19 August 2009

++ ... ++

++ Putus ++

Selama masa berjalan bersama,
‘Kutahu irama kita terdengar berbeda,
Namun aku mencoba mengingkari semua,
Yakinkan diri bahwa engkau dan aku adalah sama,
Walau hati kecilku samar berkata… hari ini akan tiba.

Kini di depan persimpangan kita berdiri,
Kugenggam tanganmu, mengira jalan yang sama ‘kan kita tapaki
Tapi perlahan, tanganku engkau lepaskan,
Berkata t’lah engkau tetapkan hati ‘tuk ‘tak mengikuti,
Takdirmu ‘kan engkau ciptakan sendiri.

Dan engkau pun langkahkan kaki ke jalan itu,
Hasrat hatiku ‘tuk meraih tanganmu, menghentikanmu,
Karena ‘kulihat jalanmu berawan kelabu,
Tapi ‘ku ‘tak kuasa, kala kulihat senyum di bibirmu,
Seolah katakan semua adalah yang terbaik, untukmu…

Ah, satu tali terputus sudah,
Dan aku ‘tak berdaya untuk merubah,
Dunia kita yang menjadi dua, terbelah…
Terjadi begitu saja, kala semua terasa begitu indah,
Dan ‘ku kira kita ‘tak ‘kan pernah berpisah.

Kini engkau pun beranjak pergi,
Namun percayalah, aku ‘kan tetap di sini,
Penuh harap, aku ‘kan s’lalu menanti,
Saatnya engkau datang kemari,
Dan menyambung tali yang t’lah engkau putuskan kembali.

Dan apa pun jalanmu, keputusanmu,
Aku ingin engkau tahu, ‘tak ‘kan berubah rasaku padamu,
Karena engkau adalah bagian dari hidupku,
Dan kuyakin masih tersisa tali pengikat kita, walau hanya satu,
Yang ‘tak ‘kan pernah terputuskan oleh waktu.

Sydney (UTS Market Building 5 C1.27) 19 Agustus 2009 11:23

PS: Tidaaak, aku tidak putus dengan siapa-siapa kok hahaha

18 August 2009

++ Postingan Lagiii ++

Semoga tidak bosan dengan jumlah sajak yang kuterbitkan bulan ini haha... benar-benar bulan yang penuh akan inspirasi :D

++ Si Kembang Kota ++

Pernah ‘kau ungkapkan dengan penuh asa,
Hasratmu tersirat kepada sekuntum kembang desa,
‘Tak terjamah oleh tangan telanjang mereka,
Bersih, tanpa setitikpun noda,
Tumbuh berkawan dengan alam yang mesra,
Jauh dari dunia –yang ‘kau nyatakan-, penuh akan cela,
Ah, dia begitu sederhana nan bersahaja,
Hanyalah kelembutan terpancar olehnya,
Semua bagimu, sangatlah mempesona.

Sedangkan, ‘tak terlontar darimu sepatah kata pujian,
Teruntuk si kembang kota yang tumbuh di pinggir jalan.

Si kembang kota, tidaklah ia biasa:
Kepulan asap dan debu adalah udaranya,
Limbah hitam pekat adalah mata airnya,
Lampu-lamu gegap pempita adalah cahayanya,
Kebisingan jalanan adalah musiknya,
Semua… meresap ke serat-serat tubuhnya,
Cemari tangkai, daun, serta kelopaknya,
Dan di matamu tiada pesona dalam diri si kembang kota,
Merekah pun, -‘kau katakan-, dini dan bukan oleh cinta…

Namun, pernahkah ‘kau perhatikan,
Hidup si kembang kota yang penuh akan perjuangan?
Menggigil kedinginan, terhempas angin malam yang bertiupan,
Basah seluruh badan, terguyur deras air hujan,
Kering kepanasan, terbakar terik mentari 'tak berselimutkan awan,
Getir kelaparan, terpuaskan hanya oleh sampah-sampah busuk yang berserakan,
Sesak kelemasan, tercekik debu-debu yang berterbangan,
Remuk kelelahan, melawan banjir yang sarat akan kotoran.
Semua dia jalani, tanpa berteduh di bawah rindangnya pepohonan…

Dan pernahkah maknanya ‘kau renungkan,
Setengah patah tandannya, namun tetap ia bertahan,
‘Tak hijau daun-daunnya, namun warna tetap ia lukiskan,
Seakan layu kelopaknya, namun harum tetap ia tebarkan,
Rapuh tangkainya, namun tetap ia menyangga ‘tak tergoyahkan,
Semua adalah bukti keteguhan dan ketabahan,
Si kembang kota yang dalam kesendirian, kesepian..
Terus hidupi dunia yang bergelimangan akan kekerasan.

Ah, biarlah sekuntum kembang desa memikat semua…
Pancarkan pesonanya, yang sebenarnya, biasa-biasa saja.
Si kembang kota bukanlah ‘tuk keindahan semata,
Yang ‘kan ‘kau petik ‘tuk manis bersandar dalam vas kaca,
Takdir si kembang kota t’lah berkata,
Hidupnya ‘kan sarat akan derita, tapi bukan tanpa makna,
‘Kan ia berikan, setidaknya, setidaknya…
Setitik keindahan di alamnya yang hampir ‘tak berwarna,
Itu cukup, untuk membuatnya bahagia.

Sydney (Ashburner Street), 18 Agustus 2009 15:12



++ Siapa, Dirimu? ++


Siapakah sosok, yang berdiri di hadapanku?
Wajah yang ‘tak asing, namun seperti baru bertemu,
Semakin ‘ku mencoba ‘tuk mencari tahu,
Semakin ‘ku ‘tak mengerti siapa dirimu,
Apa inginmu, apa mimpimu, apa tujuan hidupmu…
Apakah semua tentang dirimu,
Yang [kukira] ‘kutahu, tertulis dalam kisah masa lalu,
‘Tak lebih dari bayang-bayang semu?
Dan kutemui, sosokmu yang begitu kukagumi dahulu,
Hancur menjadi serpihan debu, hilang tersapu oleh waktu.

Ah siapakah… Dirimu?

Sydney (Ashburner Street), 18 Agustus 2009 20:45

14 August 2009

++ Pertengahan Agustus ++

Hewf, bulan ini ternyata diriku lumayan produktif dalam menulis sajak. Baru minggu yang lalu menerbitkan beberapa sajak, kini hadir lagi dengan beberapa yang baru. Entah apa yang menjadi inspirasiku, mungkin karena menjelang hari kemerdekaan Indonesia (haha). Ah entahlah, yang penting diriku senang ^_^. Catatan: aku tidak mengaku sajak 'Bukan Sahabat' sebagai karyaku. Aku sertakan di sini karena sajak 'Hidup' merupakan tanggapanku yang kuberikan kepada sang penulis tentang sajak 'Bukan Sahabat'-nya :D.

++ Sonata Yang Terlupakan ++

Ingatkah ‘kau,

Dahulu sering teralun sebuah sonata?
Terpatah-patah ‘tak berirama,
Nada-nada sumbang terselip dalam langkahnya,
Menyiratkan hati yang hampa,
Kala rembulan sendiri bercahaya.

Di sana ‘kau, berdiri dekat menemani,
Walau ‘kutahu ‘ku jauh dari hati…
Tersenyum lembut bibirmu, seolah menikmati
Setiap dentingan tercipta oleh gerak jemari,
Namun sayang, makna yang ada ‘tak pernah ‘kau mengerti.

Pernahkan ‘kau tahu, sonata itu,
Ungkapkan suara hati yang membisu?
Rinduku jika tiada ‘kau di sisiku,
Laraku ‘tak kuasa ‘tuk menggenggam tanganmu,
Hasratku ‘tuk jadikan hatimu dan hatiku, satu.

Tiada henti sonata itu ‘kualunkan,
Berharap ‘kau ‘kan tangkap makna yang tersimpan,
Dan kita pun duduk berdampingan, di depan piano kenangan,
Bersama nada-nada indah kita mainkan,
Tertulis dalam sebuah sonata cinta yang ‘tak terlupakan.

Namun musim demi musim berganti,
‘Tak lagi bersemi, atau hangat bersinar sang mentari,
‘Kau pun beranjak pergi, walau tetap di sini
Dan walau ‘tak ingin, dalam sendiri ‘kusadari,
Semua ‘tak ‘kan menjadi lebih dari sekedar mimpi…

Perlahan sonata itu ‘kutinggalkan,
Tersamar tenggelam oleh arus waktu yang terus berjalan,
Kini ‘kutemui piano tercinta terduduk di sudut kesunyian,
Seolah lirih merintih dalam kesendirian,
Memintaku ‘tuk sekali saja alunkan sonata kenangan.

Hanya tertegun, jemariku terdiam membeku,
Karena sonata tentang kita, t’lah terlupa olehku,
Hilang terkubur dalam puing-puing masa lalu,
‘Akhirnya ‘kutahu, dan ‘ku ingin ‘kau pun tahu,
Terkikis habis sudah rasaku padamu…

Dan kepada piano aku berbisik merayu,
“Izinkan jemariku telanjang menyentuhmu,
‘Tuk alunkan untaian nada-nada baru”
Bukan, bukanlah sonata tentang rasaku padamu,
Namun untuknya, yang kini penuh mengisi penuh hatiku.

Dan semoga, semoga…
‘Takkan menjadi sonata yang terlupakan.

Sydney (Ashburner Street), 14 Agustus 22:07


* Terima kasih kuucapkan untuk Janice, karena sajaknya 'Memory Sonata' telah menginspirasiku untuk menulis sajak di atas. Bukan menjiplak lho...

++ Luka ++


‘Kau ukir dirimu di sekujur tubuhku,
Perlahan berdenyut iringi semilir masa lalu,
Ingatkan saat-saat ‘ku terjerembab dulu.

Meski terbasuh dirimu oleh aliran sang waktu,
Tetap, ‘tak ada di dirimu malu atau secuil ragu,
‘Tuk ‘tak beranjak, ‘kau tetapkan di sinilah hadirmu.

Terdiam bisa, ‘kau buat kata ‘tak manis kembali terngiang,
‘Tak bergeming, ‘kau getarkan nada kepedihan yang sumbang,
Tersamar rupamu, ‘kau ‘tampakkan saat terlalu pahit ‘tuk dikenang.

Dari semua, dalam ‘kau gali lubang di hati,
Yang ‘ku yakin, bukan sakit yang ‘kan terberi,
Namun ruang ‘tuk menampung kebahagiaan kala esok menanti.

Sydney (Stasiun Central, Bus 437), 11 Agustus 2009, 08:57


++ Suara ++

Terima kasih, Suara
Meski hadirmu ‘tak teraba,
Namun tetap lah ada dan nyata,
Berdengung berirama dalam telinga,
Sesaat tiadakan sakit yang menyiksa,
Walau kemudian tersapu desis ombak ‘kau kan sirna,
Dan sunyi kembali hembuskan nafasnya,
Tetap lembutmu tersisa, tenangkan jiwa,
Hingga esok pagi pancarkan cahaya,
Dan sakit ‘tak lagi terasa…

Sydney (UTS CB02.4.10), 10 Agustus 2009, 20:32


++ Bukan Sahabat ++

Hidup, bukanlah sahabat..
Tahukah kau, terlahir dengan sendirian?
Tertatih kau terjatuh terjerembab dan mulai berjalan,
Kelu lidahmu ungkapkan kata-kata yang tidak biasa.

Saat kau harus mengenal orang-orang di luar sana,
Tidak semua tersenyum padamu,
Bibir pahit dan kernyit dahi tak luput sebelah mata memandangmu..

Terlebih kau yang lemah,
Ketika kau dipaksa mengatakan ya, dan inginmu adalah tidak!
Sistem busuk kau masuki, dengan harapan kau kan merubahnya,
Prinsip-prinsipmu harus kau pertaruhkan demi -yang kau katakan- masa depanmu
Yang lain, berarti bagimu, namun bukan segalanya..

Tak berbeda, cuaca dingin memaksamu mengenakan mantel itu,
Panas yang membuatmu telanjang dada,
Dan hangat yang membujukmu tuk tidur dalam peluknya,
Semua dengan kejamnya memaksamu..
Berbuat, seperti kehendak mereka..
Masihkah kau menganggapnya hidup adalah sahabat?

Fajar Rochadi, Makassar, 5 Agustus 2009 22:28 WITA


++ Hidup ++

Hidup seorang manusia,
Berawal dari perpaduan kasih antara lelaki dan wanita...

Tidaklah 'kau sendiri kala pertama membuka mata,
Karena terbaring di sampingmu adalah Ibunda,
Yang t'lah berjuang menahan sakit tiada tara,
'Tuk memperkenalkanmu kepada dunia,
Walau berbasuh keringat, tetap bahagia terlukis di wajahnya,
Dia tumpukan 'kepada masa depanmu sejuta asa,
Kelak, semoga hidupmu 'kan membuat semua takjub dan bangga.

Tertatih kala 'kau pertama berjalan.
Tetapi semua hanyalah sebuah perawalan,
Seperti merpati yang terus terjatuh, namun bertahan,
Kala tiba sayap terkepakkan, tinggi ia membelah awan,
Esok hari 'kau dapati dirimu berlari 'tak terhempaskan,
Mengejar harapan yang berkilauan, dengan senyuman.

Lidahmu kelu ungkap kata jarang berkawan dengan telinga,
Namun tidakkah 'kau merasa bermakna,
Dengan lidah 'kau bisa ungkapkan semua yang tersimpan dalam dada,
Lirih, lembut, mesra dapat 'kau ucapkan kata-kata,
Dan juga senandungkan indahnya nada-nada,
Yang dapat membuat seseorang, tersenyum bahagia?

Dan beranjak ‘kau tumbuh dan mengenal mereka,
Ya, beberapa kernyitkan dahi dan pandangmu sebelah mata,
Bukan karena ‘kau ‘tak berharga, hanya berbeda,
Dan hati mereka belum bisa terima hal yang ‘tak sama,
Namun berbeda, bukanlah hal yang tercela...
Kepada mereka yang seragam ‘kau berikan setitik warna,
Karena ‘kau memiliki pesona yang ‘tak biasa,
Bertahanlah, tataplah mereka dengan tulusnya cahaya,
Hingga esok ‘kan tiba saatnya,
Warnamu ‘kan lukiskan pelangi di kanvas wajah mereka.

Terik mentari ‘tak memaksamu telanjang dada,
Tidakkah terpikir bahwa panas izinkan kita ‘tuk mencerna,
Diri kita seperti kala terlahir apa adanya,
Tanpa kain penutup yangs sering berdusta,
Seakan berkata ‘kau hanya bisa indah dengannya?
Sejenak dapat ‘kau lihat tang dahulu ‘tak kasat mata,
Bahwa tiada dalam dirimu ketidakindahan raga,
Dan olehNya ‘kau diciptakan sempurna.

‘Kau nyatakan ‘kau berbalutkan mantel karena dingin memaksa,
Ah, pernahkah terbesit olehmu sekali saja,
Seseorang yang entah di mana beradanya,
Menjahit benang demi benang ‘tuk mencipta,
Mantel yang ‘kan menemanimu kala dingin menyiksa?
Hangat yang ‘kau rasa, lebih dari kain penutup raga,
Namun hangatnya jerih payah seseorang yang nun jauh di sana…

Sistem-sistem busuk bergelimangan, berserakan,
‘Kau lihat materi kalahkan kejujuran,
Karena itu lah, hidup memberimu sebuah peran,
Peran, bukan tanpa makna, namun penuh akan kehormatan,
Untuk menata dunia yang penuh ketidakadilan,
Merubah agar masa depan lebih berkilauan.

Namun ‘tak hanya sendiri ‘kau berjalan,
Bersama banyak orang dengan berbeda keinginan,
‘Kan ‘kau temui hatimu menolak kala setuju satu-satunya jawaban,
Tidaklah gampang, dan penuh akan pengorbanan,
Terkadang keingingan pribadi harus diikhlaskan,
Bukan, bukanlah kelemahan, namun hati berbekal kekuatan,
Dan di situlah ‘kan ‘kau dapatkan makna kehidupan...

Aku hanya bisa menjawab dengan beberapa patah kata:
Hidup bawakan hal-hal yang sangat berharga,
Semua yang sering kita lewatkan begitu saja,
Karena kita terlalu bertumpu pada pedih dan luka yang terasa…

Bukan, bukan, hidup bukan sahabat semata,
Karena kita dan sahabat, dua hal yang ‘tak sama,
Berjalan sendiri dalam raga yang berbeda,
Namun hidup, ‘tak terlepas dari kita,
Karena tanpa hidup, kita tiada.

Sydney (Ashburner Street), 6 Agustus 2009, 5:05pm

04 August 2009

++ Pembuka Bulan Agustus ++

Hanyalah sajak-sajak yang tertulis bulan ini di Sydney yang 'tak kunjung menghangat...

++ Senandungnya ++


Angin malam bisikkan samar suaranya,
Sang biduan di pulau nun jauh di sana,
Senandungkan lagu, curahkan isi hatinya,
Kisahkan cintanya yang bergelimang duka dan lara...

Ah, indah namun sedih yang terdengar oleh telinga
Bait-bait yang terangkai tunjukkan ketabahan hadapi semua,
Namun tetap, bergetar dengan nada sumbang suaranya,
Tandai rasa putus asa dan hausnya akan cahaya...

Aku hanya bisa terdiam tanpa kata
Ah, rasa apa ini yang menusuk dada?
Apa kah 'ku teringat akan pedihnya luka lama?
Entahlah, sakit rasanya, namun tetap 'ku terkesima

Dan menahan tangis 'ku 'tak kuasa,
Wahai biduan yang 'tak nampak oleh mata,
Apakah masih perih dalam dada,
Luka yang dalam tertoreh olehnya?

'Tak berdaya diriku 'tuk melakukan apa-apa,
Hanyalah membisikkan kepada angin malam sebuah nada,
'Tidaklah merdu, namun 'ku berharap cukup 'tuk melipur lara,
Untukmu, biduan yang jauh di sana...

Semoga 'kau dapatkan yang 'kau rindu, cinta
Penuhi hatimu, sehingga 'tak lagi hampa,
Sehingga untukmu langit 'tak lagi senja,
Dan akhirnya 'kau temui dirimu bahagia...

Sydney, 5 Agustus 2009, 14: 05pm


++ Bilik Kedamaian ++

Kutemukan diam bersembunyi,
Oleh mata acuh memandang, hampir terlewati…
Bagian kecil dari bangunan yang angkuh menjulang tinggi
Namun tetap 'tak bergeming, setia ia berdiri
Seakan tersenyum, memanggilku yang berjalan sendiri
Dan perlahan, namun 'tak ragu ‘ku menghampiri

Berderik lirih, seakan merintih dalam sepi
Kala kubuka pintu penghubung dunia kini dan nanti
Nyaris sunyi, 'tak banyak yang mengunjungi
Yang terlihat dapat dihitung oleh jemari:
Mereka yang berbalutkan gaun putih suci
Atau yang lelap terbuai dalam alam mimpi

Namun bilik kecil itu bukanlah tanpa arti
Di sana lah tenang dan damai menyelimuti
Sejenak 'ku dapat memisahkan diri
Dari kebisingan yang memekakkan sanubari
Dan bersenandung, meski hanya dalam hati
'Tuk syukuri semua indah yang t'lah terberi

Di sana jua 'ku menjumpa mereka
Walau berbeda dalam warna dan rupa
Namun berjalan menuju arah yang sama
Saling sejukkan hati sesama
Dengan suara yang lembut tulus menyapa
“Semoga engkau damai dan sejahtera”

Dan diam 'ku terduduk dalam alamku bahagia
Cermati makna yang ada, nikmati semua cinta
Sembari mendengar pelan namun jelas nan merdu suara
Kaum pemimpin, di balik tirai pemisah beradanya
'Tak tergapai oleh tangan, 'tak nampak oleh mata.
Namun alunan surgawi mereka hangat menyentuh jiwa

Ah, semoga hangat ini 'tak kan sirna dari hati
Meski 'ku harus melangkahkan kaki
Beranjak pergi dan sedikit berberat hati kembali
Ke dunia yang terus melaju tiada henti
Dan menemani, sehingga 'tak merasa diriku sepi
Kini, esok dan hari-hari yang tengah menanti…

Sydney, 4 Agustus 23:49

***

Hmmm sembari mengetik-ngetik sajak di atas, aku menemukan beberapa sajak yang tertulis duluuuuu dan belum sempat diterbitkan di blog ini.

++ Untuk Alam ++

Suatu pagi aku berlari
Untuk lepaskan gundah di hati
Walau dingin aku ‘tak peduli

Dan terhenti aku di pesisiran
Disana kurasa ‘kan dapat jawaban
Kepada sang alam aku serukan

Wahai ombak yang ‘tak lelah berdebur,
Dapatkah engkau bantu ‘tuk menggempur
dinding tempat sanubari terkubur?

Wahai karang yang kokoh berdiri
Dapatkah engkau lindungi dari,
badai yang menerpa lubuk hati?

Wahai angin yang berhembus pelan
Dapatkah engkau tiup-sirnakan,
kabut yang kelabungi pikiran?

Wahai burung yang berkicau merdu
Dapatkan engkau nyanyikan aku,
sebuah tembang pelipur rindu?

Wahai pinus yang elegan melambai
Dapatkah hati ini engkau belai,
‘tuk obati lara kasih tak sampai?

Wahai langit yang berselimut biru
Dapatkan engkau gunakan kuasmu,
‘tuk mewarnai hidup yang kelabu?

Wahai laut yang indah berkilauan
Dapatkah cermin airmu pantulkan,
apa yang tersurat di masa depan?

Dalam gelisah aku berdiri
Namun mereka terdiam sunyi
‘Tak berikan jawab yang ‘kunanti

Dan lirih aku tangisi
Diriku yang kini sendiri

Sydney, 12 February 2009

++ The Two Voices ++

Listen to the voice deep within
once said a dear friend of mine
But when two are fighting to win
I know life will not be kind

One voice I hear, a devil’s whisper
He utters words as cold as snow
with his tongue that stabs like a dagger
It makes my heart bleed in sorrow

Into my soul he breathes cold despair
It suffocates me, I’m left with no air
No one loves you, that I often hear
I lament as I feel the end is near

Then I hear a voice of a saviour,
that forever I have longed for
He tells me I am a warrior
whose life is worth fighting for

He praises me when I grow smaller
and give me the love I often lack
He paints my heart with a thousand color
as soon as it is turning black

This I always wonder, who should I listen?
The devil who drowns me in the darkness
or He who lifts me to the highest mountain?
The answer is for me to find within

Today I lost a great battle
The devil trapped me in a world of despair
There I will forever settle
Then again, I don’t think anyone will care

As I begin to fall apart
I hear one singing a song of love
so beautiful it warms my heart
and I feel I can fly high above

I may only hear the song faintly
but I know, he sings it for me
With a smile I can now say
Tomorrow will be a good day

Sydney, 2007 (lupa kapan nulisnya @.@)