04 August 2009

++ Pembuka Bulan Agustus ++

Hanyalah sajak-sajak yang tertulis bulan ini di Sydney yang 'tak kunjung menghangat...

++ Senandungnya ++


Angin malam bisikkan samar suaranya,
Sang biduan di pulau nun jauh di sana,
Senandungkan lagu, curahkan isi hatinya,
Kisahkan cintanya yang bergelimang duka dan lara...

Ah, indah namun sedih yang terdengar oleh telinga
Bait-bait yang terangkai tunjukkan ketabahan hadapi semua,
Namun tetap, bergetar dengan nada sumbang suaranya,
Tandai rasa putus asa dan hausnya akan cahaya...

Aku hanya bisa terdiam tanpa kata
Ah, rasa apa ini yang menusuk dada?
Apa kah 'ku teringat akan pedihnya luka lama?
Entahlah, sakit rasanya, namun tetap 'ku terkesima

Dan menahan tangis 'ku 'tak kuasa,
Wahai biduan yang 'tak nampak oleh mata,
Apakah masih perih dalam dada,
Luka yang dalam tertoreh olehnya?

'Tak berdaya diriku 'tuk melakukan apa-apa,
Hanyalah membisikkan kepada angin malam sebuah nada,
'Tidaklah merdu, namun 'ku berharap cukup 'tuk melipur lara,
Untukmu, biduan yang jauh di sana...

Semoga 'kau dapatkan yang 'kau rindu, cinta
Penuhi hatimu, sehingga 'tak lagi hampa,
Sehingga untukmu langit 'tak lagi senja,
Dan akhirnya 'kau temui dirimu bahagia...

Sydney, 5 Agustus 2009, 14: 05pm


++ Bilik Kedamaian ++

Kutemukan diam bersembunyi,
Oleh mata acuh memandang, hampir terlewati…
Bagian kecil dari bangunan yang angkuh menjulang tinggi
Namun tetap 'tak bergeming, setia ia berdiri
Seakan tersenyum, memanggilku yang berjalan sendiri
Dan perlahan, namun 'tak ragu ‘ku menghampiri

Berderik lirih, seakan merintih dalam sepi
Kala kubuka pintu penghubung dunia kini dan nanti
Nyaris sunyi, 'tak banyak yang mengunjungi
Yang terlihat dapat dihitung oleh jemari:
Mereka yang berbalutkan gaun putih suci
Atau yang lelap terbuai dalam alam mimpi

Namun bilik kecil itu bukanlah tanpa arti
Di sana lah tenang dan damai menyelimuti
Sejenak 'ku dapat memisahkan diri
Dari kebisingan yang memekakkan sanubari
Dan bersenandung, meski hanya dalam hati
'Tuk syukuri semua indah yang t'lah terberi

Di sana jua 'ku menjumpa mereka
Walau berbeda dalam warna dan rupa
Namun berjalan menuju arah yang sama
Saling sejukkan hati sesama
Dengan suara yang lembut tulus menyapa
“Semoga engkau damai dan sejahtera”

Dan diam 'ku terduduk dalam alamku bahagia
Cermati makna yang ada, nikmati semua cinta
Sembari mendengar pelan namun jelas nan merdu suara
Kaum pemimpin, di balik tirai pemisah beradanya
'Tak tergapai oleh tangan, 'tak nampak oleh mata.
Namun alunan surgawi mereka hangat menyentuh jiwa

Ah, semoga hangat ini 'tak kan sirna dari hati
Meski 'ku harus melangkahkan kaki
Beranjak pergi dan sedikit berberat hati kembali
Ke dunia yang terus melaju tiada henti
Dan menemani, sehingga 'tak merasa diriku sepi
Kini, esok dan hari-hari yang tengah menanti…

Sydney, 4 Agustus 23:49

***

Hmmm sembari mengetik-ngetik sajak di atas, aku menemukan beberapa sajak yang tertulis duluuuuu dan belum sempat diterbitkan di blog ini.

++ Untuk Alam ++

Suatu pagi aku berlari
Untuk lepaskan gundah di hati
Walau dingin aku ‘tak peduli

Dan terhenti aku di pesisiran
Disana kurasa ‘kan dapat jawaban
Kepada sang alam aku serukan

Wahai ombak yang ‘tak lelah berdebur,
Dapatkah engkau bantu ‘tuk menggempur
dinding tempat sanubari terkubur?

Wahai karang yang kokoh berdiri
Dapatkah engkau lindungi dari,
badai yang menerpa lubuk hati?

Wahai angin yang berhembus pelan
Dapatkah engkau tiup-sirnakan,
kabut yang kelabungi pikiran?

Wahai burung yang berkicau merdu
Dapatkan engkau nyanyikan aku,
sebuah tembang pelipur rindu?

Wahai pinus yang elegan melambai
Dapatkah hati ini engkau belai,
‘tuk obati lara kasih tak sampai?

Wahai langit yang berselimut biru
Dapatkan engkau gunakan kuasmu,
‘tuk mewarnai hidup yang kelabu?

Wahai laut yang indah berkilauan
Dapatkah cermin airmu pantulkan,
apa yang tersurat di masa depan?

Dalam gelisah aku berdiri
Namun mereka terdiam sunyi
‘Tak berikan jawab yang ‘kunanti

Dan lirih aku tangisi
Diriku yang kini sendiri

Sydney, 12 February 2009

++ The Two Voices ++

Listen to the voice deep within
once said a dear friend of mine
But when two are fighting to win
I know life will not be kind

One voice I hear, a devil’s whisper
He utters words as cold as snow
with his tongue that stabs like a dagger
It makes my heart bleed in sorrow

Into my soul he breathes cold despair
It suffocates me, I’m left with no air
No one loves you, that I often hear
I lament as I feel the end is near

Then I hear a voice of a saviour,
that forever I have longed for
He tells me I am a warrior
whose life is worth fighting for

He praises me when I grow smaller
and give me the love I often lack
He paints my heart with a thousand color
as soon as it is turning black

This I always wonder, who should I listen?
The devil who drowns me in the darkness
or He who lifts me to the highest mountain?
The answer is for me to find within

Today I lost a great battle
The devil trapped me in a world of despair
There I will forever settle
Then again, I don’t think anyone will care

As I begin to fall apart
I hear one singing a song of love
so beautiful it warms my heart
and I feel I can fly high above

I may only hear the song faintly
but I know, he sings it for me
With a smile I can now say
Tomorrow will be a good day

Sydney, 2007 (lupa kapan nulisnya @.@)

No comments:

Post a Comment