Lagi-lagi inspirasi mendatangi. Kali ini karena membaca cerita yang aku tulis ketika aku patah hati (baca: diputusin). Berhubung akhir-akhir ini aku suka menulis sajak, maka cerita itu kuubah strukturnya menjadi sajak. Lumayan sulit, tetapi tercapai akhirnya ^^.
++ Hari ke Enam Belas Daun-Daun Mulai Berguguran ++
Terdengar suara tetesan air mata terakhir langit kelam,
Disambut oleh makhluk-makhluk kecil yang mengerik ceria
Berdansa ikuti lambaian dedaunan yang lembut dibelai angin malam
Dan rembulan tanggalkan selimut awan yang membalutnya
Beberapa orang ‘kan berseru,
“Ah remang rembulan, nyanyian alam yang merdu”
“Buat malam ini begitu syahdu!”
Tapi tidak bagiku, yang menanti, jemu
Tersentakku dari alam mimpi
Saat terpecah malam yang sunyi
Oleh jam yang berdentang kencang sepuluh kali,
Empat puluh lima, adalah hitungan dentang semenjak aku menanti
Bergetar dan menyala benda kecil di genggamanku,
Mainkan alunan ‘Lonceng Kecil’ yang lama t’lah kutunggu
Dan dengan satu ‘klik’, kudengar sebuah suara
Suara dari pulau nun jauh di sana
Perbincangan hati berlangsung sekejap saja
Akhiri penantianku yang begitu menyiksa
Mengiringinya, rasa yang menyesakkan dada
Dan hati yang tertorehkan oleh luka
Aku tahu ini ‘kan terjadi;
Aku t’lah mempersiapkan diri
Segala yang terucap dari seorang laki-laki
Kan membawa tragedi yang ditutup-tutupi
Dia sempaikan kenyataan berbungkuskan gulali
Agar nampak lebih manis dipandang mata hati
Namun walau begitu indah ia tersaji
Kenyataan tetap lah pahit tak terperi
Ah, apakah ini yang sedang kurasa?
Amarah yang membara?
Bukan, bukan dia…
Tetapi hampa.
Terasa belati menikam dada
Merobek-robek jantung di dalamnya
Membuatku tak berdaya
Mati rasa.
Dalam gelap aku mencari pemantik jiwa
Namun ke mana? Karena aku dan mereka yang tercinta,
Jauhkan terpisahkan oleh sang samudera
Dan hembusan angin pagi ‘kan buai tidur mereka
Kucoba keras ‘tuk yakinkan diri
Badai ini sendiri dapat kuhadapi!
Namun kala hati kecil meronta-ronta
Kusadar ku hanyalah gadis kecil yang tak berdaya
Kenangan berhembus bagai angin malam
Membelaiku mesra, namun berhembus dingin
Mengingatkanku ‘kan semua masa indah yang kujalani
Yang kini t’lah menjadi monumen masa lampau.
Ah , dua puluh satu musim panas aku lalui
Lewati masa muda yang berbalutkan cinta dan mimpi
Dan kini kurasakan ‘tuk pertama kali
Pedihnya kedewasaan bernama patah hati
Betapa anehnya,
Walau langit tak lagi bermuram durja,
Dan rembulan begitu bercahaya, bersahaja
Mengapa tak bisa kuhentikan air mata?
Ah, sangat menyakitkan!
Namun tak ‘kan aku ucapkan penyesalan
Walau akhir membawa kepedihan,
Tetap saja, awal memberikan keindahan yang takkan terlupakan
Di pembaringanku kucari kenyamanan
Mata yang lelah oleh tangis kupejamkan
Dan sebuah janji bisu aku ucapkan
Rasa antara aku dan dia ‘kan kulepaskan
Selamat malam, selamat malam.
Waktu ‘kan sembuhkan luka tertoreh di hati
Esok, mentari ‘kan menyambut pagi
Tentunya kisah baru ‘kan menanti
Yogyakarta, 16 Maret 2008 (original); 8 Juni 2009 6:48 pm (revisi)
No comments:
Post a Comment