Okay, akhirnya aku selesaikan puisi yang telah memakan jiwaku akhir-akhir ini dan terima kasih untuk Rad yang telah *memaksaku* untuk menerbitkan puisi ini hahaha. Jangan tertawakan diriku yang terlalu mendayu-dayu yaaa. Puisi-puisi lainnya bisa dilihat di terbitan
blogku sebelumnya.
++ Syair Rindu ++
Sahabat,
Pesonamu, dulu sering ‘kucemburu
Namun s’lalu, engkaulah inspirasiku
Kudengar bisik lembut sang nostalgia
Kisahkan kita lugu mengejar cinta
Yang s’lalu tersipu dan memerah merona
Kala bercerita tentang sebuah nama
Namun sayang, semua ‘tak lagi sama
Yang dulu satu, kini menjadi dua
Persimpangan waktu t’lah pisahkan kita
Entah di mana engkau kini berada
Betapa rindu aku dengan segala
Hangat pelukmu kala lara menyapa
Nakal godamu tentang aku dan dia
Anggun senyummu yang menawan semua
Sahabat, ‘takkan pernah aku berhenti
Jejakmu akan s’lalu aku cari
Kakanda,
Sejak pertama engkau ucap namaku
Hingga sekarang kusandang nama itu
Indahnya masa kita jelajah bersama
Mencari harta karun yang ‘tak pernah ada
Petak umpet kita mainkan dalam tawa
Di rumah yang dulu terasa oh, luasnya!
Kini kita telah beranjak dewasa,
Keabkraban kita perlahan tiada.
Kehangatan menjadi kedinginan
Satu itu sangat aku sesalkan
Aduh, hati melara merindu kepada
Nyali kita di kala beradu sepeda
Tari kita di bawah guyuran sang hujan
Tugas rumah yang bersama kita kerjakan
Kakanda, bisakah satu aku meminta,
‘Tuk kita kembali seperti dulu kala?
Ayahanda,
Aku tumbuh ‘tak melihat punggungmu
Namun sayang kutujukan padamu
Kecilku melihatmu keras bagai karang
Laksana halilintar suaramu lantang
Namun kala Ayahanda pulang kembali
‘Tak dapat kututupi wajah yang berseri
Ah, begitu kini kita bersama
Jurang usia memisahkan kita
Keangkuhanmu mencoba membentukku
Namun aku ingin bebas ‘tuk melaju
Betapa hati ini merindu,
Kala aku lugu menunggu
Ayahanda berdiri di balik pintu
Dan aku berlari ke dalam pelukmu
Ayahanda, walau jarang terucap kata
Sadarilah, hormatku ‘takkan pernah sirna
Ibunda,
Jika engkau tanya, ‘apakah yang indah?’
Akan kujawab, ‘senyummu yang merekah’
Kenangan lukiskan engkau bagai bidadari
Nyayian merdumu memelukku dalam mimpi
Lembut terasa belai jemarimu
Tenangkan aku yang menangis pilu
Kerasnya hidup t’lah kejam merubahmu
Melemparkanmu ke dalam jurang sendu
Padamkan ambisi yang berkobar dulu
Jadikan ceria kisah masa lalu
Mendesah aku yang begitu merindukan
Senyummu yang ‘tak melukiskan kesedihan
Matamu yang ‘tak menyiratkan kesepian
Langkahmu yang ‘tak meragakan kelelahan
Ibunda, harapku menjadi matahari
Agar hidupmu dapat s’lalu kusinari
Guru,
Bagaimana dapat kuucapkan dalam kata?
Rasa terima kasih yang tiada tara
Dalam senyuman engkau t’lah ajarkan
Makna yang ada dalam hidup yang berharga
Dengan perlahan engkau t’lah bukakan
Mata yang buta akan luasnya dunia
‘Tak lama waktu itu datang menyapa
Di mana aku meninggalkan remaja
Dan aku melangkah menuju dewasa
Menandai akhir perjumpaan kita
Dalam iringan nostalgia aku merindu
Ruang yang menggema oleh berat suaramu
Pengabdiamu yang meresap ke dalam kalbu
Nasehatmu yang menjadi pegangan hidupku
Guru, karenamu suatu saat nanti
‘ku kan menjadi seseorang yang berarti
Yogyakarta,
Lahirku terselimuti langit malammu
Dan kenanganmu ‘kan s’lalu mengiringiku
Bersamamu banyak yang t’lah aku alami
Di kotamu, aku mengenal patah hati
Namun engkau ijinkan aku cinta kembali
Dan engkau buat hidupku lebih berseri
Dari seberang lautan ‘kurindukan
Merdu dan sumbangnya nyanyian jalanan
Cahaya lampu malam yang berkilauan
Kawan-kawan yang t'lah engkau perkenalkan
Yogyakarta,
‘tak begitu panjang waktu kita bersama
Namun benang hidupku yang terajut betapa indahnya!
Yang Terkasih,
S’lama ini apakah dirimu tahu,
Pandanganku tertuju padamu s’lalu?
Awal kesanku, dirimu bagai elang
Membelah langit, sekejap dia terbang
Tak ada waktu, untuk dia 'kupegang
Lalu datang dirimu kala ‘kusendiri
Semenjak itu, aku ‘tak mengenal sang sepi
Dan mulai singgah dirimu di lubuk hati
Bukan, indah yang ‘kurasa bukan hanya mimpi
Kala bersamamu, langit s’lalu berpelangi,
Dan angin hembuskan harum semerbak melati
Namun waktu menyeretku dalam pusarannya
Tak terasa, harus kuucapkan sayonara
Ah, mengapa indah ‘tak bisa berlangsung lama?
Kunyanyikan syair ‘tuk ungkapkan rindu
Pada kisah tertutur dari bibirmu
Sindiranmu terhadap kebodohanku
Sejuknya pagi kala diri sabar menanti
Hangatnya siang kala dirimu menemani
Gerimis hujan yang kuharap ‘takkan berhenti
Ah, kini hati sedih meratap
Dari semua yang t’lah terucap A
da sebuah yang ‘tak terungkap
Yang Terkasih, betapa besar aku harapkan
Tiba saat kita kembali dipertemukan
Dan aku 'kan menjadi lebih dari kenangan
---
Semua Yang 'Kurindu,
Apakah kalian juga merasa
Sesuatu yang menyesakkan dada,
Namun juga membawa bahagia?
Jawabanya 'kan s'lalu aku terka.
No comments:
Post a Comment