08 June 2009

++ Beberapa Puisi Picisan ++

Seorang sahabat dahulu menganjurkanku untuk menulis puisi jikalau hati sedang dipenuhi sedih, gundah, gelisah atau segala perasaan lain yang tidak mengenakkan. Berhubung akhir-akhir ini aku dilanda kebimbangan yang menyesakkan dada, akhirnya iseng-iseng aku menulis puisi. Berhubung aku hanyalah mahasiswa yang jurusannya tidak berbau sastra sama sekali, puisi-puisi di bawah ini jangan ditertawakan dan dihina secara ekstrim. Aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata *lagu Base Jam melatarbelakangi*.

++ Di persimpangan ++

Tertambat raga di persimpangan
Bersua ia, sang kebimbangan
Tersayat jiwa ‘tuk memutuskan
Antara dua yang berlawanan

Satu jalan, berselimut langit biru
Tanpa badai, satu itu aku tahu
Di yang lain, kelabu nan mara bahaya N
amun tetap, kulihat sepercik cahaya

Jauh ke depan aku memandang
Dua pilihan kutimang-timang
Saat sebuah hendak kujelang
Hati sebelah lirih meradang

Andai dapat kupilih semua
Hati ‘takkan diterpa dilemma
Namun takdir telah bertitah
Dengan satu, harus berpisah

Sekarang tiba penentu hidup itu
Selamat tinggal terucap pada satu
Kupilih jalan yang berawan kelabu
Di sana ‘ku yakin mentari menunggu

Kepada hati aku berjanji
Jikalau nanti lara menanti
Saat langkah satu terjagal
‘Takkan pernah aku menyesal

Ke belakang, ‘takkan pernah aku kembali
Masa lalu, satu yang tak aku ratapi
Ke depanlah, aku akan terus berlari D
i sanalah, sang mentari ‘kan kutemui

++ Elegi Hari Ini ++

Aku ingin memutar roda waktu,
dan bersua dengan sang masa lalu
Sekali lagi ingin ‘ku telusuri
Hijaunya hidup yang dulu ‘ku lewati

Rasa hangat masih melekat di dada
Saat ada aku, dia dan mereka
Betapa ingin ‘ku terbuai kembali
Di dalam indah yang t’lah kami lalui

Badai juga menerpa sanubari
Menyesali yang belum kujalani
Ke belakang ingin ‘ku berjalan
‘tuk merengkuh yang t’lah terlewatkan

Ah, betapa hatiku sedih melolong
Yang berlalu ‘tak mungkin lagi kusongsong
Kini menangis aku di persimpangan
Sangat kutakut menuju masa depan

Namun apa guna diri ratapi?
Masa itu takkan pernah kembali
Yang tersisa hanya pahit nan manisnya
Dan abadi ia terpatri di sukma

Jika ‘tak segera ‘ku ambil langkahku
Diri ‘kan menua di lajur sang waktu K
arena ia ‘tak menungguku berpikir
Sendiri ia kan terus deras mengalir

Aku lepas segala dengan mendesah
Masa lalu, ‘kau memang begitu indah
Namun satu ini aku ‘kan serukan
Masa depan akan lebih berkilauan!

No comments:

Post a Comment