Phewww... akhirnya aku terbitkan juga sekumpulan sajak yang tertulis bulan ini. Senang sekali bisa kembali menulis, setelah bertahun-tahun meninggalkannya ^^. Karena menurutku sajak-sajak yang tertulis cukup banyak, paka terbitannya aku pisah berdasarkan 'klasifikasinya', disertai dengan komentar untuk beberapa (yang dapat dilihat di terbitan sebelumnya). Ya begitulah... semoga aku bisa terus berkarya dan menuangkan isi hatiku =).
++ Mungkin ++
Mungkin hanyalah angan-angan belaka,
‘kan sirna tiada berbekas kala realita menyapa.
Mungkin hanyalah penantian dalam jemu,
‘tak ‘kan pernah sosoknya kubertemu.
Mungkin hanyalah gelembung-gelembung semu,
‘kan sekejap terpecahkan oleh tiupan waktu.
Tetapi setidaknya dari segala, entah fana atau tiada,
terbentuk suatu rasa yang begitu nyata,
Dan rasa adalah anugrah Sang Maha Pencipta.
Itu saja sudah cukup bagiku ‘tuk percaya,
akan semua tentang dirinya,
dan membuat hidupku kini bahagia.
Yogyakarta, 25 Juni 2009 23.59
28 June 2009
++ ArtiNya Bagiku ++
Berawal dari tantangan. Aku menantang seorang kawan untuk menuliskan sesuatu untukku, dan dia bisa memintaku untuk menulis tentang tema yang dia pilih. Aku tertegun ketika dia menyebut, "Tuhan". Hmmm tema yang sukar (bahkan hampir tidak mungkin) untuk diungkapkan dengan kata-kata. Namun aku coba semampuku... melembur semalaman dan diitemani oleh secangkir dua cangkir kopi susu. Mungkin di lain kesempatan akan kurevisi. Entahlah.
++ ArtiNya Bagiku ++
Ada mereka, yang menolak keberadaanNya;
Nyatakan dari benang-benang imajinasi manusia Dia tercipta,
Dan dariNya, bersumber kebencian antar manusia.
Ada mereka, yang tergetar bibir kala mengucap namaNya,
Takuti azab ‘bencana ‘kan menimpa, bila ‘tak menyembahNya.
Azab, yang ‘kan menyiksa di dunia sini dan di alam sana
Ada mereka, yang bersimpuh menangis kala berbincang denganNya,
Haturkan rasa terima kasih yang tiada ada taranya,
Walau hidup mereka sebenarnya jauh dari sempurna.
Ada mereka, yang hanya dalam duka dan lara mengingatNya,
Berbondong-bondong memohon agar hidup lebih berwarna,
Dan sekejap terlupa mereka tentangNya kala bahagia.
Ada mereka, yang terbakar semangat kala terserukan namaNya
Rela korbankan nyawa dalam peperangan yang membara,
Hunus dan ayunkan pedang ‘tuk tegakkan kekuasaanNya.
Beda manusia,
beda makna,
beda perilaku yang tercipta…
Bagiku, walaupun Dia ‘tak nampak oleh mata,
Walaupun Dia ‘tak dapat tersentuh oleh indra rasa,
‘Kupercaya Dia tidaklah tiada.
Bagiku, Dia kuasa lakukan segalanya,
Ciptakan dunia dan menghancurkannya dalam sekejap saja,
Pun begitu, kiranya ‘ku ‘tak “menakutiNya”, tapi kagumi keagunganNya.
Dalam hidupku, yang kurasa akan bentuk keberadaanNya,
Bukanlah pencipta bencana, atau pemantik semangat yang membara.
Dia adalah mata air cinta.
Dia adalah cinta bagi umatNya,
Walau sering cintaku kepadaNya terlupa,
Kala ‘kukejar hal-hal fana tiada berguna.
Dia adalah cinta bagi umatNya,
Walau sering cintaku pada diriku nyaris sirna,
Kala ‘ku terperosok dalam jurang putus asa.
Walau kuasa Dia ‘tuk murka, Dia tetaplah Maha pencinta,
Untukku dia ciptakan jalur untukku ‘tuk bertemu dengannya,
Seseorang yang begitu dalam cintanya kepadaNy
Terbuka pintu hatiku oleh dia yang dikirim untukku olehNya,
Terbangun dari mati suri cintaku kepadaNya,
Dan kini kurasa indahnya hidup dengan mencintaiNya.
Dan karena cintaku kepadaNya kulihat cahaya,
Yang dahulu tertutupi oleh putus asa yang membuatku buta,
Perlahan aku belajar ‘tuk mencintai diri yang dahulu kuanggap hina.
Tanpa menerima keberadaanNya, mungkin aku bisa tertawa,
Walau begitu ‘kuyakin hidupku ‘kan hampa,
Karena ketiadaan cinta.
Dan karenaNya, aku mengenal cinta,
CintaNya kepadaku, salah satu hambaNya,
Cintanya kepadaNya yang memberikan secercah cahaya,
Cintaku kepadaNya yang mengisi hati yang hampa,
Cintaku kepada umatNya yang membuatku bahagia,
Dan semua cinta yang bersumber dariNya t’lah membuat hidup lebih bermakna.
Yogyakarta, 26 Juni 2009 2:22
++ ArtiNya Bagiku ++
Ada mereka, yang menolak keberadaanNya;
Nyatakan dari benang-benang imajinasi manusia Dia tercipta,
Dan dariNya, bersumber kebencian antar manusia.
Ada mereka, yang tergetar bibir kala mengucap namaNya,
Takuti azab ‘bencana ‘kan menimpa, bila ‘tak menyembahNya.
Azab, yang ‘kan menyiksa di dunia sini dan di alam sana
Ada mereka, yang bersimpuh menangis kala berbincang denganNya,
Haturkan rasa terima kasih yang tiada ada taranya,
Walau hidup mereka sebenarnya jauh dari sempurna.
Ada mereka, yang hanya dalam duka dan lara mengingatNya,
Berbondong-bondong memohon agar hidup lebih berwarna,
Dan sekejap terlupa mereka tentangNya kala bahagia.
Ada mereka, yang terbakar semangat kala terserukan namaNya
Rela korbankan nyawa dalam peperangan yang membara,
Hunus dan ayunkan pedang ‘tuk tegakkan kekuasaanNya.
Beda manusia,
beda makna,
beda perilaku yang tercipta…
Bagiku, walaupun Dia ‘tak nampak oleh mata,
Walaupun Dia ‘tak dapat tersentuh oleh indra rasa,
‘Kupercaya Dia tidaklah tiada.
Bagiku, Dia kuasa lakukan segalanya,
Ciptakan dunia dan menghancurkannya dalam sekejap saja,
Pun begitu, kiranya ‘ku ‘tak “menakutiNya”, tapi kagumi keagunganNya.
Dalam hidupku, yang kurasa akan bentuk keberadaanNya,
Bukanlah pencipta bencana, atau pemantik semangat yang membara.
Dia adalah mata air cinta.
Dia adalah cinta bagi umatNya,
Walau sering cintaku kepadaNya terlupa,
Kala ‘kukejar hal-hal fana tiada berguna.
Dia adalah cinta bagi umatNya,
Walau sering cintaku pada diriku nyaris sirna,
Kala ‘ku terperosok dalam jurang putus asa.
Walau kuasa Dia ‘tuk murka, Dia tetaplah Maha pencinta,
Untukku dia ciptakan jalur untukku ‘tuk bertemu dengannya,
Seseorang yang begitu dalam cintanya kepadaNy
Terbuka pintu hatiku oleh dia yang dikirim untukku olehNya,
Terbangun dari mati suri cintaku kepadaNya,
Dan kini kurasa indahnya hidup dengan mencintaiNya.
Dan karena cintaku kepadaNya kulihat cahaya,
Yang dahulu tertutupi oleh putus asa yang membuatku buta,
Perlahan aku belajar ‘tuk mencintai diri yang dahulu kuanggap hina.
Tanpa menerima keberadaanNya, mungkin aku bisa tertawa,
Walau begitu ‘kuyakin hidupku ‘kan hampa,
Karena ketiadaan cinta.
Dan karenaNya, aku mengenal cinta,
CintaNya kepadaku, salah satu hambaNya,
Cintanya kepadaNya yang memberikan secercah cahaya,
Cintaku kepadaNya yang mengisi hati yang hampa,
Cintaku kepada umatNya yang membuatku bahagia,
Dan semua cinta yang bersumber dariNya t’lah membuat hidup lebih bermakna.
Yogyakarta, 26 Juni 2009 2:22
++ Dia ++
Satu lagi sajak yang merupakan perubahan format tulisan. Versi yang asli adalah naskah drama berjudul 'Ana', yang merupakan tugas akhir mata kuliah Dramaturgi. Aku mengambil tema masalah remaja, dengan menekankan tema 'ketidakpercayaan diri', karena aku merasa tema itu mendunia, dan hampir semua remaja melalui tahapan tersebut dalam hidup mereka.
Aku senang bisa menyelesaikan tulisan ini karena naskah drama yang asli belum (dan kelihatannya tidak akan) terselesaikan. Akhirnya aku bisa memberikan akhir yang bahagia untuk tokoh utama dan semoga kebahagiaan juga didapatkan oleh mereka yang sedang mengalami krisis kepercayaan diri ^_^
++ Dia ++
Aku teringat ‘kan suatu senja,
Kala pertama ‘Dia’ datang dalam hidupku
Badai perubahan ‘Dia’ bawa bersamanya
Kacaukan pikiranku yang tiada berilmu
…
“Wahai cermin, cermin di dinding
Apakah diriku terlihat menawan?”
Suara yang terdengar membuatku ‘tak bergeming
‘Dia’ berkata, “Jauh dirimu dari keindahan!”
Mulai ‘Dia’ senandungkan nada-nada sumbang
“ Tiada terlukis di wajahmu kecantikan,
Tiada terpancar darimu cahaya gemilang,
Yang kulihat hanyalah ketidaksempurnaan.”
Terus ‘Dia’ nyanyikan tembang penyayat hati
“Lihatlah mereka yang cantik jelita,
Peragawati putih kurus nan semampai!
Tiada lelaki yang ‘tak mencinta.”
Aku menangis, namun ‘Dia’ ‘tak kunjung berhenti
“ Dan lihatlah dirimu, hai wanita tanpa pesona!
‘Tak sadarkah bahwa tubuhmu begitu berisi?
Betapa engkau ‘tak sedap dipandang mata!”
Ah, dalam sekejap ‘Dia’ mendorongku
Ke dalam penjara bernama ‘Tidak Percaya Diri’
Di sana hatiku mulai membeku
Dan semua tentang parasku mulai kubenci
‘Dia’ mulai ucapkan aku sebuah janji
“Kutawarkan kepadamu sebuah dunia,
Yang ‘tak menjual hal-hal palsu bernama mimpi,
Atau untaian kata manis ‘tak bermakna.”
Terus, terus, tiada henti ‘Dia’ merayu
“Dunia sek’lilingmu bertaburkan dusta,
Mereka berucap cantik kepadamu,
Walau dalam hati mereka mencela.”
Lalu ‘Dia’ tawarkan persahabatan semu
“Hanya padaku dirimu bisa percaya,
Walau sekarang dunia menolakmu,
Di sampingmu ‘ku ‘kan selalu ada.”
Dan dalam kebodohanku aku percaya
Kuizinkan ‘Dia’ masuk dalam hidupku
‘Tak terasa aku menjadi boneka tanpa daya
Ucapannya mengendalikanku s’lalu
Dia tetapkan aturan-aturan:
Kekurusan adalah kesempurnaan
Tiada makanan yang menjadi kawan
Rasa lapar adalah tanda kemenangan
Hari-hari sengsara aku lewati
Ucapan kawan tiada aku dengarkan
Aku tahan lapar yang menusuk bagai belati
Mengharap ‘ku ‘kan capai keindahan yang ‘Dia’ janjikan
Kala aku mengeluh, ‘Dia’ menyeru sengit
“ Berjuanglah untuk sebuah impian,
Berkorbanlah walau hanya sedikit,
Derita ini pasti dapat kau tahan!”
Aku turuti ‘Dia’ walau perlahan aku mengecil
‘Tak kunjung jua aku dengar sebuah pujian
Yang ‘Dia’ ucapkan hanya membuatku terkucil
Dan aku jalani hidup dalam celaan
Aku meredup, aku meredup, aku meredup…
Gelap gulita, gelap gulita, gelap gulita…
Apa pun yang kulakukan ‘tak pernah cukup
Apa pun yang kulakukan aku ‘tak pernah bahagia
…
Dan aku teringat ‘kan suatu pagi
Pertama kali set’lah sekian lama
Samar kudengar suara langkah kaki
Memasuki hidupku yang t’lah hampa
Tiba seorang ksatria ‘tak bernama
Yang Tuhan kirimkan kepadaku
Dia berikan secercah cahaya
Keluar dari jurang lara Dia menuntunku
Dia mengajarkanku membuka mata
‘Tuk melihat hidup yang penuh keagungan
Yang membuatku merasa besar karenanya
Dan bukan cacat diri yang mengucilkan
Dia mengajarkanku membuka telinga,
‘Tuk dengarkan senandung alam
Yang merdu menyejukkan jiwa
Dan bukan celaan yang kejam menerkam
Dia mengajarkanku membuka ind’ra rasa
‘Tuk merasakan kelembutan tingkah laku
Yang menyelaraskan hidup antar sesama
Dan bukan kekerasan yang menggelisahkanku
Dia mengajarkanku membuka bibir
‘Tuk bisikkan syair syukur kepadaNya
Yang membuatku bahagia t’lah terlahir
Dan bukan keluhan yang membawa sengsara
Karenanya aku t’lah berubah:
Aku ‘tak lagi seorang gadis yang lemah!
Aku ‘tak lagi seorang gadis yang resah!
Aku ‘tak lagi seorang gadis yang merasa rendah!
Karenanya, aku dapat berseru
“Keindahan semu, lepaskan aku dari belenggu,
Aku rebut kembali kebebasanku,
‘Takkan lagi aku menjadi budakmu!”
‘Dia’ melawan, namun kugunakan sebuah senjata
Yang t’lah Dia berikan dan ajarkan
Senjata bernama Syukur dan Cinta
Cinta kepada diri dan yang t’lah Tuhan berikan
Berkat Dia, ‘Dia’ aku tebas
Dan kini aku terlepas
Menjadi manusia bebas
Dalam hidup yang indahnya ‘tak terbatas.
Yogyakarta, 11 November 2008 (original)
Yogyakarta, 11 Juni 2009 2:37 am (revisi)
Aku senang bisa menyelesaikan tulisan ini karena naskah drama yang asli belum (dan kelihatannya tidak akan) terselesaikan. Akhirnya aku bisa memberikan akhir yang bahagia untuk tokoh utama dan semoga kebahagiaan juga didapatkan oleh mereka yang sedang mengalami krisis kepercayaan diri ^_^
++ Dia ++
Aku teringat ‘kan suatu senja,
Kala pertama ‘Dia’ datang dalam hidupku
Badai perubahan ‘Dia’ bawa bersamanya
Kacaukan pikiranku yang tiada berilmu
…
“Wahai cermin, cermin di dinding
Apakah diriku terlihat menawan?”
Suara yang terdengar membuatku ‘tak bergeming
‘Dia’ berkata, “Jauh dirimu dari keindahan!”
Mulai ‘Dia’ senandungkan nada-nada sumbang
“ Tiada terlukis di wajahmu kecantikan,
Tiada terpancar darimu cahaya gemilang,
Yang kulihat hanyalah ketidaksempurnaan.”
Terus ‘Dia’ nyanyikan tembang penyayat hati
“Lihatlah mereka yang cantik jelita,
Peragawati putih kurus nan semampai!
Tiada lelaki yang ‘tak mencinta.”
Aku menangis, namun ‘Dia’ ‘tak kunjung berhenti
“ Dan lihatlah dirimu, hai wanita tanpa pesona!
‘Tak sadarkah bahwa tubuhmu begitu berisi?
Betapa engkau ‘tak sedap dipandang mata!”
Ah, dalam sekejap ‘Dia’ mendorongku
Ke dalam penjara bernama ‘Tidak Percaya Diri’
Di sana hatiku mulai membeku
Dan semua tentang parasku mulai kubenci
‘Dia’ mulai ucapkan aku sebuah janji
“Kutawarkan kepadamu sebuah dunia,
Yang ‘tak menjual hal-hal palsu bernama mimpi,
Atau untaian kata manis ‘tak bermakna.”
Terus, terus, tiada henti ‘Dia’ merayu
“Dunia sek’lilingmu bertaburkan dusta,
Mereka berucap cantik kepadamu,
Walau dalam hati mereka mencela.”
Lalu ‘Dia’ tawarkan persahabatan semu
“Hanya padaku dirimu bisa percaya,
Walau sekarang dunia menolakmu,
Di sampingmu ‘ku ‘kan selalu ada.”
Dan dalam kebodohanku aku percaya
Kuizinkan ‘Dia’ masuk dalam hidupku
‘Tak terasa aku menjadi boneka tanpa daya
Ucapannya mengendalikanku s’lalu
Dia tetapkan aturan-aturan:
Kekurusan adalah kesempurnaan
Tiada makanan yang menjadi kawan
Rasa lapar adalah tanda kemenangan
Hari-hari sengsara aku lewati
Ucapan kawan tiada aku dengarkan
Aku tahan lapar yang menusuk bagai belati
Mengharap ‘ku ‘kan capai keindahan yang ‘Dia’ janjikan
Kala aku mengeluh, ‘Dia’ menyeru sengit
“ Berjuanglah untuk sebuah impian,
Berkorbanlah walau hanya sedikit,
Derita ini pasti dapat kau tahan!”
Aku turuti ‘Dia’ walau perlahan aku mengecil
‘Tak kunjung jua aku dengar sebuah pujian
Yang ‘Dia’ ucapkan hanya membuatku terkucil
Dan aku jalani hidup dalam celaan
Aku meredup, aku meredup, aku meredup…
Gelap gulita, gelap gulita, gelap gulita…
Apa pun yang kulakukan ‘tak pernah cukup
Apa pun yang kulakukan aku ‘tak pernah bahagia
…
Dan aku teringat ‘kan suatu pagi
Pertama kali set’lah sekian lama
Samar kudengar suara langkah kaki
Memasuki hidupku yang t’lah hampa
Tiba seorang ksatria ‘tak bernama
Yang Tuhan kirimkan kepadaku
Dia berikan secercah cahaya
Keluar dari jurang lara Dia menuntunku
Dia mengajarkanku membuka mata
‘Tuk melihat hidup yang penuh keagungan
Yang membuatku merasa besar karenanya
Dan bukan cacat diri yang mengucilkan
Dia mengajarkanku membuka telinga,
‘Tuk dengarkan senandung alam
Yang merdu menyejukkan jiwa
Dan bukan celaan yang kejam menerkam
Dia mengajarkanku membuka ind’ra rasa
‘Tuk merasakan kelembutan tingkah laku
Yang menyelaraskan hidup antar sesama
Dan bukan kekerasan yang menggelisahkanku
Dia mengajarkanku membuka bibir
‘Tuk bisikkan syair syukur kepadaNya
Yang membuatku bahagia t’lah terlahir
Dan bukan keluhan yang membawa sengsara
Karenanya aku t’lah berubah:
Aku ‘tak lagi seorang gadis yang lemah!
Aku ‘tak lagi seorang gadis yang resah!
Aku ‘tak lagi seorang gadis yang merasa rendah!
Karenanya, aku dapat berseru
“Keindahan semu, lepaskan aku dari belenggu,
Aku rebut kembali kebebasanku,
‘Takkan lagi aku menjadi budakmu!”
‘Dia’ melawan, namun kugunakan sebuah senjata
Yang t’lah Dia berikan dan ajarkan
Senjata bernama Syukur dan Cinta
Cinta kepada diri dan yang t’lah Tuhan berikan
Berkat Dia, ‘Dia’ aku tebas
Dan kini aku terlepas
Menjadi manusia bebas
Dalam hidup yang indahnya ‘tak terbatas.
Yogyakarta, 11 November 2008 (original)
Yogyakarta, 11 Juni 2009 2:37 am (revisi)
++ Rahasia ‘Tuk Bulan Purnama ++
++ Rahasia ‘Tuk Bulan Purnama ++
Duhai bulan purnama,
Sudikah dikau membuka telinga
‘Tuk dengarkanku tuturkan suatu rahasia
Yang t’lah lama tersimpan di dada?
Ada seorang lelaki yang ingin mesra kusapa
Namun kala aku dan dia bertukar kata
Hati dan bibir ucapkan hal yang berbeda
Terdiam, kunikmati yang ada dalam darinya
Semua yang ‘tak sempurna dan sempurna
Bagiku, sangatlah mempesona
Duhai bulan purnama,
Sepanjang waktu engkau bercahaya
Tiada kala aku ‘tak bermimpi tentangnya
Dan hampa kurasa kala diam aku terjaga
Senantiasa kurajut benang-benang cinta
Yang hanya berada dalam alam fana
Dan kubayangkan indahnya yang ‘kan tercipta
Ah, angan-angan ini membuatku gila, tersiksa
Aku ingin terbebas dari bayang-bayangnya
Tapi ada daya, rasa ini ‘tak kunjung sirna
Duhai bulan purnama,
Pantaskah aku berharap kasih dan cinta
Dari lelaki yang begitu bercahaya
Sedangkan diriku hanyalah wanita biasa?
Bagaimana bisa aku katakan padanya
Karenanya aku tenggelam dalam sebuah telaga
Menyesakkanku dengan sengsara, lara, dan… bahagia?
Atau haruskah aku kubur semua rasa
Tanpa dia pernah melihat bara asmara yang pernah ada
Dan dalam hatinya diriku kan s’lalu tiada?
Duhai bulan purnama,
Dengarkanlah nada-nada cinta tertulis untuknya
Bisikkan kepadanya yang kini jauh di mata,
Agar terlelap dia hingga mentari menyapa
Kini temanilah aku yang memanjatkan doa:
Jikalau tiada pernah hati kami bersua
Di jalur hidup yang t’lah ditentukan olehNya
Kuharap suatu kala aku ‘kan menjadi sahabatnya
Tempat berteduhnya kala hujan emosi menerpa
Pelipur lara. Itu saja.
Yogyakarta, 10 Juni 2009 2:14
Duhai bulan purnama,
Sudikah dikau membuka telinga
‘Tuk dengarkanku tuturkan suatu rahasia
Yang t’lah lama tersimpan di dada?
Ada seorang lelaki yang ingin mesra kusapa
Namun kala aku dan dia bertukar kata
Hati dan bibir ucapkan hal yang berbeda
Terdiam, kunikmati yang ada dalam darinya
Semua yang ‘tak sempurna dan sempurna
Bagiku, sangatlah mempesona
Duhai bulan purnama,
Sepanjang waktu engkau bercahaya
Tiada kala aku ‘tak bermimpi tentangnya
Dan hampa kurasa kala diam aku terjaga
Senantiasa kurajut benang-benang cinta
Yang hanya berada dalam alam fana
Dan kubayangkan indahnya yang ‘kan tercipta
Ah, angan-angan ini membuatku gila, tersiksa
Aku ingin terbebas dari bayang-bayangnya
Tapi ada daya, rasa ini ‘tak kunjung sirna
Duhai bulan purnama,
Pantaskah aku berharap kasih dan cinta
Dari lelaki yang begitu bercahaya
Sedangkan diriku hanyalah wanita biasa?
Bagaimana bisa aku katakan padanya
Karenanya aku tenggelam dalam sebuah telaga
Menyesakkanku dengan sengsara, lara, dan… bahagia?
Atau haruskah aku kubur semua rasa
Tanpa dia pernah melihat bara asmara yang pernah ada
Dan dalam hatinya diriku kan s’lalu tiada?
Duhai bulan purnama,
Dengarkanlah nada-nada cinta tertulis untuknya
Bisikkan kepadanya yang kini jauh di mata,
Agar terlelap dia hingga mentari menyapa
Kini temanilah aku yang memanjatkan doa:
Jikalau tiada pernah hati kami bersua
Di jalur hidup yang t’lah ditentukan olehNya
Kuharap suatu kala aku ‘kan menjadi sahabatnya
Tempat berteduhnya kala hujan emosi menerpa
Pelipur lara. Itu saja.
Yogyakarta, 10 Juni 2009 2:14
++ Sajak-Sajak Mimpi ++
Dua sajak dengan penafsiran yang berbeda tentang mimpi.
++ Sajak Mimpi (Indah) ++
Mimpi.
Engkau berikan naungan dan kedamaian,
‘Tuk mereka yang diterpa badai kehidupan.
Mimpi.
Engkau lukiskan hasrat terpendam,
‘Tuk mereka yang berkanvaskan cita ‘tak berwarna, buram.
Mimpi.
Engkau ciptakan jalur pertemuan,
‘Tuk mereka yang terpisah oleh lautan.
Mimpi.
Engkau kisahkan roman berakhir bahagia,
‘Tuk mereka yang dimabuk asmara.
Mimpi.
Engkau bangkitkan inspirasi
‘Tuk mereka seniman yang sedang mati suri
Ah Mimpi,
Engkau sumber kehidupan.
Engkau sumber kebahagiaan.
Engkau sumber inspirasi.
Bagi mereka…
Namuh tidak bagiku,
Yang s’lalu luluh lantak karenamu…
Engkau berikan keindahan ‘tak terhingga
Yang hanyalah buih-buih fana nan ‘tak nyata
‘Kan hilang ‘tak berbekas kala mata terbuka
Dan membuatku hampa karenanya.
Engkau pertemukan aku dengan lelaki yang kurindu
Namun kala rasa antara aku dan dia ‘kan bersatu,
Sekejap engkau hancurkan semua itu
Tinggalkan aku yang terjaga ‘tuk menangis pilu
Ah Mimpi, engkau bagaikan candu
Engkau suntikkan ke nadi hidupku kebahagiaan semu,
Engkau membuatku gila kala semua berlalu,
Engkau memenjaraku, membelengguku…
Dan selamanya ‘ku ‘kan menjadi budakmu.
Jember, 16 Juni 2009 23.44
++ Sajak Mimpi (Buruk) ++
Mimpi,
Engkau adalah musuh abadi,
Yang s’lalu mencoba ‘tuk membunuhku berkali-kali,
Dengan cara yang teramat keji:
Engkau tenggelamkan diriku ke samud’ra ‘tak bertepi
Engkau bakar diriku dalam kobaran api,
Engkau bekukan diriku dalam gunung es yang menjulang tinggi
Engkau penjarakan diriku tanpa kawan di gua sunyi
Engkau menikamku dengan seribu belati
Engkau kisahkan mereka yang kucinta dengan tragedi
Engkau bawa masa lalu kelam ‘tuk menghantui
Engkau coba yakinkan masa depan ‘ku kan mati
Mimpi, senantiasa engkau mencoba
‘Tuk membuat hidupku sengsara
Namun kegagalan ‘kan s’lalu egkau sua
Karena aku tahu engkau ‘tak nyata!
Kegelapanmu ‘kan ‘tak berbekas, sirna
Kala mataku terbuka dan mentari pagi kusapa
Ah mimpi, musuh abadiku,
Walau ‘tak ‘kan pernah aku lepas darimu
Walau engkau kejam kepadaku s’lalu
Terima kasih ‘kan aku ucapkan,
Karenamu aku bisa melihat keindahan
Yang tersirat dalam nyatanya kehidupan.
Jember, Juni 17 2009 00:24
++ Sajak Mimpi (Indah) ++
Mimpi.
Engkau berikan naungan dan kedamaian,
‘Tuk mereka yang diterpa badai kehidupan.
Mimpi.
Engkau lukiskan hasrat terpendam,
‘Tuk mereka yang berkanvaskan cita ‘tak berwarna, buram.
Mimpi.
Engkau ciptakan jalur pertemuan,
‘Tuk mereka yang terpisah oleh lautan.
Mimpi.
Engkau kisahkan roman berakhir bahagia,
‘Tuk mereka yang dimabuk asmara.
Mimpi.
Engkau bangkitkan inspirasi
‘Tuk mereka seniman yang sedang mati suri
Ah Mimpi,
Engkau sumber kehidupan.
Engkau sumber kebahagiaan.
Engkau sumber inspirasi.
Bagi mereka…
Namuh tidak bagiku,
Yang s’lalu luluh lantak karenamu…
Engkau berikan keindahan ‘tak terhingga
Yang hanyalah buih-buih fana nan ‘tak nyata
‘Kan hilang ‘tak berbekas kala mata terbuka
Dan membuatku hampa karenanya.
Engkau pertemukan aku dengan lelaki yang kurindu
Namun kala rasa antara aku dan dia ‘kan bersatu,
Sekejap engkau hancurkan semua itu
Tinggalkan aku yang terjaga ‘tuk menangis pilu
Ah Mimpi, engkau bagaikan candu
Engkau suntikkan ke nadi hidupku kebahagiaan semu,
Engkau membuatku gila kala semua berlalu,
Engkau memenjaraku, membelengguku…
Dan selamanya ‘ku ‘kan menjadi budakmu.
Jember, 16 Juni 2009 23.44
++ Sajak Mimpi (Buruk) ++
Mimpi,
Engkau adalah musuh abadi,
Yang s’lalu mencoba ‘tuk membunuhku berkali-kali,
Dengan cara yang teramat keji:
Engkau tenggelamkan diriku ke samud’ra ‘tak bertepi
Engkau bakar diriku dalam kobaran api,
Engkau bekukan diriku dalam gunung es yang menjulang tinggi
Engkau penjarakan diriku tanpa kawan di gua sunyi
Engkau menikamku dengan seribu belati
Engkau kisahkan mereka yang kucinta dengan tragedi
Engkau bawa masa lalu kelam ‘tuk menghantui
Engkau coba yakinkan masa depan ‘ku kan mati
Mimpi, senantiasa engkau mencoba
‘Tuk membuat hidupku sengsara
Namun kegagalan ‘kan s’lalu egkau sua
Karena aku tahu engkau ‘tak nyata!
Kegelapanmu ‘kan ‘tak berbekas, sirna
Kala mataku terbuka dan mentari pagi kusapa
Ah mimpi, musuh abadiku,
Walau ‘tak ‘kan pernah aku lepas darimu
Walau engkau kejam kepadaku s’lalu
Terima kasih ‘kan aku ucapkan,
Karenamu aku bisa melihat keindahan
Yang tersirat dalam nyatanya kehidupan.
Jember, Juni 17 2009 00:24
++ Sajak-Sajak Perjalanan ++
Sekumpulan sajak yang tertulis ketika aku berada dalam perjalanan.
++ Yang Kusyukuri ++
Bukan intan berlian yang begitu berharga
Namun hamparan luas padang padi di luar sana
Bermandikan cahaya mentari senja
Emas berkilauan takjubkan mata
Bukan tarian wanita molek yang mempesona
Namun pohon pisang yang melambai malu-malu
Dengarkan bisikan angin sore mesra nan merdu
Indahnya begitu menyejukkan kalbu
Bukan petikan-petikan harpa yang meresap di hati
Namun suara panggilan doa di penutup hari
Iringi nyanyian burung camar yang berterbangan tinggi
Menyeru-nyeru bangkitkan jiwa yang mati
Bukan uang materi yang aku syukuri
Namun bisa hidup satu hari lagi
Saksikan beralih tahtanya sang mentari
Bersama seseorang yang aku sayangi
Madiun, 18 Juni 2009 17.23 (original)
Yogyakarta, 19 Juni 2009 23.34 (revisi)
++ Terlelaplah ++
Tertidur lelap di sampingku
Gadis kecil manis nan lugu
Tergerai rambut panjangnya
Hitam tebal nan bercahaya
Lelah tersirat di wajah mungilnya
Namun ‘tak pupuskan pesona yang ada
Raungan kereta bisingkan telinga
Namun senandung lirih tidurnya hangatkan jiwa
Ah gadis kecilku, adik sepupuku
Biarlah angin malam membelaimu
Antarkan dirimu ke alam kedamaian
Hingga kita tiba di tempat tujuan
Klaten, 18 Juni 2009 20.15
++ Senja Perjalanan ++
Kulihat terbentang di luar jendela,
langit berhiaskan nada-nada nila dan jingga.
Kudengar mesin bergemuruh perkasa,
meredam senandung alam di luar sana.
Walau tiada terdengar olehku,
kubayangkan burung-burung berkicau merdu,
tandai waktu ‘tuk sang maha surya,
kembali ke peristirahatannya.
Walau tubuh terduduk penat,
kurasakan bahagia yang teramat sangat,
karena kala rembulan bercahaya,
‘ku ‘kan bertemu mereka yang tercinta.
Dan kupanjatkan syukur kepada Tuhan,
yang t'lah melimpahkan hidupku dengan cinta dan kebahagiaan.
Nganjuk, 12 Juni 2009 17.30
++ Yang Kusyukuri ++
Bukan intan berlian yang begitu berharga
Namun hamparan luas padang padi di luar sana
Bermandikan cahaya mentari senja
Emas berkilauan takjubkan mata
Bukan tarian wanita molek yang mempesona
Namun pohon pisang yang melambai malu-malu
Dengarkan bisikan angin sore mesra nan merdu
Indahnya begitu menyejukkan kalbu
Bukan petikan-petikan harpa yang meresap di hati
Namun suara panggilan doa di penutup hari
Iringi nyanyian burung camar yang berterbangan tinggi
Menyeru-nyeru bangkitkan jiwa yang mati
Bukan uang materi yang aku syukuri
Namun bisa hidup satu hari lagi
Saksikan beralih tahtanya sang mentari
Bersama seseorang yang aku sayangi
Madiun, 18 Juni 2009 17.23 (original)
Yogyakarta, 19 Juni 2009 23.34 (revisi)
++ Terlelaplah ++
Tertidur lelap di sampingku
Gadis kecil manis nan lugu
Tergerai rambut panjangnya
Hitam tebal nan bercahaya
Lelah tersirat di wajah mungilnya
Namun ‘tak pupuskan pesona yang ada
Raungan kereta bisingkan telinga
Namun senandung lirih tidurnya hangatkan jiwa
Ah gadis kecilku, adik sepupuku
Biarlah angin malam membelaimu
Antarkan dirimu ke alam kedamaian
Hingga kita tiba di tempat tujuan
Klaten, 18 Juni 2009 20.15
++ Senja Perjalanan ++
Kulihat terbentang di luar jendela,
langit berhiaskan nada-nada nila dan jingga.
Kudengar mesin bergemuruh perkasa,
meredam senandung alam di luar sana.
Walau tiada terdengar olehku,
kubayangkan burung-burung berkicau merdu,
tandai waktu ‘tuk sang maha surya,
kembali ke peristirahatannya.
Walau tubuh terduduk penat,
kurasakan bahagia yang teramat sangat,
karena kala rembulan bercahaya,
‘ku ‘kan bertemu mereka yang tercinta.
Dan kupanjatkan syukur kepada Tuhan,
yang t'lah melimpahkan hidupku dengan cinta dan kebahagiaan.
Nganjuk, 12 Juni 2009 17.30
++ Sajak-Sajak Kolaborasi ++
Berikut sekumpulan sajak yang tercipta dari dari keisenganku, yang menantang pesajak lain untuk merampungkan sajak-sajak yang udah dimulai :D
++ Ilalang ++
Terkisah hidup sang ilalang,
Kepada langit ia s’lalu memandang.
Tiada lelah ia melambai-lambai,
Kasih langit coba ‘tuk ia gapai.
Namun Ilalang hanya makhluk biasa,
Langit ‘tak pernah menyambut cintanya.
Ilalang hanya bisa terdiam tanpa kata,
Kala langit menitikkan air mata.
Ilalang hanya bisa terbakar cemburu,
Kala bersama awan, langit bercumbu.
Ilalang hanya bisa menatap tanpa daya,
Kala buih air melukis wajah langit dengan pelangi tujuh warna. **
Walau pedih akan kasih ‘tak tersampaikan,
Tetap kasih Ilalang ‘tak tergoyahkan.
Ilalang tetap menanti setia,
‘Tak terbuai oleh belaian angin mesra.
Ilalang tetap menatap ke atas den terus tumbuh,
‘Tak hancur oleh injakan-injakan mereka yang angkuh.
Ilalang sang pecinta tetap bahagia,
Karena setidaknya, di mata langit, ia ada.
Laksmi Tjahjono; Madiun, 12 Juni 2009 16.25 (original)
Yogyakarta, 20 Juni 2009 00.25 (revisi)**
***
Ilalang, ilalangku kesepian...
Kering dirimu bak hadapi kematian.
Tidakkah kau dengar makna alam?
Kasih sayang Tuhan melalui langit,awan, dan hujan atas ilalang:
Tiupan angin lembut sepoi belai dirimu perlahan,
Sampaikan pesan dari seberang lautan,
Rintik hujan kecil sejukkan kehidupan,
Langit biru tawarkan dirimu terang,
Awan kecil rangkulimu dari teriknya rona sonar sang surya,
Pelangi indah pun percaya ‘tuk jejakkan kedua pucuknya di bahu lemahmu.
Ilalang, hidupmu di atas bukit kebahagiaan,
Hijaukan padang, damaikan hati, terangkan soca.
Ilalang, meski kau tetaplah ilalang...
Pun begitu, kau berikan warna bagi langit dan kehidupan.
FR; Makassar, 12 Juni 2009 23.37
++ Cahaya ++
Tertegun aku dalam kegelapan
Tiada cahaya menerangi jalanku
Tertidur lelap sang rembulan
Berselimutkan awan kelam nan kelabu
***
Terangi, hangatkan hatiku yang beku,
Bukanlah sekedar fajar merah merekah,
Pun senja merah merona.
Adalah hati bening putih kekilauan,
Tuntunku dalam damai, biru kedamaian.
Baris 1 – 4, Laksmi Tjahjono, Yogyakarta 8 Juni 2009, 21:22
Baris 5 – 9, FR, Makassar 8 Juni 2009, 22:35
++ Ilalang ++
Terkisah hidup sang ilalang,
Kepada langit ia s’lalu memandang.
Tiada lelah ia melambai-lambai,
Kasih langit coba ‘tuk ia gapai.
Namun Ilalang hanya makhluk biasa,
Langit ‘tak pernah menyambut cintanya.
Ilalang hanya bisa terdiam tanpa kata,
Kala langit menitikkan air mata.
Ilalang hanya bisa terbakar cemburu,
Kala bersama awan, langit bercumbu.
Ilalang hanya bisa menatap tanpa daya,
Kala buih air melukis wajah langit dengan pelangi tujuh warna. **
Walau pedih akan kasih ‘tak tersampaikan,
Tetap kasih Ilalang ‘tak tergoyahkan.
Ilalang tetap menanti setia,
‘Tak terbuai oleh belaian angin mesra.
Ilalang tetap menatap ke atas den terus tumbuh,
‘Tak hancur oleh injakan-injakan mereka yang angkuh.
Ilalang sang pecinta tetap bahagia,
Karena setidaknya, di mata langit, ia ada.
Laksmi Tjahjono; Madiun, 12 Juni 2009 16.25 (original)
Yogyakarta, 20 Juni 2009 00.25 (revisi)**
***
Ilalang, ilalangku kesepian...
Kering dirimu bak hadapi kematian.
Tidakkah kau dengar makna alam?
Kasih sayang Tuhan melalui langit,awan, dan hujan atas ilalang:
Tiupan angin lembut sepoi belai dirimu perlahan,
Sampaikan pesan dari seberang lautan,
Rintik hujan kecil sejukkan kehidupan,
Langit biru tawarkan dirimu terang,
Awan kecil rangkulimu dari teriknya rona sonar sang surya,
Pelangi indah pun percaya ‘tuk jejakkan kedua pucuknya di bahu lemahmu.
Ilalang, hidupmu di atas bukit kebahagiaan,
Hijaukan padang, damaikan hati, terangkan soca.
Ilalang, meski kau tetaplah ilalang...
Pun begitu, kau berikan warna bagi langit dan kehidupan.
FR; Makassar, 12 Juni 2009 23.37
++ Cahaya ++
Tertegun aku dalam kegelapan
Tiada cahaya menerangi jalanku
Tertidur lelap sang rembulan
Berselimutkan awan kelam nan kelabu
***
Terangi, hangatkan hatiku yang beku,
Bukanlah sekedar fajar merah merekah,
Pun senja merah merona.
Adalah hati bening putih kekilauan,
Tuntunku dalam damai, biru kedamaian.
Baris 1 – 4, Laksmi Tjahjono, Yogyakarta 8 Juni 2009, 21:22
Baris 5 – 9, FR, Makassar 8 Juni 2009, 22:35
27 June 2009
++ Sajak-sajak Mimpi ++
Dua sajak dengan penafsiran yang berbeda tentang mimpi.
++ Sajak Mimpi (Indah) ++
Mimpi.
Engkau berikan naungan dan kedamaian,
‘Tuk mereka yang diterpa badai kehidupan.
Mimpi.
Engkau lukiskan hasrat terpendam,
‘Tuk mereka yang berkanvaskan cita ‘tak berwarna, buram.
Mimpi.
Engkau ciptakan jalur pertemuan,
‘Tuk mereka yang terpisah oleh lautan.
Mimpi.
Engkau kisahkan roman berakhir bahagia,
‘Tuk mereka yang dimabuk asmara.
Mimpi.
Engkau bangkitkan inspirasi
‘Tuk mereka seniman yang sedang mati suri
Ah Mimpi,
Engkau sumber kehidupan.
Engkau sumber kebahagiaan.
Engkau sumber inspirasi.
Bagi mereka…
Namuh tidak bagiku,
Yang s’lalu luluh lantak karenamu…
Engkau berikan keindahan ‘tak terhingga
Yang hanyalah buih-buih fana nan ‘tak nyata
‘Kan hilang ‘tak berbekas kala mata terbuka
Dan membuatku hampa karenanya.
Engkau pertemukan aku dengan lelaki yang kurindu
Namun kala rasa antara aku dan dia ‘kan bersatu,
Sekejap engkau hancurkan semua itu
Tinggalkan aku yang terjaga ‘tuk menangis pilu
Ah Mimpi, engkau bagaikan candu
Engkau suntikkan ke nadi hidupku kebahagiaan semu,
Engkau membuatku gila kala semua berlalu,
Engkau memenjaraku, membelengguku…
Dan selamanya ‘ku ‘kan menjadi budakmu.
Jember, 16 Juni 2009 23.44
++ Sajak Mimpi (Buruk) ++
Mimpi,
Engkau adalah musuh abadi,
Yang s’lalu mencoba ‘tuk membunuhku berkali-kali,
Dengan cara yang teramat keji:
Engkau tenggelamkan diriku ke samud’ra ‘tak bertepi
Engkau bakar diriku dalam kobaran api,
Engkau bekukan diriku dalam gunung es yang menjulang tinggi
Engkau penjarakan diriku tanpa kawan di gua sunyi
Engkau menikamku dengan seribu belati
Engkau kisahkan mereka yang kucinta dengan tragedi
Engkau bawa masa lalu kelam ‘tuk menghantui
Engkau coba yakinkan masa depan ‘ku kan mati
Mimpi, senantiasa engkau mencoba
‘Tuk membuat hidupku sengsara
Namun kegagalan ‘kan s’lalu egkau sua
Karena aku tahu engkau ‘tak nyata!
Kegelapanmu ‘kan ‘tak berbekas, sirna
Kala mataku terbuka dan mentari pagi kusapa
Ah mimpi, musuh abadiku,
Walau ‘tak ‘kan pernah aku lepas darimu
Walau engkau kejam kepadaku s’lalu
Terima kasih ‘kan aku ucapkan,
Karenamu aku bisa melihat keindahan
Yang tersirat dalam nyatanya kehidupan.
Jember, Juni 17 2009 00:24
++ Sajak Mimpi (Indah) ++
Mimpi.
Engkau berikan naungan dan kedamaian,
‘Tuk mereka yang diterpa badai kehidupan.
Mimpi.
Engkau lukiskan hasrat terpendam,
‘Tuk mereka yang berkanvaskan cita ‘tak berwarna, buram.
Mimpi.
Engkau ciptakan jalur pertemuan,
‘Tuk mereka yang terpisah oleh lautan.
Mimpi.
Engkau kisahkan roman berakhir bahagia,
‘Tuk mereka yang dimabuk asmara.
Mimpi.
Engkau bangkitkan inspirasi
‘Tuk mereka seniman yang sedang mati suri
Ah Mimpi,
Engkau sumber kehidupan.
Engkau sumber kebahagiaan.
Engkau sumber inspirasi.
Bagi mereka…
Namuh tidak bagiku,
Yang s’lalu luluh lantak karenamu…
Engkau berikan keindahan ‘tak terhingga
Yang hanyalah buih-buih fana nan ‘tak nyata
‘Kan hilang ‘tak berbekas kala mata terbuka
Dan membuatku hampa karenanya.
Engkau pertemukan aku dengan lelaki yang kurindu
Namun kala rasa antara aku dan dia ‘kan bersatu,
Sekejap engkau hancurkan semua itu
Tinggalkan aku yang terjaga ‘tuk menangis pilu
Ah Mimpi, engkau bagaikan candu
Engkau suntikkan ke nadi hidupku kebahagiaan semu,
Engkau membuatku gila kala semua berlalu,
Engkau memenjaraku, membelengguku…
Dan selamanya ‘ku ‘kan menjadi budakmu.
Jember, 16 Juni 2009 23.44
++ Sajak Mimpi (Buruk) ++
Mimpi,
Engkau adalah musuh abadi,
Yang s’lalu mencoba ‘tuk membunuhku berkali-kali,
Dengan cara yang teramat keji:
Engkau tenggelamkan diriku ke samud’ra ‘tak bertepi
Engkau bakar diriku dalam kobaran api,
Engkau bekukan diriku dalam gunung es yang menjulang tinggi
Engkau penjarakan diriku tanpa kawan di gua sunyi
Engkau menikamku dengan seribu belati
Engkau kisahkan mereka yang kucinta dengan tragedi
Engkau bawa masa lalu kelam ‘tuk menghantui
Engkau coba yakinkan masa depan ‘ku kan mati
Mimpi, senantiasa engkau mencoba
‘Tuk membuat hidupku sengsara
Namun kegagalan ‘kan s’lalu egkau sua
Karena aku tahu engkau ‘tak nyata!
Kegelapanmu ‘kan ‘tak berbekas, sirna
Kala mataku terbuka dan mentari pagi kusapa
Ah mimpi, musuh abadiku,
Walau ‘tak ‘kan pernah aku lepas darimu
Walau engkau kejam kepadaku s’lalu
Terima kasih ‘kan aku ucapkan,
Karenamu aku bisa melihat keindahan
Yang tersirat dalam nyatanya kehidupan.
Jember, Juni 17 2009 00:24
09 June 2009
++ Kisah Kasih Sang Gadis Buta ++
Terbesit inspirasi (lagi-lagi!) ketika aku membaca komik ‘Blue Tears’ karangan Yukari Kawachi yang mengisahkan seorang gadis buta yang jatuh cinta kepada seorang lelaki yang pernah menolongnya. Aku kemudian berpikir mengenai cinta sang gadis buta; betapa tulus dan dalam dia mencintai seseorang karena dia jatuh cinta bukan karena penampilan, namun kepribadian. Sebenarnya aku juga bertanya-tanya mengenai perasaan dan pemikiran orang-orang buta yang jatuh cinta. Apa yang mereka bayangkan mengenai Yang Terkasih? Terciptalah sajak ini untuk mendalami karakter gadis buta di komik yang kusebutkan di atas. Sebenarnya ceritanya berakhir bahagia, tetapi berhubung aku pecinta kisah-kisah sendu mengharu biru, aku ubah kisah gadis buta di akhir sajak ini *menghindar dari lemparan sepatu dan tomat dari pembaca*. Selamat menikmati.
++ Kisah Kasih Sang Gadis Buta ++
Tiada pernah kulihat sepanjang hidupku
Langit senja yang merah tersipu malu,
Samud'ra yang berkilauan gemilang biru
Atau padang hijau yang menyejukkan kalbu
Yang s’lalu terbentang di depan mata;
Kabut hitam tiada bertepi
Karena takdir t’lah berucap kata
Dalam gelap hidup ‘kan kujalani
Namun mata hatiku ‘kan s’lalu terbuka
Kulihat kemilau cahaya
Kala dengan sosoknya ‘ku berjumpa
Lukiskan hidup dengan sejuta warna
Pertama bersua dia ulurkan tangan P
adaku yang tersandung di lintas kehidupan
Sentuhannya membawa kelembutan
Membuat hati terasa tentram dan nyaman
Sekejap jadikan dia bagian dari hidupku
Ketulusannya terasa manis di kalbu
Dan kini tiada malam datang dan berlalu
Tanpa diriku yang merindu ‘tuk bertemu
Ah, terucap mesra dari bibirnya
Munculkan percikan-percikan rasa
Yang memantik gelora di dada
Dan membakar jiwa dengan api asmara
---
Duhai pemilik suara yang terdengar merdu
Walau hanya bisa ‘ku menerka raut wajahmu
Dan lukiskan sosokmu di atas kanvas anganku
Yakinlah, rasa ini bukanlah bayang-bayang semu
Aku tahu aku bukanlah untukmu
Karena t’lah tersurat takdir, satu:
Di bawah gelap bersemayam diriku,
Dan kau ‘kan bermandikan cahaya s’lalu
Tapi izinkan aku yang ‘tak berteman dengan cahaya
‘Tuk s’lalu menggengam rasa yang begitu indahnya
Dan lirih aku ‘kan memohon kepadaNya
‘Kan dipertemukanmu dengan wanita yang sempurna.
Yogyakarta, 9 Juni 2009 12:05am
PS: Lama-lama blogku jadi tempat penampungan sajak-sajak yang kutulis. Entahlah akhir-akhir ini aku senang sekali menulis sajak ^^.
*Menulis sajak lagi aaahhh*
++ Kisah Kasih Sang Gadis Buta ++
Tiada pernah kulihat sepanjang hidupku
Langit senja yang merah tersipu malu,
Samud'ra yang berkilauan gemilang biru
Atau padang hijau yang menyejukkan kalbu
Yang s’lalu terbentang di depan mata;
Kabut hitam tiada bertepi
Karena takdir t’lah berucap kata
Dalam gelap hidup ‘kan kujalani
Namun mata hatiku ‘kan s’lalu terbuka
Kulihat kemilau cahaya
Kala dengan sosoknya ‘ku berjumpa
Lukiskan hidup dengan sejuta warna
Pertama bersua dia ulurkan tangan P
adaku yang tersandung di lintas kehidupan
Sentuhannya membawa kelembutan
Membuat hati terasa tentram dan nyaman
Sekejap jadikan dia bagian dari hidupku
Ketulusannya terasa manis di kalbu
Dan kini tiada malam datang dan berlalu
Tanpa diriku yang merindu ‘tuk bertemu
Ah, terucap mesra dari bibirnya
Munculkan percikan-percikan rasa
Yang memantik gelora di dada
Dan membakar jiwa dengan api asmara
---
Duhai pemilik suara yang terdengar merdu
Walau hanya bisa ‘ku menerka raut wajahmu
Dan lukiskan sosokmu di atas kanvas anganku
Yakinlah, rasa ini bukanlah bayang-bayang semu
Aku tahu aku bukanlah untukmu
Karena t’lah tersurat takdir, satu:
Di bawah gelap bersemayam diriku,
Dan kau ‘kan bermandikan cahaya s’lalu
Tapi izinkan aku yang ‘tak berteman dengan cahaya
‘Tuk s’lalu menggengam rasa yang begitu indahnya
Dan lirih aku ‘kan memohon kepadaNya
‘Kan dipertemukanmu dengan wanita yang sempurna.
Yogyakarta, 9 Juni 2009 12:05am
PS: Lama-lama blogku jadi tempat penampungan sajak-sajak yang kutulis. Entahlah akhir-akhir ini aku senang sekali menulis sajak ^^.
*Menulis sajak lagi aaahhh*
08 June 2009
++ Beberapa Puisi Picisan ++
Seorang sahabat dahulu menganjurkanku untuk menulis puisi jikalau hati sedang dipenuhi sedih, gundah, gelisah atau segala perasaan lain yang tidak mengenakkan. Berhubung akhir-akhir ini aku dilanda kebimbangan yang menyesakkan dada, akhirnya iseng-iseng aku menulis puisi. Berhubung aku hanyalah mahasiswa yang jurusannya tidak berbau sastra sama sekali, puisi-puisi di bawah ini jangan ditertawakan dan dihina secara ekstrim. Aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata *lagu Base Jam melatarbelakangi*.
++ Di persimpangan ++
Tertambat raga di persimpangan
Bersua ia, sang kebimbangan
Tersayat jiwa ‘tuk memutuskan
Antara dua yang berlawanan
Satu jalan, berselimut langit biru
Tanpa badai, satu itu aku tahu
Di yang lain, kelabu nan mara bahaya N
amun tetap, kulihat sepercik cahaya
Jauh ke depan aku memandang
Dua pilihan kutimang-timang
Saat sebuah hendak kujelang
Hati sebelah lirih meradang
Andai dapat kupilih semua
Hati ‘takkan diterpa dilemma
Namun takdir telah bertitah
Dengan satu, harus berpisah
Sekarang tiba penentu hidup itu
Selamat tinggal terucap pada satu
Kupilih jalan yang berawan kelabu
Di sana ‘ku yakin mentari menunggu
Kepada hati aku berjanji
Jikalau nanti lara menanti
Saat langkah satu terjagal
‘Takkan pernah aku menyesal
Ke belakang, ‘takkan pernah aku kembali
Masa lalu, satu yang tak aku ratapi
Ke depanlah, aku akan terus berlari D
i sanalah, sang mentari ‘kan kutemui
++ Elegi Hari Ini ++
Aku ingin memutar roda waktu,
dan bersua dengan sang masa lalu
Sekali lagi ingin ‘ku telusuri
Hijaunya hidup yang dulu ‘ku lewati
Rasa hangat masih melekat di dada
Saat ada aku, dia dan mereka
Betapa ingin ‘ku terbuai kembali
Di dalam indah yang t’lah kami lalui
Badai juga menerpa sanubari
Menyesali yang belum kujalani
Ke belakang ingin ‘ku berjalan
‘tuk merengkuh yang t’lah terlewatkan
Ah, betapa hatiku sedih melolong
Yang berlalu ‘tak mungkin lagi kusongsong
Kini menangis aku di persimpangan
Sangat kutakut menuju masa depan
Namun apa guna diri ratapi?
Masa itu takkan pernah kembali
Yang tersisa hanya pahit nan manisnya
Dan abadi ia terpatri di sukma
Jika ‘tak segera ‘ku ambil langkahku
Diri ‘kan menua di lajur sang waktu K
arena ia ‘tak menungguku berpikir
Sendiri ia kan terus deras mengalir
Aku lepas segala dengan mendesah
Masa lalu, ‘kau memang begitu indah
Namun satu ini aku ‘kan serukan
Masa depan akan lebih berkilauan!
++ Di persimpangan ++
Tertambat raga di persimpangan
Bersua ia, sang kebimbangan
Tersayat jiwa ‘tuk memutuskan
Antara dua yang berlawanan
Satu jalan, berselimut langit biru
Tanpa badai, satu itu aku tahu
Di yang lain, kelabu nan mara bahaya N
amun tetap, kulihat sepercik cahaya
Jauh ke depan aku memandang
Dua pilihan kutimang-timang
Saat sebuah hendak kujelang
Hati sebelah lirih meradang
Andai dapat kupilih semua
Hati ‘takkan diterpa dilemma
Namun takdir telah bertitah
Dengan satu, harus berpisah
Sekarang tiba penentu hidup itu
Selamat tinggal terucap pada satu
Kupilih jalan yang berawan kelabu
Di sana ‘ku yakin mentari menunggu
Kepada hati aku berjanji
Jikalau nanti lara menanti
Saat langkah satu terjagal
‘Takkan pernah aku menyesal
Ke belakang, ‘takkan pernah aku kembali
Masa lalu, satu yang tak aku ratapi
Ke depanlah, aku akan terus berlari D
i sanalah, sang mentari ‘kan kutemui
++ Elegi Hari Ini ++
Aku ingin memutar roda waktu,
dan bersua dengan sang masa lalu
Sekali lagi ingin ‘ku telusuri
Hijaunya hidup yang dulu ‘ku lewati
Rasa hangat masih melekat di dada
Saat ada aku, dia dan mereka
Betapa ingin ‘ku terbuai kembali
Di dalam indah yang t’lah kami lalui
Badai juga menerpa sanubari
Menyesali yang belum kujalani
Ke belakang ingin ‘ku berjalan
‘tuk merengkuh yang t’lah terlewatkan
Ah, betapa hatiku sedih melolong
Yang berlalu ‘tak mungkin lagi kusongsong
Kini menangis aku di persimpangan
Sangat kutakut menuju masa depan
Namun apa guna diri ratapi?
Masa itu takkan pernah kembali
Yang tersisa hanya pahit nan manisnya
Dan abadi ia terpatri di sukma
Jika ‘tak segera ‘ku ambil langkahku
Diri ‘kan menua di lajur sang waktu K
arena ia ‘tak menungguku berpikir
Sendiri ia kan terus deras mengalir
Aku lepas segala dengan mendesah
Masa lalu, ‘kau memang begitu indah
Namun satu ini aku ‘kan serukan
Masa depan akan lebih berkilauan!
++ Syair Rindu ++
Okay, akhirnya aku selesaikan puisi yang telah memakan jiwaku akhir-akhir ini dan terima kasih untuk Rad yang telah *memaksaku* untuk menerbitkan puisi ini hahaha. Jangan tertawakan diriku yang terlalu mendayu-dayu yaaa. Puisi-puisi lainnya bisa dilihat di terbitan
blogku sebelumnya.
++ Syair Rindu ++
Sahabat,
Pesonamu, dulu sering ‘kucemburu
Namun s’lalu, engkaulah inspirasiku
Kudengar bisik lembut sang nostalgia
Kisahkan kita lugu mengejar cinta
Yang s’lalu tersipu dan memerah merona
Kala bercerita tentang sebuah nama
Namun sayang, semua ‘tak lagi sama
Yang dulu satu, kini menjadi dua
Persimpangan waktu t’lah pisahkan kita
Entah di mana engkau kini berada
Betapa rindu aku dengan segala
Hangat pelukmu kala lara menyapa
Nakal godamu tentang aku dan dia
Anggun senyummu yang menawan semua
Sahabat, ‘takkan pernah aku berhenti
Jejakmu akan s’lalu aku cari
Kakanda,
Sejak pertama engkau ucap namaku
Hingga sekarang kusandang nama itu
Indahnya masa kita jelajah bersama
Mencari harta karun yang ‘tak pernah ada
Petak umpet kita mainkan dalam tawa
Di rumah yang dulu terasa oh, luasnya!
Kini kita telah beranjak dewasa,
Keabkraban kita perlahan tiada.
Kehangatan menjadi kedinginan
Satu itu sangat aku sesalkan
Aduh, hati melara merindu kepada
Nyali kita di kala beradu sepeda
Tari kita di bawah guyuran sang hujan
Tugas rumah yang bersama kita kerjakan
Kakanda, bisakah satu aku meminta,
‘Tuk kita kembali seperti dulu kala?
Ayahanda,
Aku tumbuh ‘tak melihat punggungmu
Namun sayang kutujukan padamu
Kecilku melihatmu keras bagai karang
Laksana halilintar suaramu lantang
Namun kala Ayahanda pulang kembali
‘Tak dapat kututupi wajah yang berseri
Ah, begitu kini kita bersama
Jurang usia memisahkan kita
Keangkuhanmu mencoba membentukku
Namun aku ingin bebas ‘tuk melaju
Betapa hati ini merindu,
Kala aku lugu menunggu
Ayahanda berdiri di balik pintu
Dan aku berlari ke dalam pelukmu
Ayahanda, walau jarang terucap kata
Sadarilah, hormatku ‘takkan pernah sirna
Ibunda,
Jika engkau tanya, ‘apakah yang indah?’
Akan kujawab, ‘senyummu yang merekah’
Kenangan lukiskan engkau bagai bidadari
Nyayian merdumu memelukku dalam mimpi
Lembut terasa belai jemarimu
Tenangkan aku yang menangis pilu
Kerasnya hidup t’lah kejam merubahmu
Melemparkanmu ke dalam jurang sendu
Padamkan ambisi yang berkobar dulu
Jadikan ceria kisah masa lalu
Mendesah aku yang begitu merindukan
Senyummu yang ‘tak melukiskan kesedihan
Matamu yang ‘tak menyiratkan kesepian
Langkahmu yang ‘tak meragakan kelelahan
Ibunda, harapku menjadi matahari
Agar hidupmu dapat s’lalu kusinari
Guru,
Bagaimana dapat kuucapkan dalam kata?
Rasa terima kasih yang tiada tara
Dalam senyuman engkau t’lah ajarkan
Makna yang ada dalam hidup yang berharga
Dengan perlahan engkau t’lah bukakan
Mata yang buta akan luasnya dunia
‘Tak lama waktu itu datang menyapa
Di mana aku meninggalkan remaja
Dan aku melangkah menuju dewasa
Menandai akhir perjumpaan kita
Dalam iringan nostalgia aku merindu
Ruang yang menggema oleh berat suaramu
Pengabdiamu yang meresap ke dalam kalbu
Nasehatmu yang menjadi pegangan hidupku
Guru, karenamu suatu saat nanti
‘ku kan menjadi seseorang yang berarti
Yogyakarta,
Lahirku terselimuti langit malammu
Dan kenanganmu ‘kan s’lalu mengiringiku
Bersamamu banyak yang t’lah aku alami
Di kotamu, aku mengenal patah hati
Namun engkau ijinkan aku cinta kembali
Dan engkau buat hidupku lebih berseri
Dari seberang lautan ‘kurindukan
Merdu dan sumbangnya nyanyian jalanan
Cahaya lampu malam yang berkilauan
Kawan-kawan yang t'lah engkau perkenalkan
Yogyakarta,
‘tak begitu panjang waktu kita bersama
Namun benang hidupku yang terajut betapa indahnya!
Yang Terkasih,
S’lama ini apakah dirimu tahu,
Pandanganku tertuju padamu s’lalu?
Awal kesanku, dirimu bagai elang
Membelah langit, sekejap dia terbang
Tak ada waktu, untuk dia 'kupegang
Lalu datang dirimu kala ‘kusendiri
Semenjak itu, aku ‘tak mengenal sang sepi
Dan mulai singgah dirimu di lubuk hati
Bukan, indah yang ‘kurasa bukan hanya mimpi
Kala bersamamu, langit s’lalu berpelangi,
Dan angin hembuskan harum semerbak melati
Namun waktu menyeretku dalam pusarannya
Tak terasa, harus kuucapkan sayonara
Ah, mengapa indah ‘tak bisa berlangsung lama?
Kunyanyikan syair ‘tuk ungkapkan rindu
Pada kisah tertutur dari bibirmu
Sindiranmu terhadap kebodohanku
Sejuknya pagi kala diri sabar menanti
Hangatnya siang kala dirimu menemani
Gerimis hujan yang kuharap ‘takkan berhenti
Ah, kini hati sedih meratap
Dari semua yang t’lah terucap A
da sebuah yang ‘tak terungkap
Yang Terkasih, betapa besar aku harapkan
Tiba saat kita kembali dipertemukan
Dan aku 'kan menjadi lebih dari kenangan
---
Semua Yang 'Kurindu,
Apakah kalian juga merasa
Sesuatu yang menyesakkan dada,
Namun juga membawa bahagia?
Jawabanya 'kan s'lalu aku terka.
blogku sebelumnya.
++ Syair Rindu ++
Sahabat,
Pesonamu, dulu sering ‘kucemburu
Namun s’lalu, engkaulah inspirasiku
Kudengar bisik lembut sang nostalgia
Kisahkan kita lugu mengejar cinta
Yang s’lalu tersipu dan memerah merona
Kala bercerita tentang sebuah nama
Namun sayang, semua ‘tak lagi sama
Yang dulu satu, kini menjadi dua
Persimpangan waktu t’lah pisahkan kita
Entah di mana engkau kini berada
Betapa rindu aku dengan segala
Hangat pelukmu kala lara menyapa
Nakal godamu tentang aku dan dia
Anggun senyummu yang menawan semua
Sahabat, ‘takkan pernah aku berhenti
Jejakmu akan s’lalu aku cari
Kakanda,
Sejak pertama engkau ucap namaku
Hingga sekarang kusandang nama itu
Indahnya masa kita jelajah bersama
Mencari harta karun yang ‘tak pernah ada
Petak umpet kita mainkan dalam tawa
Di rumah yang dulu terasa oh, luasnya!
Kini kita telah beranjak dewasa,
Keabkraban kita perlahan tiada.
Kehangatan menjadi kedinginan
Satu itu sangat aku sesalkan
Aduh, hati melara merindu kepada
Nyali kita di kala beradu sepeda
Tari kita di bawah guyuran sang hujan
Tugas rumah yang bersama kita kerjakan
Kakanda, bisakah satu aku meminta,
‘Tuk kita kembali seperti dulu kala?
Ayahanda,
Aku tumbuh ‘tak melihat punggungmu
Namun sayang kutujukan padamu
Kecilku melihatmu keras bagai karang
Laksana halilintar suaramu lantang
Namun kala Ayahanda pulang kembali
‘Tak dapat kututupi wajah yang berseri
Ah, begitu kini kita bersama
Jurang usia memisahkan kita
Keangkuhanmu mencoba membentukku
Namun aku ingin bebas ‘tuk melaju
Betapa hati ini merindu,
Kala aku lugu menunggu
Ayahanda berdiri di balik pintu
Dan aku berlari ke dalam pelukmu
Ayahanda, walau jarang terucap kata
Sadarilah, hormatku ‘takkan pernah sirna
Ibunda,
Jika engkau tanya, ‘apakah yang indah?’
Akan kujawab, ‘senyummu yang merekah’
Kenangan lukiskan engkau bagai bidadari
Nyayian merdumu memelukku dalam mimpi
Lembut terasa belai jemarimu
Tenangkan aku yang menangis pilu
Kerasnya hidup t’lah kejam merubahmu
Melemparkanmu ke dalam jurang sendu
Padamkan ambisi yang berkobar dulu
Jadikan ceria kisah masa lalu
Mendesah aku yang begitu merindukan
Senyummu yang ‘tak melukiskan kesedihan
Matamu yang ‘tak menyiratkan kesepian
Langkahmu yang ‘tak meragakan kelelahan
Ibunda, harapku menjadi matahari
Agar hidupmu dapat s’lalu kusinari
Guru,
Bagaimana dapat kuucapkan dalam kata?
Rasa terima kasih yang tiada tara
Dalam senyuman engkau t’lah ajarkan
Makna yang ada dalam hidup yang berharga
Dengan perlahan engkau t’lah bukakan
Mata yang buta akan luasnya dunia
‘Tak lama waktu itu datang menyapa
Di mana aku meninggalkan remaja
Dan aku melangkah menuju dewasa
Menandai akhir perjumpaan kita
Dalam iringan nostalgia aku merindu
Ruang yang menggema oleh berat suaramu
Pengabdiamu yang meresap ke dalam kalbu
Nasehatmu yang menjadi pegangan hidupku
Guru, karenamu suatu saat nanti
‘ku kan menjadi seseorang yang berarti
Yogyakarta,
Lahirku terselimuti langit malammu
Dan kenanganmu ‘kan s’lalu mengiringiku
Bersamamu banyak yang t’lah aku alami
Di kotamu, aku mengenal patah hati
Namun engkau ijinkan aku cinta kembali
Dan engkau buat hidupku lebih berseri
Dari seberang lautan ‘kurindukan
Merdu dan sumbangnya nyanyian jalanan
Cahaya lampu malam yang berkilauan
Kawan-kawan yang t'lah engkau perkenalkan
Yogyakarta,
‘tak begitu panjang waktu kita bersama
Namun benang hidupku yang terajut betapa indahnya!
Yang Terkasih,
S’lama ini apakah dirimu tahu,
Pandanganku tertuju padamu s’lalu?
Awal kesanku, dirimu bagai elang
Membelah langit, sekejap dia terbang
Tak ada waktu, untuk dia 'kupegang
Lalu datang dirimu kala ‘kusendiri
Semenjak itu, aku ‘tak mengenal sang sepi
Dan mulai singgah dirimu di lubuk hati
Bukan, indah yang ‘kurasa bukan hanya mimpi
Kala bersamamu, langit s’lalu berpelangi,
Dan angin hembuskan harum semerbak melati
Namun waktu menyeretku dalam pusarannya
Tak terasa, harus kuucapkan sayonara
Ah, mengapa indah ‘tak bisa berlangsung lama?
Kunyanyikan syair ‘tuk ungkapkan rindu
Pada kisah tertutur dari bibirmu
Sindiranmu terhadap kebodohanku
Sejuknya pagi kala diri sabar menanti
Hangatnya siang kala dirimu menemani
Gerimis hujan yang kuharap ‘takkan berhenti
Ah, kini hati sedih meratap
Dari semua yang t’lah terucap A
da sebuah yang ‘tak terungkap
Yang Terkasih, betapa besar aku harapkan
Tiba saat kita kembali dipertemukan
Dan aku 'kan menjadi lebih dari kenangan
---
Semua Yang 'Kurindu,
Apakah kalian juga merasa
Sesuatu yang menyesakkan dada,
Namun juga membawa bahagia?
Jawabanya 'kan s'lalu aku terka.
++ Sajak-Sajak Tempo Doeloe ++
Akhir-akhir ini aku mulai menulis puisi, dan terasa begitu menyenangkan. Ketika asyik-asyik menumpahkan isi hati ke laptop (bukan secarik kertas lagi), aku menemukan beberapa puisi lama; puisi-puisi ketika aku sedang mengalami krisis. Terdengar berlebihan mungkin, tetapi itulah yang aku rasa saat itu. Mengingatkanku akan masa lalu dan masa-masa yang t'lah aku lalui.
++ Esok Hari ++
Masa lampau sarat akan perjuangan
Yang tersisa malam ini, sebongkah penyesalan
Salahkan diriku, tak kuasa bertahan
Melawan bisikan kegelapan
Aku terdiam, perih ini tak terungkapkan oleh kata-kata
Aku yang terseret dan terpuruk dalam jurang putus asa
Kumenengadah dan kulihat para iblis tertawa-tawa
Mencemooh diriku yang begitu hina dan nista
Ah, akankah hidupku berakhir seperti ini?
Tiada kawan, ratapi hidup sendiri
Tinggalkan dunia dengan luka yang tak terperi,
Apakah diriku sebegitu tak berarti?
Tidak, tidak! Takkan kubiarkan hidupku mereka hancurkan!
Takkan kubiarkan diriku menjadi kegagalan!
Akan kukumpulkan kembali puing-puing harapan yang berserakan
Dan membangun hidup yang lebih berkilauan.
Apa pun yang terjadi.
Esok aku akan berjuang lagi!
Itu pasti.
++ Hang On ++
Hang on there, everything will be alright!
Ah, how many times have you heard that saying?
Yet in the tunnel we’re at, I see no light
And I know not what the future will bring
The first time I hurt you,
I said, “my friend, it will not happen again.”
The second time came out of the blue
You growled; but still, you endure all the pain
The third, the fourth, the fifth time came
It wasn’t long ‘til it became an endless chain
For I cannot stop this bertrayal game
And all your faith in me has proven in vain
Yes, I can hear it all the time
The sound of your screaming in agony
Yes, I do know my crime
For me to mention, far too many
Oh Lord, I don’t know what darkness traps me in
It pains me to hear you cry and whimper
Yet I cannot stop, the devil that kills me within
When a day goes by, it grows bigger
Hang on there, everything will soon be over
Yes, those words I keep telling you
But do you still believe me, I wonder?
After all the things I’ve done to you?
Someday, someday, someday…
Will you see my empty promises?
Will you lose faith in me?
Will you give up on me?
I refuse to believe, even though I have the answers
I close my eyes, even though I see the signs coming…
I close my ears, even though I hear you crying
Selfish as I am, grant me another chance
For me to fight for both of us.
I won’t hurt you.
I promise.
++ Esok Hari ++
Masa lampau sarat akan perjuangan
Yang tersisa malam ini, sebongkah penyesalan
Salahkan diriku, tak kuasa bertahan
Melawan bisikan kegelapan
Aku terdiam, perih ini tak terungkapkan oleh kata-kata
Aku yang terseret dan terpuruk dalam jurang putus asa
Kumenengadah dan kulihat para iblis tertawa-tawa
Mencemooh diriku yang begitu hina dan nista
Ah, akankah hidupku berakhir seperti ini?
Tiada kawan, ratapi hidup sendiri
Tinggalkan dunia dengan luka yang tak terperi,
Apakah diriku sebegitu tak berarti?
Tidak, tidak! Takkan kubiarkan hidupku mereka hancurkan!
Takkan kubiarkan diriku menjadi kegagalan!
Akan kukumpulkan kembali puing-puing harapan yang berserakan
Dan membangun hidup yang lebih berkilauan.
Apa pun yang terjadi.
Esok aku akan berjuang lagi!
Itu pasti.
++ Hang On ++
Hang on there, everything will be alright!
Ah, how many times have you heard that saying?
Yet in the tunnel we’re at, I see no light
And I know not what the future will bring
The first time I hurt you,
I said, “my friend, it will not happen again.”
The second time came out of the blue
You growled; but still, you endure all the pain
The third, the fourth, the fifth time came
It wasn’t long ‘til it became an endless chain
For I cannot stop this bertrayal game
And all your faith in me has proven in vain
Yes, I can hear it all the time
The sound of your screaming in agony
Yes, I do know my crime
For me to mention, far too many
Oh Lord, I don’t know what darkness traps me in
It pains me to hear you cry and whimper
Yet I cannot stop, the devil that kills me within
When a day goes by, it grows bigger
Hang on there, everything will soon be over
Yes, those words I keep telling you
But do you still believe me, I wonder?
After all the things I’ve done to you?
Someday, someday, someday…
Will you see my empty promises?
Will you lose faith in me?
Will you give up on me?
I refuse to believe, even though I have the answers
I close my eyes, even though I see the signs coming…
I close my ears, even though I hear you crying
Selfish as I am, grant me another chance
For me to fight for both of us.
I won’t hurt you.
I promise.
++ Sajak-Sajak Teruntuk Mereka Yang Pernah Singgah di Hati ++
Indahnya jatuh cinta, membawa sejuta inspirasi. Berikut adalah sajak yang dulu kutulis untuk kaum Adam yang pernah singgah di hati. Mengingat-ingat masa lalu, begitu indah namun tak terlepas dari kepahitan ketika rasa itu tak tersampaikan. Tetapi setidaknya, aku bersyukur karena proses jatuh cinta dan patah hati telah mendewasakanku sebagai wanita.
++ Belenggu ++
Aku ingin bertemu
Walau hanya sekali saja
‘tuk lepaskan belenggu
Yang lama menyesakkan dada
Seribu senja telah berlalu
Tapi rasa ini tak kunjung padam
Bayang-bayangmu menghantuiku
Menyiksaku kala malam mencekam
Tanpa sepenggal ucapan perpisahan
Engkau menghilang dari hidupku
Yang menemaniku kini penyesalan
Lukiskan kisahku dengan warna kelabu
Kasih tak terungkap,
Aku ingin sampaikan sesuatu…
Kasih tak terucap,
Betapa aku mencintaimu.
Selalu.
++ Terima Kasih Atas Harapan ++
Terima kasih aku ucapkan
Tak kau belai aku dalam pelukan
Tak juga cinta ini kau campakkan
Kau izinkan aku hidup dalam harapan
Waktu berdua, terasa menyesakkan
Aku tak tahu apa yang kau rasakan
Aku tenggelam dalam kebimbangan
Yang terasa begitu menyesakkan
Namun dalam kebersamaan
Membawa kebahagiaan
Darimu kudapatkan segenggam kenangan
Yang tak kan pernah terlupakan
Kini aku mundur perlahan-lahan
Karena tak jua kutemukan jawaban
Dan aku takut terhenti di depan,
Oleh dinding ketidakpastian
Seiring langkahku, aku katakan
Walau rasa ini tak terungkapkan
Setidaknya aku pernah hidup dalam harapan
Harapan, kau dan aku disatukan
++ Belenggu ++
Aku ingin bertemu
Walau hanya sekali saja
‘tuk lepaskan belenggu
Yang lama menyesakkan dada
Seribu senja telah berlalu
Tapi rasa ini tak kunjung padam
Bayang-bayangmu menghantuiku
Menyiksaku kala malam mencekam
Tanpa sepenggal ucapan perpisahan
Engkau menghilang dari hidupku
Yang menemaniku kini penyesalan
Lukiskan kisahku dengan warna kelabu
Kasih tak terungkap,
Aku ingin sampaikan sesuatu…
Kasih tak terucap,
Betapa aku mencintaimu.
Selalu.
++ Terima Kasih Atas Harapan ++
Terima kasih aku ucapkan
Tak kau belai aku dalam pelukan
Tak juga cinta ini kau campakkan
Kau izinkan aku hidup dalam harapan
Waktu berdua, terasa menyesakkan
Aku tak tahu apa yang kau rasakan
Aku tenggelam dalam kebimbangan
Yang terasa begitu menyesakkan
Namun dalam kebersamaan
Membawa kebahagiaan
Darimu kudapatkan segenggam kenangan
Yang tak kan pernah terlupakan
Kini aku mundur perlahan-lahan
Karena tak jua kutemukan jawaban
Dan aku takut terhenti di depan,
Oleh dinding ketidakpastian
Seiring langkahku, aku katakan
Walau rasa ini tak terungkapkan
Setidaknya aku pernah hidup dalam harapan
Harapan, kau dan aku disatukan
++ Inspirasi ++
++ Inspirasi ++
Inspirasi.
Terkadang ia datang sendiri.
Terkadang pula tak kutemui,
walaupun lelah ia kucari
Insipirasi.
Menghidupkan kembali jiwa yang mati
Memberi hidup beribu-ribu arti
Menemani kala ‘ku sedang sendiri
Inspirasi.
Kini mengetuk pintu lubuk hati
Dan mengalir deras tiada henti,
Membentuk telaga tak bertepi
Inspirasi.
Kan menyapa dan getarkan sanubari
Saat kudengar bisikan mesra seorang lelaki
Walau dia pematik inspirasi takkan pernah menyadari
Ah, kuingin dia nyanyikan syair untukku,
Agar meresap abadi dalam kalbu
Buat inspirasi ini kekal s’lalu
Dan tak terkikis oleh waktu.
Inspirasi.
Terkadang ia datang sendiri.
Terkadang pula tak kutemui,
walaupun lelah ia kucari
Insipirasi.
Menghidupkan kembali jiwa yang mati
Memberi hidup beribu-ribu arti
Menemani kala ‘ku sedang sendiri
Inspirasi.
Kini mengetuk pintu lubuk hati
Dan mengalir deras tiada henti,
Membentuk telaga tak bertepi
Inspirasi.
Kan menyapa dan getarkan sanubari
Saat kudengar bisikan mesra seorang lelaki
Walau dia pematik inspirasi takkan pernah menyadari
Ah, kuingin dia nyanyikan syair untukku,
Agar meresap abadi dalam kalbu
Buat inspirasi ini kekal s’lalu
Dan tak terkikis oleh waktu.
++ Sajak Kepalsuan ++
Pernahkah kamu merasa, kamu tidak pernah bisa mengungkapkan isi hati? Tidak bisa mengekspresikan diri sendiri? Dan yang bisa kmu lakukan hanyalah menulis puisi, tempat satu-satunya kamu bisa menjadi diri sendiri
++ Seni ++
Kebohongan adalah sebuah seni,
Dan aku adalah pelaku seni sejati,
Yang jalani hidup ini sendiri
Tanpa ada seorang pun yang mengerti.
Suatu pagi, di atas panggung ku berdiri
Berhiaskan topeng sejuta ekspresi
Yang setiap saat dapat kuganti
Agar raut wajah asli ini tertutupi
Suatu siang, aku adalah biduan
Nyanyikan lagu teruntuk mereka yang kasmaran
Terdengar indah dan menyejukkan
Tenggelamkan rintihan hati yang kesepian
Suatu senja, aku berjalan melenggak-lenggok menggoda
Berbalutkan busana indah dipandang mata
Lembut bagai sutra jika disentuh, dirasa
Sembunyikan luka yang perih menganga
Ya, aku adalah pelaku seni sejati,
Yang bertujuan bukan untuk mengkspresikan diri
Namun untuk melukiskan dusta atas nama mimpi
Yang selama ini dirindukan oleh hati.
Dan mereka penikmat seni,
Mengganggap mimpi ini refleksi diri
Tak sadar bahwa mereka t’lah dibohongi
Dan aku, ketidakjujuranku hanya bisa kuratapi
Sebenarnya aku begitu berharap,
Suatu saat akan datang dia;
Yang dapat melihat,
Air mata yang mengalir di balik topeng senyumku
Yang dapat mendengar,
Tangisan hatiku yang teredam oleh tawa palsuku
Yang dapat merasakan,
Kerasnya hidupku yang tersembunyi di balik kelembutan gerakku
Namun dia tak kunjung tiba.
Dan kutapaki hidup seperti hari-hari yang t’lah terlalui
Seorang diri.
++ Wanita ++
Wanita adalah ahli bersandiwara,
Hiasi hidupnya dengan seribu dusta.
Wanita bisa berkata, “Aku baik-baik saja.”,
Walau hidupnya bergelimang duka dan lara
Wanita bisa tersenyum dan lebar tertawa,
Walau hatinya sesak dan tenggelam oleh air mata
Wanita bisa nampak mandiri dan bercahaya,
Walau kabut kesepian menyelimuti sanubarinya
Wanita bisa terlihat tegar laksana baja
Walau dia rapuh bagai kaca
Wanita bisa diam ‘tak berucap kata
Walau amarah membakar jiwanya
Wanita bisa duduk tenang bersahaja
Walau jantuknya berdetak kencang, bergelora
Dan aku adalah seorang wanita
Jika aku berkata, “aku baik-baik saja.”,
Akankah dirimu percaya?
++ Seni ++
Kebohongan adalah sebuah seni,
Dan aku adalah pelaku seni sejati,
Yang jalani hidup ini sendiri
Tanpa ada seorang pun yang mengerti.
Suatu pagi, di atas panggung ku berdiri
Berhiaskan topeng sejuta ekspresi
Yang setiap saat dapat kuganti
Agar raut wajah asli ini tertutupi
Suatu siang, aku adalah biduan
Nyanyikan lagu teruntuk mereka yang kasmaran
Terdengar indah dan menyejukkan
Tenggelamkan rintihan hati yang kesepian
Suatu senja, aku berjalan melenggak-lenggok menggoda
Berbalutkan busana indah dipandang mata
Lembut bagai sutra jika disentuh, dirasa
Sembunyikan luka yang perih menganga
Ya, aku adalah pelaku seni sejati,
Yang bertujuan bukan untuk mengkspresikan diri
Namun untuk melukiskan dusta atas nama mimpi
Yang selama ini dirindukan oleh hati.
Dan mereka penikmat seni,
Mengganggap mimpi ini refleksi diri
Tak sadar bahwa mereka t’lah dibohongi
Dan aku, ketidakjujuranku hanya bisa kuratapi
Sebenarnya aku begitu berharap,
Suatu saat akan datang dia;
Yang dapat melihat,
Air mata yang mengalir di balik topeng senyumku
Yang dapat mendengar,
Tangisan hatiku yang teredam oleh tawa palsuku
Yang dapat merasakan,
Kerasnya hidupku yang tersembunyi di balik kelembutan gerakku
Namun dia tak kunjung tiba.
Dan kutapaki hidup seperti hari-hari yang t’lah terlalui
Seorang diri.
++ Wanita ++
Wanita adalah ahli bersandiwara,
Hiasi hidupnya dengan seribu dusta.
Wanita bisa berkata, “Aku baik-baik saja.”,
Walau hidupnya bergelimang duka dan lara
Wanita bisa tersenyum dan lebar tertawa,
Walau hatinya sesak dan tenggelam oleh air mata
Wanita bisa nampak mandiri dan bercahaya,
Walau kabut kesepian menyelimuti sanubarinya
Wanita bisa terlihat tegar laksana baja
Walau dia rapuh bagai kaca
Wanita bisa diam ‘tak berucap kata
Walau amarah membakar jiwanya
Wanita bisa duduk tenang bersahaja
Walau jantuknya berdetak kencang, bergelora
Dan aku adalah seorang wanita
Jika aku berkata, “aku baik-baik saja.”,
Akankah dirimu percaya?
++ Sajak Kolaborasi ++
Sajak tentang rembulan, yang terinspirasi oleh seorang kawan yang nun jauh di sana. Dua baris pertamanya ditulis olehnya +dan sisanya diriku yang meneruskan. Silakan yang memiliki hak cipta kepada dua baris pertama mengaku di sini hehehe
++ Rembulan ++
Tidakkah kau lihat rembulan tampak anggun malam ini?
Telanjang tanpa selembar awanpun menyelimuti dari langit malam?
Terlukis warna merah merona di wajahnya yang tersipu malu
Kalahkan cahaya ribuan bintang yang meredup karenanya
Namun dapatkah kau rasakan kesepian yang mencekam?
Teruntuk mentari, rembulan setia menanti
Bertahan dalam kesendirian, tiada yang menemani
Tahukah kau, aku jalani hidup sang rembulan?
Anggun bersahaja, berikan secercah cahaya di kegelapan malam
Namun tetap saja, rembulan tetap sendiri, rindukan mentari…
Dan tanpamu, mentariku, semua cahayaku akan hilang.
Aku akan meredup mati.
Tak berarti.
++ Rembulan ++
Tidakkah kau lihat rembulan tampak anggun malam ini?
Telanjang tanpa selembar awanpun menyelimuti dari langit malam?
Terlukis warna merah merona di wajahnya yang tersipu malu
Kalahkan cahaya ribuan bintang yang meredup karenanya
Namun dapatkah kau rasakan kesepian yang mencekam?
Teruntuk mentari, rembulan setia menanti
Bertahan dalam kesendirian, tiada yang menemani
Tahukah kau, aku jalani hidup sang rembulan?
Anggun bersahaja, berikan secercah cahaya di kegelapan malam
Namun tetap saja, rembulan tetap sendiri, rindukan mentari…
Dan tanpamu, mentariku, semua cahayaku akan hilang.
Aku akan meredup mati.
Tak berarti.
++ Sajak Teruntuk Lelaki ++
Wahai engkau lelaki,
Diturunkan aku wanita ‘tuk membuatmu sempurna,
Dan sebagai pemimpinku engkau tercipta.
Walau ‘tak sama, kita ‘kan selalu setara
Kala kita menghatur sembah di hadapanNya,
Tercipta dua, karena satu tiada berarti;
Engkau, dan aku, tak ‘kan bisa berdiri sendiri
Tanpa satu yang mengisi lubang di hati
Marilah kita saling mendampingi
Wahai lelaki,
Engkau pagar yang tegar melindungiku
Tetapi janganlah pernah engkau ragu,
‘Tuk menjadikanku penopang hidupmu
Kala gemuruh badai menggempur kalbu
Jika terlukis di wajahku sejuta lara
janganlah engkau terdiam seribu bahasa;
Bukalah hati, jadilah sebuah telaga
Yang tak lelah menumpang tumpahan air mata
Wahai lelaki,
Sinarilah aku dengan hangatnya cinta
Bak surya yang s’lalu menyinari, setia
Karenanya walau kegelapan menyapa,
Rembulan ‘kan s’lalu indah nan bercahaya.
Buatlah aku begitu menyayangimu
Sehingga untukmu bisa aku lakukan satu:
Aku ingin bisa tulus menangis untukmu,
Dan bukan karenamu.
Wahai lelaki,
Jika bagai karang aku angkuh berdiri
Jadilah ombak, yang setia menemani
Tiada pernah tinggalkan karang sendiri
Walau senja dan fajar silih berganti
Jadilah ombak yang terkadang menderu-deru
Terkadang pula mendesis bisikkan syair merdu
Perlahan karang pun ‘kan terkikis jadi debu,
Menyatu menjadi bagian dari dirimu
Wahai lelaki,
Janganlah engkau mengekangku,
Dalam sangkar ideologimu;
Izinkanlah aku mengepakkan sayapku,
dan terbang membelah langit biru.
Di atas, aku ‘kan melihat indahnya dunia,
dan nyanyikan lagu syukur kepadaNya,
t’lah menganugrahkanku sebuah cinta,
‘Tuk lelaki yang ah, begitu sempurna!
(Juni 7 2009, 2:11 AM)
Diturunkan aku wanita ‘tuk membuatmu sempurna,
Dan sebagai pemimpinku engkau tercipta.
Walau ‘tak sama, kita ‘kan selalu setara
Kala kita menghatur sembah di hadapanNya,
Tercipta dua, karena satu tiada berarti;
Engkau, dan aku, tak ‘kan bisa berdiri sendiri
Tanpa satu yang mengisi lubang di hati
Marilah kita saling mendampingi
Wahai lelaki,
Engkau pagar yang tegar melindungiku
Tetapi janganlah pernah engkau ragu,
‘Tuk menjadikanku penopang hidupmu
Kala gemuruh badai menggempur kalbu
Jika terlukis di wajahku sejuta lara
janganlah engkau terdiam seribu bahasa;
Bukalah hati, jadilah sebuah telaga
Yang tak lelah menumpang tumpahan air mata
Wahai lelaki,
Sinarilah aku dengan hangatnya cinta
Bak surya yang s’lalu menyinari, setia
Karenanya walau kegelapan menyapa,
Rembulan ‘kan s’lalu indah nan bercahaya.
Buatlah aku begitu menyayangimu
Sehingga untukmu bisa aku lakukan satu:
Aku ingin bisa tulus menangis untukmu,
Dan bukan karenamu.
Wahai lelaki,
Jika bagai karang aku angkuh berdiri
Jadilah ombak, yang setia menemani
Tiada pernah tinggalkan karang sendiri
Walau senja dan fajar silih berganti
Jadilah ombak yang terkadang menderu-deru
Terkadang pula mendesis bisikkan syair merdu
Perlahan karang pun ‘kan terkikis jadi debu,
Menyatu menjadi bagian dari dirimu
Wahai lelaki,
Janganlah engkau mengekangku,
Dalam sangkar ideologimu;
Izinkanlah aku mengepakkan sayapku,
dan terbang membelah langit biru.
Di atas, aku ‘kan melihat indahnya dunia,
dan nyanyikan lagu syukur kepadaNya,
t’lah menganugrahkanku sebuah cinta,
‘Tuk lelaki yang ah, begitu sempurna!
(Juni 7 2009, 2:11 AM)
++ Sajak Patah Hati ++
Lagi-lagi inspirasi mendatangi. Kali ini karena membaca cerita yang aku tulis ketika aku patah hati (baca: diputusin). Berhubung akhir-akhir ini aku suka menulis sajak, maka cerita itu kuubah strukturnya menjadi sajak. Lumayan sulit, tetapi tercapai akhirnya ^^.
++ Hari ke Enam Belas Daun-Daun Mulai Berguguran ++
Terdengar suara tetesan air mata terakhir langit kelam,
Disambut oleh makhluk-makhluk kecil yang mengerik ceria
Berdansa ikuti lambaian dedaunan yang lembut dibelai angin malam
Dan rembulan tanggalkan selimut awan yang membalutnya
Beberapa orang ‘kan berseru,
“Ah remang rembulan, nyanyian alam yang merdu”
“Buat malam ini begitu syahdu!”
Tapi tidak bagiku, yang menanti, jemu
Tersentakku dari alam mimpi
Saat terpecah malam yang sunyi
Oleh jam yang berdentang kencang sepuluh kali,
Empat puluh lima, adalah hitungan dentang semenjak aku menanti
Bergetar dan menyala benda kecil di genggamanku,
Mainkan alunan ‘Lonceng Kecil’ yang lama t’lah kutunggu
Dan dengan satu ‘klik’, kudengar sebuah suara
Suara dari pulau nun jauh di sana
Perbincangan hati berlangsung sekejap saja
Akhiri penantianku yang begitu menyiksa
Mengiringinya, rasa yang menyesakkan dada
Dan hati yang tertorehkan oleh luka
Aku tahu ini ‘kan terjadi;
Aku t’lah mempersiapkan diri
Segala yang terucap dari seorang laki-laki
Kan membawa tragedi yang ditutup-tutupi
Dia sempaikan kenyataan berbungkuskan gulali
Agar nampak lebih manis dipandang mata hati
Namun walau begitu indah ia tersaji
Kenyataan tetap lah pahit tak terperi
Ah, apakah ini yang sedang kurasa?
Amarah yang membara?
Bukan, bukan dia…
Tetapi hampa.
Terasa belati menikam dada
Merobek-robek jantung di dalamnya
Membuatku tak berdaya
Mati rasa.
Dalam gelap aku mencari pemantik jiwa
Namun ke mana? Karena aku dan mereka yang tercinta,
Jauhkan terpisahkan oleh sang samudera
Dan hembusan angin pagi ‘kan buai tidur mereka
Kucoba keras ‘tuk yakinkan diri
Badai ini sendiri dapat kuhadapi!
Namun kala hati kecil meronta-ronta
Kusadar ku hanyalah gadis kecil yang tak berdaya
Kenangan berhembus bagai angin malam
Membelaiku mesra, namun berhembus dingin
Mengingatkanku ‘kan semua masa indah yang kujalani
Yang kini t’lah menjadi monumen masa lampau.
Ah , dua puluh satu musim panas aku lalui
Lewati masa muda yang berbalutkan cinta dan mimpi
Dan kini kurasakan ‘tuk pertama kali
Pedihnya kedewasaan bernama patah hati
Betapa anehnya,
Walau langit tak lagi bermuram durja,
Dan rembulan begitu bercahaya, bersahaja
Mengapa tak bisa kuhentikan air mata?
Ah, sangat menyakitkan!
Namun tak ‘kan aku ucapkan penyesalan
Walau akhir membawa kepedihan,
Tetap saja, awal memberikan keindahan yang takkan terlupakan
Di pembaringanku kucari kenyamanan
Mata yang lelah oleh tangis kupejamkan
Dan sebuah janji bisu aku ucapkan
Rasa antara aku dan dia ‘kan kulepaskan
Selamat malam, selamat malam.
Waktu ‘kan sembuhkan luka tertoreh di hati
Esok, mentari ‘kan menyambut pagi
Tentunya kisah baru ‘kan menanti
Yogyakarta, 16 Maret 2008 (original); 8 Juni 2009 6:48 pm (revisi)
++ Hari ke Enam Belas Daun-Daun Mulai Berguguran ++
Terdengar suara tetesan air mata terakhir langit kelam,
Disambut oleh makhluk-makhluk kecil yang mengerik ceria
Berdansa ikuti lambaian dedaunan yang lembut dibelai angin malam
Dan rembulan tanggalkan selimut awan yang membalutnya
Beberapa orang ‘kan berseru,
“Ah remang rembulan, nyanyian alam yang merdu”
“Buat malam ini begitu syahdu!”
Tapi tidak bagiku, yang menanti, jemu
Tersentakku dari alam mimpi
Saat terpecah malam yang sunyi
Oleh jam yang berdentang kencang sepuluh kali,
Empat puluh lima, adalah hitungan dentang semenjak aku menanti
Bergetar dan menyala benda kecil di genggamanku,
Mainkan alunan ‘Lonceng Kecil’ yang lama t’lah kutunggu
Dan dengan satu ‘klik’, kudengar sebuah suara
Suara dari pulau nun jauh di sana
Perbincangan hati berlangsung sekejap saja
Akhiri penantianku yang begitu menyiksa
Mengiringinya, rasa yang menyesakkan dada
Dan hati yang tertorehkan oleh luka
Aku tahu ini ‘kan terjadi;
Aku t’lah mempersiapkan diri
Segala yang terucap dari seorang laki-laki
Kan membawa tragedi yang ditutup-tutupi
Dia sempaikan kenyataan berbungkuskan gulali
Agar nampak lebih manis dipandang mata hati
Namun walau begitu indah ia tersaji
Kenyataan tetap lah pahit tak terperi
Ah, apakah ini yang sedang kurasa?
Amarah yang membara?
Bukan, bukan dia…
Tetapi hampa.
Terasa belati menikam dada
Merobek-robek jantung di dalamnya
Membuatku tak berdaya
Mati rasa.
Dalam gelap aku mencari pemantik jiwa
Namun ke mana? Karena aku dan mereka yang tercinta,
Jauhkan terpisahkan oleh sang samudera
Dan hembusan angin pagi ‘kan buai tidur mereka
Kucoba keras ‘tuk yakinkan diri
Badai ini sendiri dapat kuhadapi!
Namun kala hati kecil meronta-ronta
Kusadar ku hanyalah gadis kecil yang tak berdaya
Kenangan berhembus bagai angin malam
Membelaiku mesra, namun berhembus dingin
Mengingatkanku ‘kan semua masa indah yang kujalani
Yang kini t’lah menjadi monumen masa lampau.
Ah , dua puluh satu musim panas aku lalui
Lewati masa muda yang berbalutkan cinta dan mimpi
Dan kini kurasakan ‘tuk pertama kali
Pedihnya kedewasaan bernama patah hati
Betapa anehnya,
Walau langit tak lagi bermuram durja,
Dan rembulan begitu bercahaya, bersahaja
Mengapa tak bisa kuhentikan air mata?
Ah, sangat menyakitkan!
Namun tak ‘kan aku ucapkan penyesalan
Walau akhir membawa kepedihan,
Tetap saja, awal memberikan keindahan yang takkan terlupakan
Di pembaringanku kucari kenyamanan
Mata yang lelah oleh tangis kupejamkan
Dan sebuah janji bisu aku ucapkan
Rasa antara aku dan dia ‘kan kulepaskan
Selamat malam, selamat malam.
Waktu ‘kan sembuhkan luka tertoreh di hati
Esok, mentari ‘kan menyambut pagi
Tentunya kisah baru ‘kan menanti
Yogyakarta, 16 Maret 2008 (original); 8 Juni 2009 6:48 pm (revisi)
Subscribe to:
Posts (Atom)