yang tergelatak ‘tak berdaya,
Bahkan ‘tak sedikit yang tragis menemui ajalnya!
Menantikan pertolongan yang ‘tak kunjung tiba…

Tahukah kamu apa yang kulihat?
Banyak dari Mereka yang enggan mengulurkan tangannya,
‘tuk melayani para rakyat jelata yang ‘tak berharga!
Dan tertera harga tinggi ‘tuk membayar jasa ‘kemanusiaan’ Mereka,
Sehingga kesehatan menjadi komoditas eksklusif bagi mereka yang berharta!

Orang mulia… Apakah Mereka yang terduduk di kursi-kursi konstitusi,
Membenamkan kepala di balik tumpukan buku Undang-undang,
Dan tentukan aturan-aturan yang melandasi hidupmu?

Dijunjung tinggi sebagai pendiri sistem keadilan,
Berjuang menegakkan kebenaran dan memberantas kezaliman.
Namun mengapa yang berserakan sampah-sampah kebusukan?

Kulihat banyak yang tidur beralaskan aspal, berselimutkan polusi perkotaan,
Sebagian [besar] dari mereka tersungkur, tertusuk belati kelaparan,
Dan bertanya lah mereka, adakah yang memperjuangkan untuk kami keadilan?

Tahukah engkau apa yang kulihat?
Terbungkam mulut Mereka dengan segepok uang kertas,
‘tuk membisukan penindasan terhadap kalangan bawah yang terampas hak-haknya.
Dan Mereka panjangkan tangan Mereka ke kantong pembangunan masyarakat,
Sehingga pilar-pilar keadilan pun rapuh dan hancur bersatu bersama puing-puing kemanusiaan!

Orang mulia, tetap kucari… apakah Mereka yang terdiam di pojok bangunan Illahi,
Menggenggam untaian bulir-bulir sembari gerakkan bibir tiada henti,
Dan membaca lagu-lagu surgawi di ujung dan pertengahan hari?

Tertunduk kepala kita dan elu-elukan Mereka kaum yang suci,
Perantara antara dunia ini dan dunia nanti yang patut diikuti,
Namun ah, sayang, Mereka ‘tak berikan kedamaian hati yang sejati.

Kulihat banyak manusia mengungsikan diri dan hidup dalam ngeri,
Akibat dari kelompok-kelompok yang menghunus pedang dan belati,
'Tuk membasmi perbedaan pemahaman dan ideologi.

Tahukah engkau apa yang kulilhat?
Tirai demi tirai yang berlapis-lapis tutupi pandangan dan hati Mereka,
Bersibuk diri dalam pengasingan duniawi kala banyak yang membutuhkan pencerahan jiwa.
Dan sering Mereka memalingkan pandangan kepada anak-anak jalang dan wanita tanpa susila,
‘Tak bukakan hati, namun katakan mereka 'kan menjadi bahan bakar api di alam sana.

Ah, siapakah Mereka yang memberi harga kepada nyawa manusia?
Siapakah Mereka yang menerima bayaran untuk menghancurkan keadilan?
Siapakah Mereka yang menakar nilai dan menentukan nasib manusia di alam sana?

Kawan, mengapa yang ada hanyalah gelumbung-gelembung fana,
Berterbangan di dalam dunia yang ‘tak lebih dari bualan belaka?
Beritahulah aku, dapatkah engkau pertemukanku dengan orang mulia?


Sydney (UTS Computer Lab Building 2 Level 6), 2 November 2009 16.21

++ Abdi ++

Tahukah engkau [jalan] peng-abdi-an?

Bukanlah bertekad mati ‘mulia’ di bawah bendera pembelaan,
yang sebenarnya pemerangan terhadap mereka yang ‘tak sama;
Bukanlah lantang nyanyikan lagu pengobar semangat,
yang maknanya ‘tak sedikit pun engkau serapi dalam hati;
Bukanlah berapi-api ikrarkan rasa banggamu,
yang ‘tak kunjung terwujud dalam serpihan pun tindakan;
Bukanlah menempuh perjalanan ‘tuk berkumpul dengan kaummu,
yang ‘tak dibekali oleh ilmu dan tujuan yang pasti;
Dan bukanlah berbalut seragam penunjuk identitasmu,
yang sebenarnya adalah warisan nenek moyang pendahulumu.

Tahukah engkau [jalan] peng-abdi-an?

Adalah kerelaan untuk tapaki Jalan Hidup penuh liku dan pengorbanan:
Kebulatan tekadmu ‘tuk berbasuhkan keringat dalam segala upaya,
‘tuk membebaskan mereka yang tercekik rantai perbudakan;
Keikhlasanmu ‘tuk membagi hasil kebunmu ketika ranum berbuah,
‘tuk diberikan kepada mereka yang menjerit-jerit kelaparan di luar sana;
Kedermawananmu ‘tuk selalu tersenyum dan membuka pintu hatimu,
‘tuk memberikan kenyamanan kepada mereka yang ‘tak mengenal kasih sayang orang tua;
Kesediaanmu ‘tuk telusuri jalur sunyi nan gelam dengan lilin di tanganmu,
‘tuk terangi jalan bagi kaum terbuang yang hampir terputus harapan;
Dan tekad ‘tuk ‘tak tumbang dan senantiasa berteduh dalam naungan kesabaran,
ketika badai kesangsian dan gemuruh hujan hujatan menghadang jalanmu.

Itulah peng-abdi-an.
‘Tak membeda-bedakan antara warna, negara, maupun kepercayaan;
Namun dipersembahkan kepada seluruh umat manusia,
Dan semua makhluk yang diciptakan olehNya.


Sydney (UTS Computer Lab Building 2 Level 6), 2 November 13.32