Wahai engkau lelaki,
Diturunkan aku wanita ‘tuk membuatmu sempurna,
Dan sebagai pemimpinku engkau tercipta.
Walau ‘tak sama, kita ‘kan selalu setara
Kala kita menghatur sembah di hadapanNya,
Tercipta dua, karena satu tiada berarti;
Engkau, dan aku, tak ‘kan bisa berdiri sendiri
Tanpa satu yang mengisi lubang di hati
Marilah kita saling mendampingi
Wahai lelaki,
Engkau pagar yang tegar melindungiku
Tetapi janganlah pernah engkau ragu,
‘Tuk menjadikanku penopang hidupmu
Kala gemuruh badai menggempur kalbu
Jika terlukis di wajahku sejuta lara
janganlah engkau terdiam seribu bahasa;
Bukalah hati, jadilah sebuah telaga
Yang tak lelah menumpang tumpahan air mata
Wahai lelaki,
Sinarilah aku dengan hangatnya cinta
Bak surya yang s’lalu menyinari, setia
Karenanya walau kegelapan menyapa,
Rembulan ‘kan s’lalu indah nan bercahaya.
Buatlah aku begitu menyayangimu
Sehingga untukmu bisa aku lakukan satu:
Aku ingin bisa tulus menangis untukmu,
Dan bukan karenamu.
Wahai lelaki,
Jika bagai karang aku angkuh berdiri
Jadilah ombak, yang setia menemani
Tiada pernah tinggalkan karang sendiri
Walau senja dan fajar silih berganti
Jadilah ombak yang terkadang menderu-deru
Terkadang pula mendesis bisikkan syair merdu
Perlahan karang pun ‘kan terkikis jadi debu,
Menyatu menjadi bagian dari dirimu
Wahai lelaki,
Janganlah engkau mengekangku,
Dalam sangkar ideologimu;
Izinkanlah aku mengepakkan sayapku,
dan terbang membelah langit biru.
Di atas, aku ‘kan melihat indahnya dunia,
dan nyanyikan lagu syukur kepadaNya,
t’lah menganugrahkanku sebuah cinta,
‘Tuk lelaki yang ah, begitu sempurna!
(Juni 7 2009, 2:11 AM)
No comments:
Post a Comment