28 June 2009

++ Dia ++

Satu lagi sajak yang merupakan perubahan format tulisan. Versi yang asli adalah naskah drama berjudul 'Ana', yang merupakan tugas akhir mata kuliah Dramaturgi. Aku mengambil tema masalah remaja, dengan menekankan tema 'ketidakpercayaan diri', karena aku merasa tema itu mendunia, dan hampir semua remaja melalui tahapan tersebut dalam hidup mereka.

Aku senang bisa menyelesaikan tulisan ini karena naskah drama yang asli belum (dan kelihatannya tidak akan) terselesaikan. Akhirnya aku bisa memberikan akhir yang bahagia untuk tokoh utama dan semoga kebahagiaan juga didapatkan oleh mereka yang sedang mengalami krisis kepercayaan diri ^_^

++ Dia ++

Aku teringat ‘kan suatu senja,
Kala pertama ‘Dia’ datang dalam hidupku
Badai perubahan ‘Dia’ bawa bersamanya
Kacaukan pikiranku yang tiada berilmu



“Wahai cermin, cermin di dinding
Apakah diriku terlihat menawan?”
Suara yang terdengar membuatku ‘tak bergeming
‘Dia’ berkata, “Jauh dirimu dari keindahan!”

Mulai ‘Dia’ senandungkan nada-nada sumbang
“ Tiada terlukis di wajahmu kecantikan,
Tiada terpancar darimu cahaya gemilang,
Yang kulihat hanyalah ketidaksempurnaan.”

Terus ‘Dia’ nyanyikan tembang penyayat hati
“Lihatlah mereka yang cantik jelita,
Peragawati putih kurus nan semampai!
Tiada lelaki yang ‘tak mencinta.”

Aku menangis, namun ‘Dia’ ‘tak kunjung berhenti
“ Dan lihatlah dirimu, hai wanita tanpa pesona!
‘Tak sadarkah bahwa tubuhmu begitu berisi?
Betapa engkau ‘tak sedap dipandang mata!”

Ah, dalam sekejap ‘Dia’ mendorongku
Ke dalam penjara bernama ‘Tidak Percaya Diri’
Di sana hatiku mulai membeku
Dan semua tentang parasku mulai kubenci

‘Dia’ mulai ucapkan aku sebuah janji
“Kutawarkan kepadamu sebuah dunia,
Yang ‘tak menjual hal-hal palsu bernama mimpi,
Atau untaian kata manis ‘tak bermakna.”

Terus, terus, tiada henti ‘Dia’ merayu
“Dunia sek’lilingmu bertaburkan dusta,
Mereka berucap cantik kepadamu,
Walau dalam hati mereka mencela.”

Lalu ‘Dia’ tawarkan persahabatan semu
“Hanya padaku dirimu bisa percaya,
Walau sekarang dunia menolakmu,
Di sampingmu ‘ku ‘kan selalu ada.”

Dan dalam kebodohanku aku percaya
Kuizinkan ‘Dia’ masuk dalam hidupku
‘Tak terasa aku menjadi boneka tanpa daya
Ucapannya mengendalikanku s’lalu

Dia tetapkan aturan-aturan:
Kekurusan adalah kesempurnaan
Tiada makanan yang menjadi kawan
Rasa lapar adalah tanda kemenangan

Hari-hari sengsara aku lewati
Ucapan kawan tiada aku dengarkan
Aku tahan lapar yang menusuk bagai belati
Mengharap ‘ku ‘kan capai keindahan yang ‘Dia’ janjikan

Kala aku mengeluh, ‘Dia’ menyeru sengit
“ Berjuanglah untuk sebuah impian,
Berkorbanlah walau hanya sedikit,
Derita ini pasti dapat kau tahan!”
Aku turuti ‘Dia’ walau perlahan aku mengecil
‘Tak kunjung jua aku dengar sebuah pujian
Yang ‘Dia’ ucapkan hanya membuatku terkucil
Dan aku jalani hidup dalam celaan

Aku meredup, aku meredup, aku meredup…
Gelap gulita, gelap gulita, gelap gulita…
Apa pun yang kulakukan ‘tak pernah cukup
Apa pun yang kulakukan aku ‘tak pernah bahagia



Dan aku teringat ‘kan suatu pagi
Pertama kali set’lah sekian lama
Samar kudengar suara langkah kaki
Memasuki hidupku yang t’lah hampa

Tiba seorang ksatria ‘tak bernama
Yang Tuhan kirimkan kepadaku
Dia berikan secercah cahaya
Keluar dari jurang lara Dia menuntunku

Dia mengajarkanku membuka mata
‘Tuk melihat hidup yang penuh keagungan
Yang membuatku merasa besar karenanya
Dan bukan cacat diri yang mengucilkan

Dia mengajarkanku membuka telinga,
‘Tuk dengarkan senandung alam
Yang merdu menyejukkan jiwa
Dan bukan celaan yang kejam menerkam

Dia mengajarkanku membuka ind’ra rasa
‘Tuk merasakan kelembutan tingkah laku
Yang menyelaraskan hidup antar sesama
Dan bukan kekerasan yang menggelisahkanku

Dia mengajarkanku membuka bibir
‘Tuk bisikkan syair syukur kepadaNya
Yang membuatku bahagia t’lah terlahir
Dan bukan keluhan yang membawa sengsara

Karenanya aku t’lah berubah:
Aku ‘tak lagi seorang gadis yang lemah!
Aku ‘tak lagi seorang gadis yang resah!
Aku ‘tak lagi seorang gadis yang merasa rendah!

Karenanya, aku dapat berseru
“Keindahan semu, lepaskan aku dari belenggu,
Aku rebut kembali kebebasanku,
‘Takkan lagi aku menjadi budakmu!”

‘Dia’ melawan, namun kugunakan sebuah senjata
Yang t’lah Dia berikan dan ajarkan
Senjata bernama Syukur dan Cinta
Cinta kepada diri dan yang t’lah Tuhan berikan

Berkat Dia, ‘Dia’ aku tebas
Dan kini aku terlepas
Menjadi manusia bebas
Dalam hidup yang indahnya ‘tak terbatas.

Yogyakarta, 11 November 2008 (original)
Yogyakarta, 11 Juni 2009 2:37 am (revisi)

No comments:

Post a Comment