++ Rahasia ‘Tuk Bulan Purnama ++
Duhai bulan purnama,
Sudikah dikau membuka telinga
‘Tuk dengarkanku tuturkan suatu rahasia
Yang t’lah lama tersimpan di dada?
Ada seorang lelaki yang ingin mesra kusapa
Namun kala aku dan dia bertukar kata
Hati dan bibir ucapkan hal yang berbeda
Terdiam, kunikmati yang ada dalam darinya
Semua yang ‘tak sempurna dan sempurna
Bagiku, sangatlah mempesona
Duhai bulan purnama,
Sepanjang waktu engkau bercahaya
Tiada kala aku ‘tak bermimpi tentangnya
Dan hampa kurasa kala diam aku terjaga
Senantiasa kurajut benang-benang cinta
Yang hanya berada dalam alam fana
Dan kubayangkan indahnya yang ‘kan tercipta
Ah, angan-angan ini membuatku gila, tersiksa
Aku ingin terbebas dari bayang-bayangnya
Tapi ada daya, rasa ini ‘tak kunjung sirna
Duhai bulan purnama,
Pantaskah aku berharap kasih dan cinta
Dari lelaki yang begitu bercahaya
Sedangkan diriku hanyalah wanita biasa?
Bagaimana bisa aku katakan padanya
Karenanya aku tenggelam dalam sebuah telaga
Menyesakkanku dengan sengsara, lara, dan… bahagia?
Atau haruskah aku kubur semua rasa
Tanpa dia pernah melihat bara asmara yang pernah ada
Dan dalam hatinya diriku kan s’lalu tiada?
Duhai bulan purnama,
Dengarkanlah nada-nada cinta tertulis untuknya
Bisikkan kepadanya yang kini jauh di mata,
Agar terlelap dia hingga mentari menyapa
Kini temanilah aku yang memanjatkan doa:
Jikalau tiada pernah hati kami bersua
Di jalur hidup yang t’lah ditentukan olehNya
Kuharap suatu kala aku ‘kan menjadi sahabatnya
Tempat berteduhnya kala hujan emosi menerpa
Pelipur lara. Itu saja.
Yogyakarta, 10 Juni 2009 2:14
No comments:
Post a Comment