Katakan padaku, apakah definisimu akan orang mulia?
Apakah Mereka yang bersembunyi di balik jas putih,
Berselimutkan aroma obat-obat yang menusuk hidung,
Dan menidurkan jemari Mereka di atas urat nadimu?
Kudengar nyanyian indah bahwa Mereka adalah penyelamat nyawa manusia;
Sebagian dari ilmu Mereka sembuhkan sakit yang tiada tara, katanya.
Namun mengapa rintihan sumbang realita tunjukkan hal yang berbeda?
Kulihat banyak yang tergelatak ‘tak berdaya,
Bahkan ‘tak sedikit yang tragis menemui ajalnya!
Menantikan pertolongan yang ‘tak kunjung tiba…
Tahukah kamu apa yang kulihat?
Banyak dari Mereka yang enggan mengulurkan tangannya,
‘tuk melayani para rakyat jelata yang ‘tak berharga!
Dan tertera harga tinggi ‘tuk membayar jasa ‘kemanusiaan’ Mereka,
Sehingga kesehatan menjadi komoditas eksklusif bagi mereka yang berharta!
Orang mulia… Apakah Mereka yang terduduk di kursi-kursi konstitusi,
Membenamkan kepala di balik tumpukan buku Undang-undang,
Dan tentukan aturan-aturan yang melandasi hidupmu?
Dijunjung tinggi sebagai pendiri sistem keadilan,
Berjuang menegakkan kebenaran dan memberantas kezaliman.
Namun mengapa yang berserakan sampah-sampah kebusukan?
Kulihat banyak yang tidur beralaskan aspal, berselimutkan polusi perkotaan,
Sebagian [besar] dari mereka tersungkur, tertusuk belati kelaparan,
Dan bertanya lah mereka, adakah yang memperjuangkan untuk kami keadilan?
Tahukah engkau apa yang kulihat?
Terbungkam mulut Mereka dengan segepok uang kertas,
‘tuk membisukan penindasan terhadap kalangan bawah yang terampas hak-haknya.
Dan Mereka panjangkan tangan Mereka ke kantong pembangunan masyarakat,
Sehingga pilar-pilar keadilan pun rapuh dan hancur bersatu bersama puing-puing kemanusiaan!
Orang mulia, tetap kucari… apakah Mereka yang terdiam di pojok bangunan Illahi,
Menggenggam untaian bulir-bulir sembari gerakkan bibir tiada henti,
Dan membaca lagu-lagu surgawi di ujung dan pertengahan hari?
Tertunduk kepala kita dan elu-elukan Mereka kaum yang suci,
Perantara antara dunia ini dan dunia nanti yang patut diikuti,
Namun ah, sayang, Mereka ‘tak berikan kedamaian hati yang sejati.
Kulihat banyak manusia mengungsikan diri dan hidup dalam ngeri,
Akibat dari kelompok-kelompok yang menghunus pedang dan belati,
'Tuk membasmi perbedaan pemahaman dan ideologi.
Tahukah engkau apa yang kulilhat?
Tirai demi tirai yang berlapis-lapis tutupi pandangan dan hati Mereka,
Bersibuk diri dalam pengasingan duniawi kala banyak yang membutuhkan pencerahan jiwa.
Dan sering Mereka memalingkan pandangan kepada anak-anak jalang dan wanita tanpa susila,
‘Tak bukakan hati, namun katakan mereka 'kan menjadi bahan bakar api di alam sana.
Ah, siapakah Mereka yang memberi harga kepada nyawa manusia?
Siapakah Mereka yang menerima bayaran untuk menghancurkan keadilan?
Siapakah Mereka yang menakar nilai dan menentukan nasib manusia di alam sana?
Kawan, mengapa yang ada hanyalah gelumbung-gelembung fana,
Berterbangan di dalam dunia yang ‘tak lebih dari bualan belaka?
Beritahulah aku, dapatkah engkau pertemukanku dengan orang mulia?
Sydney (UTS Computer Lab Building 2 Level 6), 2 November 2009 16.21
No comments:
Post a Comment