14 August 2009

++ Pertengahan Agustus ++

Hewf, bulan ini ternyata diriku lumayan produktif dalam menulis sajak. Baru minggu yang lalu menerbitkan beberapa sajak, kini hadir lagi dengan beberapa yang baru. Entah apa yang menjadi inspirasiku, mungkin karena menjelang hari kemerdekaan Indonesia (haha). Ah entahlah, yang penting diriku senang ^_^. Catatan: aku tidak mengaku sajak 'Bukan Sahabat' sebagai karyaku. Aku sertakan di sini karena sajak 'Hidup' merupakan tanggapanku yang kuberikan kepada sang penulis tentang sajak 'Bukan Sahabat'-nya :D.

++ Sonata Yang Terlupakan ++

Ingatkah ‘kau,

Dahulu sering teralun sebuah sonata?
Terpatah-patah ‘tak berirama,
Nada-nada sumbang terselip dalam langkahnya,
Menyiratkan hati yang hampa,
Kala rembulan sendiri bercahaya.

Di sana ‘kau, berdiri dekat menemani,
Walau ‘kutahu ‘ku jauh dari hati…
Tersenyum lembut bibirmu, seolah menikmati
Setiap dentingan tercipta oleh gerak jemari,
Namun sayang, makna yang ada ‘tak pernah ‘kau mengerti.

Pernahkan ‘kau tahu, sonata itu,
Ungkapkan suara hati yang membisu?
Rinduku jika tiada ‘kau di sisiku,
Laraku ‘tak kuasa ‘tuk menggenggam tanganmu,
Hasratku ‘tuk jadikan hatimu dan hatiku, satu.

Tiada henti sonata itu ‘kualunkan,
Berharap ‘kau ‘kan tangkap makna yang tersimpan,
Dan kita pun duduk berdampingan, di depan piano kenangan,
Bersama nada-nada indah kita mainkan,
Tertulis dalam sebuah sonata cinta yang ‘tak terlupakan.

Namun musim demi musim berganti,
‘Tak lagi bersemi, atau hangat bersinar sang mentari,
‘Kau pun beranjak pergi, walau tetap di sini
Dan walau ‘tak ingin, dalam sendiri ‘kusadari,
Semua ‘tak ‘kan menjadi lebih dari sekedar mimpi…

Perlahan sonata itu ‘kutinggalkan,
Tersamar tenggelam oleh arus waktu yang terus berjalan,
Kini ‘kutemui piano tercinta terduduk di sudut kesunyian,
Seolah lirih merintih dalam kesendirian,
Memintaku ‘tuk sekali saja alunkan sonata kenangan.

Hanya tertegun, jemariku terdiam membeku,
Karena sonata tentang kita, t’lah terlupa olehku,
Hilang terkubur dalam puing-puing masa lalu,
‘Akhirnya ‘kutahu, dan ‘ku ingin ‘kau pun tahu,
Terkikis habis sudah rasaku padamu…

Dan kepada piano aku berbisik merayu,
“Izinkan jemariku telanjang menyentuhmu,
‘Tuk alunkan untaian nada-nada baru”
Bukan, bukanlah sonata tentang rasaku padamu,
Namun untuknya, yang kini penuh mengisi penuh hatiku.

Dan semoga, semoga…
‘Takkan menjadi sonata yang terlupakan.

Sydney (Ashburner Street), 14 Agustus 22:07


* Terima kasih kuucapkan untuk Janice, karena sajaknya 'Memory Sonata' telah menginspirasiku untuk menulis sajak di atas. Bukan menjiplak lho...

++ Luka ++


‘Kau ukir dirimu di sekujur tubuhku,
Perlahan berdenyut iringi semilir masa lalu,
Ingatkan saat-saat ‘ku terjerembab dulu.

Meski terbasuh dirimu oleh aliran sang waktu,
Tetap, ‘tak ada di dirimu malu atau secuil ragu,
‘Tuk ‘tak beranjak, ‘kau tetapkan di sinilah hadirmu.

Terdiam bisa, ‘kau buat kata ‘tak manis kembali terngiang,
‘Tak bergeming, ‘kau getarkan nada kepedihan yang sumbang,
Tersamar rupamu, ‘kau ‘tampakkan saat terlalu pahit ‘tuk dikenang.

Dari semua, dalam ‘kau gali lubang di hati,
Yang ‘ku yakin, bukan sakit yang ‘kan terberi,
Namun ruang ‘tuk menampung kebahagiaan kala esok menanti.

Sydney (Stasiun Central, Bus 437), 11 Agustus 2009, 08:57


++ Suara ++

Terima kasih, Suara
Meski hadirmu ‘tak teraba,
Namun tetap lah ada dan nyata,
Berdengung berirama dalam telinga,
Sesaat tiadakan sakit yang menyiksa,
Walau kemudian tersapu desis ombak ‘kau kan sirna,
Dan sunyi kembali hembuskan nafasnya,
Tetap lembutmu tersisa, tenangkan jiwa,
Hingga esok pagi pancarkan cahaya,
Dan sakit ‘tak lagi terasa…

Sydney (UTS CB02.4.10), 10 Agustus 2009, 20:32


++ Bukan Sahabat ++

Hidup, bukanlah sahabat..
Tahukah kau, terlahir dengan sendirian?
Tertatih kau terjatuh terjerembab dan mulai berjalan,
Kelu lidahmu ungkapkan kata-kata yang tidak biasa.

Saat kau harus mengenal orang-orang di luar sana,
Tidak semua tersenyum padamu,
Bibir pahit dan kernyit dahi tak luput sebelah mata memandangmu..

Terlebih kau yang lemah,
Ketika kau dipaksa mengatakan ya, dan inginmu adalah tidak!
Sistem busuk kau masuki, dengan harapan kau kan merubahnya,
Prinsip-prinsipmu harus kau pertaruhkan demi -yang kau katakan- masa depanmu
Yang lain, berarti bagimu, namun bukan segalanya..

Tak berbeda, cuaca dingin memaksamu mengenakan mantel itu,
Panas yang membuatmu telanjang dada,
Dan hangat yang membujukmu tuk tidur dalam peluknya,
Semua dengan kejamnya memaksamu..
Berbuat, seperti kehendak mereka..
Masihkah kau menganggapnya hidup adalah sahabat?

Fajar Rochadi, Makassar, 5 Agustus 2009 22:28 WITA


++ Hidup ++

Hidup seorang manusia,
Berawal dari perpaduan kasih antara lelaki dan wanita...

Tidaklah 'kau sendiri kala pertama membuka mata,
Karena terbaring di sampingmu adalah Ibunda,
Yang t'lah berjuang menahan sakit tiada tara,
'Tuk memperkenalkanmu kepada dunia,
Walau berbasuh keringat, tetap bahagia terlukis di wajahnya,
Dia tumpukan 'kepada masa depanmu sejuta asa,
Kelak, semoga hidupmu 'kan membuat semua takjub dan bangga.

Tertatih kala 'kau pertama berjalan.
Tetapi semua hanyalah sebuah perawalan,
Seperti merpati yang terus terjatuh, namun bertahan,
Kala tiba sayap terkepakkan, tinggi ia membelah awan,
Esok hari 'kau dapati dirimu berlari 'tak terhempaskan,
Mengejar harapan yang berkilauan, dengan senyuman.

Lidahmu kelu ungkap kata jarang berkawan dengan telinga,
Namun tidakkah 'kau merasa bermakna,
Dengan lidah 'kau bisa ungkapkan semua yang tersimpan dalam dada,
Lirih, lembut, mesra dapat 'kau ucapkan kata-kata,
Dan juga senandungkan indahnya nada-nada,
Yang dapat membuat seseorang, tersenyum bahagia?

Dan beranjak ‘kau tumbuh dan mengenal mereka,
Ya, beberapa kernyitkan dahi dan pandangmu sebelah mata,
Bukan karena ‘kau ‘tak berharga, hanya berbeda,
Dan hati mereka belum bisa terima hal yang ‘tak sama,
Namun berbeda, bukanlah hal yang tercela...
Kepada mereka yang seragam ‘kau berikan setitik warna,
Karena ‘kau memiliki pesona yang ‘tak biasa,
Bertahanlah, tataplah mereka dengan tulusnya cahaya,
Hingga esok ‘kan tiba saatnya,
Warnamu ‘kan lukiskan pelangi di kanvas wajah mereka.

Terik mentari ‘tak memaksamu telanjang dada,
Tidakkah terpikir bahwa panas izinkan kita ‘tuk mencerna,
Diri kita seperti kala terlahir apa adanya,
Tanpa kain penutup yangs sering berdusta,
Seakan berkata ‘kau hanya bisa indah dengannya?
Sejenak dapat ‘kau lihat tang dahulu ‘tak kasat mata,
Bahwa tiada dalam dirimu ketidakindahan raga,
Dan olehNya ‘kau diciptakan sempurna.

‘Kau nyatakan ‘kau berbalutkan mantel karena dingin memaksa,
Ah, pernahkah terbesit olehmu sekali saja,
Seseorang yang entah di mana beradanya,
Menjahit benang demi benang ‘tuk mencipta,
Mantel yang ‘kan menemanimu kala dingin menyiksa?
Hangat yang ‘kau rasa, lebih dari kain penutup raga,
Namun hangatnya jerih payah seseorang yang nun jauh di sana…

Sistem-sistem busuk bergelimangan, berserakan,
‘Kau lihat materi kalahkan kejujuran,
Karena itu lah, hidup memberimu sebuah peran,
Peran, bukan tanpa makna, namun penuh akan kehormatan,
Untuk menata dunia yang penuh ketidakadilan,
Merubah agar masa depan lebih berkilauan.

Namun ‘tak hanya sendiri ‘kau berjalan,
Bersama banyak orang dengan berbeda keinginan,
‘Kan ‘kau temui hatimu menolak kala setuju satu-satunya jawaban,
Tidaklah gampang, dan penuh akan pengorbanan,
Terkadang keingingan pribadi harus diikhlaskan,
Bukan, bukanlah kelemahan, namun hati berbekal kekuatan,
Dan di situlah ‘kan ‘kau dapatkan makna kehidupan...

Aku hanya bisa menjawab dengan beberapa patah kata:
Hidup bawakan hal-hal yang sangat berharga,
Semua yang sering kita lewatkan begitu saja,
Karena kita terlalu bertumpu pada pedih dan luka yang terasa…

Bukan, bukan, hidup bukan sahabat semata,
Karena kita dan sahabat, dua hal yang ‘tak sama,
Berjalan sendiri dalam raga yang berbeda,
Namun hidup, ‘tak terlepas dari kita,
Karena tanpa hidup, kita tiada.

Sydney (Ashburner Street), 6 Agustus 2009, 5:05pm

No comments:

Post a Comment