Semoga tidak bosan dengan jumlah sajak yang kuterbitkan bulan ini haha... benar-benar bulan yang penuh akan inspirasi :D
++ Si Kembang Kota ++
Pernah ‘kau ungkapkan dengan penuh asa,
Hasratmu tersirat kepada sekuntum kembang desa,
‘Tak terjamah oleh tangan telanjang mereka,
Bersih, tanpa setitikpun noda,
Tumbuh berkawan dengan alam yang mesra,
Jauh dari dunia –yang ‘kau nyatakan-, penuh akan cela,
Ah, dia begitu sederhana nan bersahaja,
Hanyalah kelembutan terpancar olehnya,
Semua bagimu, sangatlah mempesona.
Sedangkan, ‘tak terlontar darimu sepatah kata pujian,
Teruntuk si kembang kota yang tumbuh di pinggir jalan.
Si kembang kota, tidaklah ia biasa:
Kepulan asap dan debu adalah udaranya,
Limbah hitam pekat adalah mata airnya,
Lampu-lamu gegap pempita adalah cahayanya,
Kebisingan jalanan adalah musiknya,
Semua… meresap ke serat-serat tubuhnya,
Cemari tangkai, daun, serta kelopaknya,
Dan di matamu tiada pesona dalam diri si kembang kota,
Merekah pun, -‘kau katakan-, dini dan bukan oleh cinta…
Namun, pernahkah ‘kau perhatikan,
Hidup si kembang kota yang penuh akan perjuangan?
Menggigil kedinginan, terhempas angin malam yang bertiupan,
Basah seluruh badan, terguyur deras air hujan,
Kering kepanasan, terbakar terik mentari 'tak berselimutkan awan,
Getir kelaparan, terpuaskan hanya oleh sampah-sampah busuk yang berserakan,
Sesak kelemasan, tercekik debu-debu yang berterbangan,
Remuk kelelahan, melawan banjir yang sarat akan kotoran.
Semua dia jalani, tanpa berteduh di bawah rindangnya pepohonan…
Dan pernahkah maknanya ‘kau renungkan,
Setengah patah tandannya, namun tetap ia bertahan,
‘Tak hijau daun-daunnya, namun warna tetap ia lukiskan,
Seakan layu kelopaknya, namun harum tetap ia tebarkan,
Rapuh tangkainya, namun tetap ia menyangga ‘tak tergoyahkan,
Semua adalah bukti keteguhan dan ketabahan,
Si kembang kota yang dalam kesendirian, kesepian..
Terus hidupi dunia yang bergelimangan akan kekerasan.
Ah, biarlah sekuntum kembang desa memikat semua…
Pancarkan pesonanya, yang sebenarnya, biasa-biasa saja.
Si kembang kota bukanlah ‘tuk keindahan semata,
Yang ‘kan ‘kau petik ‘tuk manis bersandar dalam vas kaca,
Takdir si kembang kota t’lah berkata,
Hidupnya ‘kan sarat akan derita, tapi bukan tanpa makna,
‘Kan ia berikan, setidaknya, setidaknya…
Setitik keindahan di alamnya yang hampir ‘tak berwarna,
Itu cukup, untuk membuatnya bahagia.
Sydney (Ashburner Street), 18 Agustus 2009 15:12
++ Siapa, Dirimu? ++
Siapakah sosok, yang berdiri di hadapanku?
Wajah yang ‘tak asing, namun seperti baru bertemu,
Semakin ‘ku mencoba ‘tuk mencari tahu,
Semakin ‘ku ‘tak mengerti siapa dirimu,
Apa inginmu, apa mimpimu, apa tujuan hidupmu…
Apakah semua tentang dirimu,
Yang [kukira] ‘kutahu, tertulis dalam kisah masa lalu,
‘Tak lebih dari bayang-bayang semu?
Dan kutemui, sosokmu yang begitu kukagumi dahulu,
Hancur menjadi serpihan debu, hilang tersapu oleh waktu.
Ah siapakah… Dirimu?
Sydney (Ashburner Street), 18 Agustus 2009 20:45
No comments:
Post a Comment